
Cinta dan Hasrat, keduanya memiliki gambaran yang sama, hasrat selalu berlandaskan nafsu sedang cinta berlandaskan kasih. keduanya memiliki perbedaan yang samar, namun hasrat lebih menuntut sedang cinta terbiasa merelakan
Mentari pagi begitu cerah, menghangatkan setiap hati yang mengalami kesepian. cahayanya menembus tulang, memeluk jiwa.
Hari ini adalah perang, bagi mereka yang sedang berjuang.
Suara dari kereta yang lalu lalang, terdengar pula tawa dari keluarga yang datang, isak tangis untuk mereka yang ditinggalkan, namun semua harus berjalan.
Stasiun, tempat orang datang dengan kebahagiaan, pergi dengan harapan. Tempat ini menjadi saksi pertemuan, sebuah keberangkatan, yang akan menjadi perjalanan panjang.
"Nata kau sudah sampai duluan ternyata" ucap Tya
"aku tak bisa tidur tadi malam, jadi aku datang lebih cepat, rasanya sudah tidak sabar"
"bagaimana persiapan mu? kondisi badan mu fit kan ?"
"tentu saja, aku sangat sehat dan bersemangat, Silvi belum datang kah?"
"sepertinya belum, aku coba hubungi dulu sebentar"
saat aku coba menghubunginya, Silvi turun dari mobil yang mengantarnya.
"Tya, Ura, selamat pagi, maaf aku sedikit terlambat" Silvi melambaikan tangannya
__ADS_1
"Itu Silvi, akhirnya dia datang"
Silvi berlari dan memeluk Tya, sementara Tya terlihat kaget dipeluk Silvi.
"Ura, Tya, aku merindukan kalian"
"sebentar, kok cuma Tya yang dipeluk, aku engga?" ujarku menggoda.
kemudian kami tertawa bersama.
hari-hari yang damai sungguh aku rindukan, kali ini aku bisa menikmati kedamaian ini.
Suara kereta api datang, tanda awal sebuah perjalanan, melaju seperti harapan, dan berhenti sesekali pada kenangan, sampai waktunya turun di tempat tujuan.
"Tya, Silvi, ayo berangkat"
sesampainya di gerbong kereta, kita duduk bersama. Silvi duduk dengan Tya sedangkan aku duduk sendiri. mereka terlihat akrab sekali, pantas jika mereka menjadi kakak adik, tidak seperti orang yang sedang bersaing.
mereka mengobrol, tanpa mempedulikan ku, asik sekali sepertinya, melihat mereka seperti itu saja puas rasanya.
Sementara itu melalui jendela gerbong, aku melihat pemandangan. sawah yang terbentang luas, begitu memanjakan mata.
mungkin hanya 1 jam mereka terlihat asik mengobrol, setelah itu mereka berdua tertidur. lucu sekali. aku ambil foto mereka sebagai kenang-kenangan.
__ADS_1
"Stasiun Yogyakarta" begitu ucap masinis menandakan kami sudah sampai di tujuan.
Yogyakarta kota pelajar, berjuta orang datang kesini, dengan tujuan yang beragam, kebanyakan datang untuk wisata dan belajar, ada pula yang datang untuk bekerja.
Aroma udara nya saja berbeda, adat dan budaya sangat dijunjung tinggi disini, begitu pula sopan santun, Yogyakarta berhati nyaman, slogan yang sangat cocok dengan keadaan ini.
"Akhirnya kita sampai juga di Yogyakarta"
"Wah ramainya, kalian jangan jauh-jauh, aku takut tersesat" ujar Silvi
"Tenang saja, aku memegang mu"
Yogyakarta bukan hanya sebuah kota, tapi Yogyakarta adalah sebuah kisah, dimana cerita akan kamu lukis disini, menyajikan kenangan sehingga kau terjebak, ingin datang lagi dan lagi.
sesampainya di penginapan, Tya begitu terlihat lelah sekali, sementara Silvi begitu bersemangat, mereka berdua selalu bertolak belakang.
"ah badanku rasanya remuk banget" ujar Tya, dia menaiki kasur dan tiduran.
"sama, tapi kita tak boleh cuma tidur, mumpung baru jam 7 malam, ayo pergi keluar. kita jalan-jalan"
"Ayo Tya, ayo pergi, kita ke Malioboro"
Tya sepertinya kecapean, dia memilih istirahat terlebih dahulu, matanya menjadi sayu, dia terlihat sangat mengantuk
__ADS_1
"Sudah kalian pergi berdua dulu saja, nanti aku menyusul"
Meski itu diucapkan olehnya, namun aku mengerti. dia belajar merelakan meski api cemburunya mulai memanas.