Amnesia

Amnesia
Penolakan jiwa yang berdosa


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, aku bersiap menemui Tya, Mentari bersinar begitu hangat, dan Silvi datang menemani ku.


Silvi bermaksud menemani, bukan hanya sekedar menemani, dia sedang melindungi hatinya dari ketidakpercayaan dan kecemburuan, menemaniku kali ini adalah sebuah pertahanan baginya dari seorang yang dia anggap rival terbesarnya.


Kita berdua berjalan bersama ke rumah Tya, namun diperjalanan, Dimas sudah menunggu kita, dia begitu gelisah dan berkeringat, sepertinya dia mengetahui sesuatu yang tidak aku tahu.


"Kalian yakin mau menemui Tya?" ujar dimas sembari memalingkan wajahnya.


"Tentu saja, aku sudah lama tidak bertemu dengannya, dia juga memutuskan untuk bersahabat denganku"


"Tapi, aku pikir lebih baik kau tidak melihatnya sekarang, dia tidak dalam kondisi baik" Dimas seolah menahan ku dan melarang ku bertemu dengan Tya


namun aku pikir itu hanya kecemburuan nya saja. sehingga dengan entengnya aku mengatakan.


"Tenang saja, aku tidak akan merebutnya darimu, dia pasti berbahagia bersamamu"

__ADS_1


namun, Dimas mengarahkan pukulannya ke wajahku, tepat d rahang ku, bibirku sobek dan darahnya mengucur segar, aku pun sedikit kehilangan keseimbangan.


"Lebih baik kau lihat sendiri, dia begitu menderita, dia menunggumu setiap harinya dan baru kali ini kau datang, setelah 3 bulan dia kesakitan" ujar Dimas.


"Apa yang kau katakan? aku tidak mengerti dengan ucapan mu"


"kalian berdua telah membunuh nya, harapannya telah kalian hancurkan, bahagianya telah kau rampas, yang tersisa kali ini tinggal jasadnya saja, akal pikirnya pun telah hilang, karena dia menanggung beban yang begitu berat"


"apa yang kau katakan?" wajahku bengong, sedangkan Silvi menangis begitu keras, air matanya jatuh dan pecah di sana.


mendengar ucapannya itu, aku berlari menuju rumah Tya, aku benar-benar meninggalkan Silvi, air mataku turun, ketakutan mulai datang, rasanya aku sedang menjadi iblis selama ini.


tiba didepan rumahnya, ku ketok pintunya, di bukakanlah pintu oleh kedua orang tuanya, dalam tangis mereka memelukku.


"Nak, tolong Tya, tolong anakku" ujar ibunya.

__ADS_1


"Setiap hari dia hanya menyebutkan namamu, dan mengigau kan dirimu, hanya kamu yang bisa menolongnya, aku mohon" ujar ayahnya yang memelukku


namun aku hanya terdiam, biarkan air mata ini menjelaskan kebodohan ku selama ini, wanita yang lembut selalu menemaniku kini sedang dalam penderitaan yang panjang, dalam suasana yang hitam lagi gelap.


diantarnya aku ke depan kamarnya, ku ketok kamar itu, tak sanggup aku membukanya, air mataku terus saja berjatuhan, gemetar badanku saat ini. begitu berat kah dosa yang aku perbuat padanya, sehingga untuk melangkah saja segini beratnya.


"Tya, ini aku Nata, boleh kah aku masuk kedalam?"


kamarnya tidak terkunci, kamarnya benar-benar gelap, tak ada sedikitpun cahaya yang menemani. aku ingin membukanya namun aku tak mampu.


ibu dan ayahnya menatapku penuh harap, apakah mereka tidak tau, akulah yang menyebabkan semua ini, aku yang membuat dia jatuh di lubang yang gelap, akulah yang membuatnya sakit, aku lah yang membuatnya menderita


pintu itu kemudian sedikit demi sedikit aku buka, air mata terus saja berjatuhan, jiwaku menolak masuk, seperti ada pengekangan dari jiwa yang berdosa untuk melihat dosa nya.


saat aku masuk kedalam, terlihat Tya yang sudah mulai kurus tergeletak di kasur kamarnya, aku mendekatinya dan tiap langkahnya terasa makin berat.

__ADS_1


dan saat aku disampingnya dia membalikan badannya dan menatap ku.


__ADS_2