
Sejak kejadian malam tadi, baik Tya dan Silvi sama-sama menghindari ku, mereka terlihat bahagia, meski ada sedikit goresan dimasing-masing hati mereka.
malam telah berganti pagi, bulan mulai menghilang dan mentari menampakkan diri, udara yang segar dan tubuh terasa bugar.
Hari ini kita pergi ke Bukit Becici, masih di daerah Yogyakarta, namun sedikit lebih menjauhi kota.
Setelah perjalanan 1 jam dari penginapan, akhirnya kita sampai di tujuan.
"ah, segar sekali udaranya" ujar Silvi
"Iya pemandangannya begitu hijau memanjakan mata" ujar Tya.
kami berjalan menuju puncak bersama, Silvi berjalan sedikit lambat, tubuhnya memang sangatlah lemah, namun dia tak menyerah. aku mencoba menolong nya, namun dia menolak dan lebih meminta bantuan pada Tya. akhirnya kami berjalan perlahan, sembari menikmati mentari yang memeluk erat tubuh kami.
"Ayo semangat" ujar ku
"Santai saja, kita nikmati pemandangannya" ujar Tya sedikit kesal
"Ura, kau selalu saja seperti itu, tak sabar mencapai puncak" Silvi tersenyum manis padaku
"Iya, iya santai kok" ujar ku tersenyum
sembari berjalan, kami terus mengobrol kan banyak hal.
"berwisata bersama teman memang selalu menyenangkan" ujar ku
"Tentu saja menyenangkan, itu karena kehadiranku" ujar Tya menggoda
"Iya, terimakasih Tya, Ura. telah mengajak ku"
aku dan Tya hanya tertawa terkekeh-kekeh.
"Tentu saja aku pasti mengajak mu" ujar Tya
"Setelah lama berpisah, bertemu dan berwisata adalah pilihan yang bagus kan?" ucapku mendekat pada mereka berdua
__ADS_1
"Tentu saja, aku ingin kita semua bersahabat" ujar Silvi memeluk ku dan Tya.
Tak terasa puncak pun sudah didepan mata, memang tidak lama paling 20-30 menit kita berjalan, namanya juga cuma perbukitan.
"Lihat, puncak didepan mata" ujar ku menunjukkannya.
"Syukurlah, aku sudah lelah" ujar Silvi.
"Ayo semangat sedikit lagi" ujar Tya
kami terus berjalan, terlihat ada bunga-bunga bermekaran, sebagian sudah mulai layu.
"Ura, kau lihat di sana ada 2 jenis bunga" ujar Silvi
"Iya, namun aku tak tau apa nama jenis bunga yang sedang mekar tersebut" ucap ku
"ada pula jenis yang mulai layu" ujar Tya
"Jika kau bisa membawanya mencapai puncak, bunga mana yang akan kau pilih? bunga pertama yang mekar atau bunga terakhir yang layu?" ujar Silvi tersenyum begitu manis ke arahku, bahkan mentari menyorot senyuman itu.
"Keduanya indah, namun aku rasa aku tidak akan mengambil dan membawanya, melihatnya mekar sungguh cantik, namun bunga manapun yang ku petik, pasti akan segera layu"
"kalau begitu di antara kami, siapa yang akan kamu bawa mencapai puncak itu" ucap Tya membuat suasana menjadi hening.
namun aku mencoba mencairkan suasana.
"aku akan membawa kalian berdua mencapai puncak bersamaan"
"bagaimana dengan puncak dalam hidupmu ? siapa yang akan kau pilih untuk menemani?" ujar Tya
Silvi menatapku, dia hanya menggelengkan kepalanya, sebagai tanda aku tak perlu menjawabnya.
"Aku tidak tau, yang pasti aku akan menerima dia yang menerimaku" ujar ku
sesampainya di puncak, kami beristirahat dan duduk dibawah pepohonan, kita bertiga melingkari sebuah pohon besar dan saling memunggungi.
__ADS_1
"Silvi, tolong katakan perasaanmu pada Nata aku ingin mendengarnya, aku tak sanggup melihatnya namun aku ingin sekali mendengarnya"
"Apa maksudmu Tya"
"Katakan sajalah, jangan menutupi nya, kita bersahabat kan? jadi jangan ada yang ditutupi lagi"
"Aku tidak mengerti Tya"
"Baiklah, jika kamu tidak ingin mengatakan nya duluan, biar aku saja yang memulai. Aku sangat mencintai Nata, sungguh sangat mencintai nya"
"Tya sudah cukup hentikan" ujar ku
"Namun aku juga selalu tak bisa menggapai nya, aku selalu iri padamu Silvi, kau selalu bertahta dihatinya, seberapa keras aku mencoba, semakin sakit pula hati ini, meski sebentar aku pernah memiliki hatinya, meski tidak sepenuhnya aku bahagia, rasanya sekarang aku harus mengembalikan nya pada pemilik aslinya"
"aku juga sangat mencintai Ura, entah kenapa dari pertama melihatnya, dipeluk olehnya semua terasa menyenangkan, beberapa rangkaian ingatanku pun kembali, aku sedikit mengingatmu yang selalu aku anggap saingan terberat ku mendapatkan Ura, tapi aku tak berfikir kau akan menyerah semudah ini, jika kau mencintai nya, cobalah rebut dia dariku"
aku berdiri dan memandangi mereka berdua yang sama-sama sedang menangis
"Ternyata dicintai juga terasa sulit" ujar ku
mereka berdua menatapku, berlari memelukku.
"Aku tidak ingin berbagi hati, namun aku tak bisa kehilangan Silvi" ujar Tya
"kalau begitu, apa sebaiknya aku yang pergi dari kehidupan kalian berdua?" ujarku
"kamu ingin menyakiti kita berdua?" ujar Silvi.
"ya sudah janganlah terus menangis, kalian jelek kalau menangis"
aku lepaskan jam tangan couple ku, ku berikan itu pada Silvi.
"ini tanda agar kau dan Tya akan selalu bersahabat, apapun yang terjadi, tak apa-apa kan Tya?"
"Tentu saja, Terimakasih"
__ADS_1