
Sabtu sore, aku mengantar ibuku check up ke RS Amanda, setiap 6 bulan ibuku rutin check up untuk mengetahui keadaan kesehatannya. namun, sepulangnya dari RS, di pojok taman RS, ada yang sedang menangis. aku lihat sepertinya itu Silvi.
"Nak, sepertinya itu pacarmu, coba kamu ke sana temani dia, ibu biar pulang sendiri saja"
"apa tak apa-apa bu?, kasian kalau ibu sendirian"
"tak apa nak, ibu sedang sehat"
"baik lah bu, hati-hati ya bu"
ibuku pulang dan aku berjalan ke arah Silvi, dia terlihat sangat sedih sekali, aku coba duduk disampingnya dan dia tidak menyadarinya.
"Hallo"
"Ura?" Silvi mengelap air matanya, dia kelihatan sangat sedih dan frustasi
"Ya, ini aku, kamu kenapa?" tanyaku
"engga apa-apa kok" dia mencoba tersenyum meski air matanya tidak berhenti mengalir.
__ADS_1
"Sini, kalau mau menangis, menangis sajalah" aku coba memeluknya
"besok kalau kamu ada waktu ayo kita kencan" ucapku sambil mengusap punggungnya.
"kalau besok aku tak bisa, aku ada janji dengan seseorang dan ini sangat penting"
"ya sudah, tadinya aku ingin kau mengantarku membeli sesuatu"
"maafkan aku Ura"
"Ya santai saja"
minggu pagi, aku pergi ke kota, mencari hadiah untuk ibuku yang sebentar lagi ulang tahun, sebenarnya jika saja Silvi ada disini, aku bisa meminta sarannya, apa yang harus aku beli. namun aku benar-benar tak tau apa yang harus aku beli
kota ini sangat luas dan berjalan tanpanya rasanya hampa, baru saja kemarin bertemu aku sudah merindukannya saja.
akhirnya, aku putuskan membelikan ibuku bros, bros yang cantik seperti ibuku. waktu selesai belanja, aku melihat Silvi, ternyata dia juga ada di pusat perbelanjaan aku coba menyapanya, namun dia sepertinya sedang asik mengobrol, ternyata dia sedang berdua dengan lelaki yang tidak aku kenal sebelumnya. aku sebenarnya cemburu, tapi mungkin itu hanya rekanan atau teman kerja Silvi, maklum kan artis banyak kenalannya, aku juga sudah mempercayai Silvi. tak mungkin pula dia mengkhianati ku.
esoknya, aku datang lagi ke RS untuk mengambil hasil cek up ibuku, aku bertemu dengannya lagi, sepertinya lelaki yang berjalan dengan Silvi itu seorang dokter.
__ADS_1
Terlihat dia sedang berbincang mesra dengan seseorang, sepertinya wanita berbaju putih.
Selesai mengambil check up, aku langsung bersiap pulang tapi tiba-tiba
"Ura, tebak ini siapa" seorang wanita menutup mataku
"aku tau, kamu pacar ku kan" jawabku, karena yang memanggil ku Ura hanya dia
"Ye, Ura hebat bisa mengetahui ku" dia tersenyum riang.
Silvi melepaskan tangannya dari wajahku, namun aku kaget, wanita yang berbaju putih tadi ternyata Silvi, ada apa dia menemui dokter tadi, dan sekarang dia kelihatan sangat semangat sekali.
aku sudah malas untuk bertengkar, jadi aku tak menanyakan apapun kepadanya tentang kejadian kemarin dan tadi. tapi ada yang mengganggu pikiranku, siapa dokter tadi dan apa hubungannya dengan Silvi.
ah sudahlah, besok aku temui saja dia, akan aku tunggu dokter itu disini besok.
aku penasaran, apa dia ada hubungannya dengan apa yang Silvi sembunyikan?
"Ura, sedang apa kamu disini?"
__ADS_1
"aku sedang mengambil hasil check up ibuku, nah kamu lagi ngapain? dari kemarin disini terus?"
"Eng engga kok, kebetulan saja aku lewat sini" jawabnya aku tau dia sedang berbohong dan aku pun tau ada yang sedang dia sembunyikan disini