
Dengan menggunakan setelan jas hitam, kemeja putih dan dasi berwarna biru, rasa khawatir dan jantung yang berdetak, aku mencoba melangkah dengan percaya diri. Rambut yang aku sisir rapi, dan parfum yang harum mewangi, ditemani bunda aku datang ke pernikahanku.
Kedatanganku disambut meriah, berbagai upacara adat dipertontonkan, sementara aku berjalan melangkah menuju tempat ijab yang telah ditentukan.
Ayahnya menggenggam tanganku dengan kuat, aku tatap wajahnya yang penuh kekhawatiran, aku mengerti pasti berat baginya melepaskan anaknya untukku, apalagi setelah ijab ini, akulah yang akan bersama Silvi, sebagai suaminya.
"Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim,
mari kita mulai acara ijab kabul ini, semoga ridho dan kasih sayang Allah menyertai acara ini" ujar pak Ustad yang akan menikahkan kami.
Kemudian ayahnya sembari menggenggam tanganku mengucapkan ijab kabul.
"Saya nikahkan dan kawinkan anak saya yang bernama Silvi Novianti binti Rahmad Darmawan, dengan engkau, dengan maskawin emas seberat 70 gram dibayar tunai"
Jantungku berdetak dengan sangat kencang, dengan lancar aku ucapkan kabul ku
"Saya terima nikah dan kawinnya Silvi Novianti binti Rahmad Darmawan dengan maskawin tersebut tunai"
__ADS_1
"Sah?" ujar penghulu
"Sah" ujar semua saksi dan tamu pernikahan.
Kemudian setelah itu, Silvi datang dengan baju pengantin nya mendekat padaku, duduk di sampingku dan mencium tanganku. kemudian aku pegang kepala nya, aku doakan dia, semoga menjadi istri dan ibu yang baik untuk keluarga ini.
Selepas acara ijab tersebut, aku dan Silvi berjalan ke pelaminan, rasanya aku seperti raja di hari ini dan Silvi akan selalu menjadi ratuku selamanya, Banyak sekali orang yang datang, namun di tempat duduk itu Silvi berurai air mata.
"Sayangku kenapa kamu menangis? apakah kamu bersedih? "
Sembari mencoba menahan air matanya, dia berkata
"Sudah, jangan menangis seperti itu, ini bukan mimpi, dan aku sekarang adalah suamimu, mari kita bekerjasama membuat sebuah keluarga, yang menyenangkan dan berbahagia"
Dia menatapku dan mulai tersenyum.
Satu persatu undangan datang, dan menyalami kami berdua, hari yang sangat sibuk, melelahkan dan menyenangkan, hari ini diisi penuh dengan senyuman.
__ADS_1
namun saat sore menjelang, aku dan Silvi merasa heran, kenapa Tya belum juga datang, apakah dia masih merasa tidak terima atau kah masih ada beban yang dia tanggung sehingga memberatkan langkah nya untuk datang kemari.
Namun tepat diakhir acara, ibu nya Tya datang, ditemani dimas, mereka tersenyum dan menyalami kami, ada sedikit raut wajah sedih dan kecewa jika aku terjemahkan dari tatapan matanya.
Kemudian, ibunya Tya memberikan sepucuk surat, kepada ku.
"Ini surat dari Tya, dia tidak bisa datang kemari, karena alasan kesehatan, tapi Tya berpesan, surat ini boleh kalian baca, hari ke tujuh setelah pernikahan kalian"
kemudian Dimas melanjutkan
"Tya sangat berbahagia, atas pernikahan ini, sayang sekali dia tidak bisa datang padahal aku yakin, dia sangat menginginkan untuk datang kemari"
Surat itu kemudian aku simpan, tak lama Dimas dan Ibunya Tya pamit, mereka memberikan doa yang sangat banyak sekali.
"Silvi, aku titip surat ini padamu, biar nanti kita baca sesuai keinginan Tya, atau Tujuh hari dari hari ini"
"Iya, sayang sekali dia tidak datang, padahal aku ingin sekali memeluknya dan berterimakasih padanya"
__ADS_1
"Nanti setelah kita baca surat ini mari kita temui Tya"
"Tentu saja Ura, Suamiku"