Amnesia

Amnesia
Dua wanita yang jatuh cinta: Bahagia dan Air Mata


__ADS_3

Cinta ibarat pedang, dapat melindungi dapat pula menyakiti. omong kosong jika cinta dapat bertahan tanpa memiliki. karena kesempurnaan nya adalah saling menyayangi, maka cinta haruslah berbalas.


Cinta yang tak terbalas adalah petaka, kutukan yang sangat menyakitkan, kau tidak akan mudah lepas dari jeratannya, diborgol rantai kenangan yang menyiksa.


aku tau, semenjak dia menerima perang, semenjak itu pula dia telah kalah. bukan karena tak melawan, tapi karena telah mempersiapkan diri untuk menerima kekalahan.


Cinta yang bermekaran, berbunga dan berduri. siapapun yang mendekat pada cinta yang salah atau tak terbalas akan menerima sakitnya duri itu. sementara lainnya menikmati wangi semerbak bunganya.


seperti itulah Tya, yang masih saja mencoba mendekat padaku, padahal dia mengerti hati ini sudah lama di ambil Silvi. tapi dia malah memberikan hatinya untukku. aku juga bersalah, karena berbahagia atas perhatian ditengah kesepian yang melanda, dalam noda yang hitam, cinta Tya bersemi untukku, namun dalam hatiku, Bunga Silvi mekar dengan sangat indah.


Aku merasa bersalah, karena menerima pengharapan dan perasaan Tya, menjadikannya seolah cinta, untuk menemani hati yang kesepian.


ditengah pelukan, di kota kenangan, Tya menangis di kejauhan, dia membiarkan kita berdua agar dia menikmati kesakitan nya. air matanya mengalir deras, menetes lah setiap kesakitan dan penderitaan, baginya kota ini begitu menyakiti. karena dia melepaskan belenggu yang seharusnya dia kunci.


Sementara bagiku dan Silvi yang sedang berpelukan, bunga jatuh dan bermekaran, kehangatan yang membuka firdaus, dalam kesucian tumbuh begitu tajam dan semerbak.


hidup adalah pilihan, takdir adalah kejadian, rahasia akan tersimpan, lalu cinta akan dirayakan. perang ini telah aku menangkan, hatinya telah aku tawan, biarkan dia rasakan dicambuk sejuta kasih sayang dan mulai disiksa kerinduan.


dari kejauhan aku melihat Tya pergi, dia menangis, namun aku membiarkannya, biarkan dia menikmati kesedihannya, menerima penderitaannya dan bersahabat dengan keadaan, sehingga hatinya akan terluka, hancur dan segera dia menyusun kembali kepingan hatinya.


"Ura, apakah ini tidak menjadi pengkhianatan untuk Tya?"


"Aku pikir tidak, dia mengetahui nya, dia memberikan kesempatan kita untuk bersama, bukankah dia yang membiarkan kita berjalan berduaan tanpa nya?"


"Tapi, aku mengerti betapa besar rasa cintanya untukmu, begitu ikhlas perhatiannya, aku takut dia terluka"


"Dia memanglah seseorang yang seperti itu, dia memang sudah siap terluka, sebaiknya nanti kau temani saja dia, hibur hatinya"

__ADS_1


"aku tidak merebut mu dari Tya kan?"


"Tentu tidak, karena aku memang milikmu, kita memang tidak pernah berpisah"


"Aku takut, sepertinya aku tak bisa menatap wajah Tya, aku merasa bersalah"


"Sudahlah, bukankah kalian memang akan bersaing, sudah malam, ayo pulang sudah waktunya istirahat"


di perjalanan pulang menuju penginapan, bulan bersinar terang, seakan menyorot kami yang sedang berjalan, lepas sudah belenggu kerinduan, rasanya hanya kami yang sedang bermesraan.


sesampainya di penginapan, aku sendirian di kamarku, sedang Tya satu kamar dengan Silvi.


Kamar yang besar dengan kasur berwarna putih, disebelah kiri ada jendela yang sangat besar. nuansa klasik terasa kental di kamar ini, aku buka jendela hingga terlihat pemandangan kota Yogyakarta dari ketinggian.


sementara itu seseorang mengetuk pintuku, membukanya dan berjalan mendekati ku, memelukku dari belakang.


Tya memelukku begitu erat, air matanya membasahi punggungku, hatinya pasti sedang hancur malam ini, semoga dengan ini hatinya menjadi tenang


"Tya, maafkan aku yang selalu menyakiti mu"


"Tak apa, aku senang, ini lebih baik dibanding kau abaikan"


aku berbalik dan juga memeluknya, Tya dia masih menangis, erat peluknya menandakan ketidakrelaan nya melepaskan ku


"Hei, sudah jangan menangis terus, kamu jelek kalau sedang menangis"


"aku cantik pun tak akan bisa menggeser Silvi dari hatimu"

__ADS_1


ku usap-usap kepalanya, dia menatap padaku.


"bisakah kau tetap mencintai ku?, meski hanya sedikit saja, meski hanya sebentar"


"Selama ini, selama kita bersama aku benar-benar jatuh cinta padamu, hanya saja Silvi tak pernah turun dari singgasana hatiku"


"Terimakasih, atas waktunya. tapi aku tegaskan, aku takkan menyerah begitu saja"


"Berusahalah, jika kau sudah puas menyerah lah, carilah lelaki yang jauh lebih baik dariku"


Tya mendorongku ke kasur, dia menaiki tubuhku dan mencium ku.


"kau memintaku melakukan hal yang tak mungkin"


aku mengangkat nya, melepas kan pelukan dan ciumannya.


"pasti, kau akan temukan yang bisa menjaga hatimu"


sementara itu, Silvi mengetuk pintuku


"Ura kau didalam?"


Silvi melangkah masuk, dan dia sama sekali tidak terkejut dengan keberadaan Tya di kamarku. dia hanya mendekat dan memeluk Tya.


"Maafkan aku" ujar Silvi memeluk Tya.


lalu mereka menangis bersama

__ADS_1


__ADS_2