Amnesia

Amnesia
Amnesia 3


__ADS_3

sesuatu yang terpisahkan kembali dipertemukan, Tuhan mempunyai rencana yang sama sekali tidak bisa ditebak, Dia datang saat aku mulai mencoba melupakan.


Sudah tiga hari Tya tidak mengangkat telepon ku, setelah dia menangis waktu itu. aku sangat merasa bersalah sekali padanya. namun aku juga berpikir hal ini mungkin terjadi akibat kesibukannya.


Kekhawatiran nya adalah bentuk ketakutan, dia menghilang dengan sengaja agar dia dirindukan, aku tau dia mulai mencoba memainkan perasaan, namun biarkanlah saja ini semua tetap berjalan.


dan andai saja Silvi kembali dan mengatakan dia mencintaiku, apa yang harus aku lakukan?, bohong besar jika aku telah membunuh perasaan untuknya, karena berkali ku bunuh, rasa ini tetap bangkit dan abadi.


Hari minggu, di sore hari. aku berjalan di taman, warna langit mulai memerah, angin nya kencang, membuat daun-daun di pepohonan berjatuhan. aku berjalan dalam kebingungan. apa langkah yang perlu aku ambil.


berjalan ditengah kebimbangan, demi mencari sebuah kebenaran, atas apa yang diharapkan, lalu sebenarnya apa yang ingin aku dapatkan, siapa yang aku inginkan.


kemudian aku coba menelepon Tya, menunggu beberapa kali karena tidak di angkat, namun saat itu aku malah bertemu dengan Silvi yang sedang berjalan sendirian.


"Halo Ura"


"Halo Silvi, sedang apa kau disini?"


"Aku sedang mencari mu, aku rasa aku sedikit merindukanmu setelah kemarin bertemu, perasanku sedikit kembali, syukurlah aku menemukanmu disini"


angin meniup rambutnya yang panjang, kemudian terurai.


"mencari ku? untuk apa? tapi aku juga senang bertemu denganmu"


"iya, aku merindukanmu"


dia tersenyum dan menatapku. hancurlah sudah pertahanan yang aku buat, sebelumya aku selalu butuh waktu untuk jatuh cinta, tapi padanya aku hanya butuh satu senyumannya saja, untuk memberikan hatiku seutuhnya.


"apa ada yang ingin kamu bicarakan?" wajahku memerah, rasanya panas, ada sesuatu yang ingin aku lepaskan, yaitu rindu yang tak tertahankan.


"tidak, aku hanya ingin bertemu saja" wajahnya memerah, dia mencoba memalingkan wajahnya dariku

__ADS_1


aku tau betul, dia sedang berbohong, karena tatapan matanya, menunjukan dia sedang ingin dimanja, gerak tubuhnya memperlihatkan bahwa dia sedang perlu untuk di peluk dan semua itu dia sembunyikan, karena dia tidak mengerti kenapa dia merasakannya.


"kalau begitu aku ingin menceritakan sesuatu"


aku sengaja memberikan sebuah penjelasan, tentang masa lalu yang harus dia ingat, tentang rasa yang menyandra dirinya di setiap saat.


"baiklah, aku ingin mendengarkannya" dia menatapku penuh penasaran, sesekali dia memainkan tangannya, tanda kegelisahan.


Silvi kemudian duduk di bangku taman, aku juga duduk di sampingnya.


"jadi, dulu kau adalah kekasihku, wanita pertama yang membuatku jatuh cinta, aku juga tidak mengerti kenapa kau begitu tertarik padaku"


kali ini mulut menjelaskan perasaan, bukan hanya perkataan, karena aku jelaskan padanya sebuah kenangan bukan hanya catatan.


Silvi menyimak dengan serius ucapan ku, sorot matanya mengintimidasi, membuatku akan terus bercerita.


ditemani angin sepoi-sepoi aku melanjutkan nya.


"kau juga yang mengajakku berbicara pertama kali, aku ini dulu adalah seorang yang kesepian dan tak punya teman, jadi kau lah teman pertamaku"


"Dulu kau sering membicarakan langit, kau bilang aku ini langit siang yang biru, sesuatu yang sulit digapai, sedang kau adalah langit malam, megah ditemani bintang"


"aku sepertinya bisa sedikit mengingat hal itu"


"sampai akhirnya kita berpacaran, sebenernya kita juga bertemu saat kecil, dan kau yang mengingatnya"


"wah kita sempat berpacaran?"


"iya tentu saja, hari-hari itu adalah saat yang sangat membahagiakan untukku" aku tersenyum bahagia didepannya


namun saat aku berbicara berdua, Tya datang, dia membawa koper, sepertinya dia baru datang dari bandara dan ingin menemui ku, karena ini jalan menuju kosan ku.

__ADS_1


"Ternyata kau di sini Nata"


Tya melihatku yang sedang berduaan dengan Silvi di bangku taman, Langit yang memerah mulai menjadi gelap, dia hanya menunjuk diriku, aku juga hanya terpaku olehnya.


kedatangan nya disambut dengan kehancuran perasaan, kecurigaan dan leburnya sebuah harapan, air matanya mulai berjalan dan hilanglah sebuah kepercayaan.


Tya kemudian lari, aku yakin dia menangis saat itu, dia berlari sangat kencang, aku pun tak berpikir panjang langsung menyusulnya, meninggalkan Silvi di bangku taman itu.


Tya terjatuh, dan aku berhasil mengejarnya.


dengan emosi juga air mata dia berteriak padaku.


"Jangan mendekat, aku tau seharusnya aku tidak pernah berharap padamu"


"Tunggu dulu, dengarkan dulu penjelasan ku"


Tya kemudian bangkit dan berdiri.


"Sudah lah, aku tau. aku ini tak pernah ada di dalam hatimu"


aku tidak melawannya, membiarkan nya mengeluarkan amarahnya, aku hanya menatap tajam matanya, saat bibirnya melafalkan emosinya, karena aku mengerti dalam sorot mata dan gerak bibirnya, tersimpan sebuah kekhawatiran dan kerinduannya padaku.


"Jangan berbicara seperti itu"


"Aku sangat takut Nata, semenjak kita bersama, aku sudah menyiapkan diri. jika kau bertemu lagi dengan Silvi, aku sudah menyiapkan diri untuk merasa sakit hati, namun aku tidak menyangka rasanya sepedih ini"


"Tidak Tya, aku tidak melakukan apapun, lagian Silvi juga tidak mengingatku"


"iya Silvi memang tidak mengingat mu, tapi perasaanmu padanya tidak berubah kan? rasa yang kau coba bunuh itu kini membunuhmu"


aku memegang erat tangan Tya, hari juga sudah malam, air hujan mulai berjatuhan.

__ADS_1


"Ayo ikut aku, akan aku jelaskan semuanya, dan kamu perlu tau, kamu sangat berarti untukku jadi jangan bicara seperti itu"


aku menariknya ke kosan ku. aku tau dia menolak, tapi aku memaksanya.


__ADS_2