Amnesia

Amnesia
Wanita yang sakit


__ADS_3

Sore hari, bel berbunyi menandakan waktu belajar sudah habis, aku bergegas ingin segera menemuinya, dan menanyakan keadaannya, akibat kejadian tadi, aku sangat merasa bersalah pada Silvi namun aku juga tak mau menyakiti perasaan Tya.


Sesampainya di depan rumah Silvi, aku dipersilahkan masuk dan menunggu, Rumah yang sangat besar, bergaya eropa, ruangan tengah rumahnya mungkin sebesar rumahku. setelah menunggu aku dipersilahkan datang ke kamarnya Silvi.


saat aku buka pintu nya, dokter yang pernah aku temui dia sedang merawat Silvi, sepertinya Silvi sedang tidur, terlihat jelas selang infus dari tangannya. Aku kira kamar nya akan berubah, tetap saja banyak fotoku di sana.


"Temani dia, dia membutuhkan mu"


"Terimakasih dok"


Silvi terbaring lemah, wajahnya pucat sekali, suhu badannya tinggi, dan dia terlihat sangat gelisah. ku pegang tangannya, aku harap bebannya dibagi kepadaku.


Silvi terbangun, dia tersenyum kepadaku, dengan senyuman yang begitu ikhlas, air matanya turun namun membuat hanyut perasaanku. pegangannya erat, sepertinya aku ingin menulis ulang semua kejadian, dalam buku takdir kehidupan, agar aku dipertemukan dengannya lebih cepat. nyatanya dia lah yang menyembuhkan ku dari kesepian namun aku tak busa menyembuhkannya dari pesakitan.


"Ura, tetaplah disini jangan pergi" ucap Silvi dengan lemah


"Ya, aku disini, segeralah sembuh, ada banyak hal yang ingin ku lakukan bersamamu"


saat menunggu nya, ku pandangi wajahnya, dan aku merasa sesuatu yang berbeda, ada rasa yang besar, rasa yang baru aku rasakan setelah mengenalnya, mungkin seperti inilah cinta.

__ADS_1


Cinta adalah kehendak, dan harapan. Cinta tak pernah memilih pada siapa dia menetap, tak pernah tau kapan dia datang. dia seperti cahaya menerangi tempat yang gelap, seperti hujan yang membasahi tanah yang tandus, dan tumbuhlah perhatian kasih sayang dan kebahagiaan, namun jika cinta tak mendapatkan balasan, maka gelap lah yang menelan cahaya, menumbuhkan dusta dan derita, semua akan terasa begitu menyiksa.


tak terasa aku terlelap, disampingnya.


"Ura, sayang bangun"


Mataku terbuka, terlihat jelas wajahnya tepat didepan wajahku, dia tersenyum genit.


"Ura nakal, aku sedang sakit kau malah tidur bersamaku"


aku hanya tersenyum, matanya yang bagai lembayung membuat kehilangan susunan kata-kataku. senyumnya adalah pengharapan atas lepasnya penderitaan. oh sungguh bahagia, atas cinta yang membuat mungkin hal-hal yang mustahil. lalu lembut tangannya, mengusapkan kebahagiaan dan cerita bahwa aku bahagia, berada dijalan yang sama denganmu.


"Iya segeralah sehat kekasihku"


aku kemudian bangun, dan bersiap pulang, waktu sudah menunjukan jam 8 malam. sementara Silvi kembali tertidur, semoga dia lekas sembuh.


Aku melangkah keluar dari rumahnya, diperjalanan, aku kembali bertemu Tya, dia datang menghampiri ku, dia tersenyum namun aku tau, senyuman yang dia berikan berisi derita dan rasa sakit, dia selalu memaksakan diri, padahal jika terasa berat menangis adalah jalan yang paling tepat, bukan karena lemah, justru orang berdamai dengan perasaan nya adalah orang yang kuat.


"Aku cemburu" ucap Tya

__ADS_1


"Kenapa harus cemburu?, belajarlah menerimanya"


"Aku cemburu karena aku memang cemburu, aku mencintaimu karena memang aku jatuh cinta"


"kau harus mengerti, aku selalu bisa menemani mu sebagai teman, namun tak mungkin menjadi milikmu kini"


"aku akan bersabar menunggu, bukan berarti aku berharap kau dan dia segera selesai, sejujurnya aku tak siap untuk jatuh cinta, karena itulah aku juga tak siap untuk sakit hati. jadi jangan pernah menjauh, tak jadi masalah untukku kau tak menjadi milikku, yang menjadi masalah adalah ketika rasa ini bergejolak dan aku hanya bisa menangis tanpa berhak merindukan"


"Datanglah, dan hapus kan rasa itu, aku akan menyayangi mu sebagai teman"


"aku merasa berjalan di jalan yang tak berujung, namun aku tau ini tak memiliki akhir, itu tak menyedihkan, yang menyedihkan adalah jalan ini tak memiliki awal, lebih memalukan lagi aku mencintai seseorang yang sudah menemukan jalan sendiri, jalanku adalah menuju mu sedangkan jalanmu adalah menjauh dariku "


Hujan besar turun, sepertinya alam ingin menyembunyikan tangisannya, aku pun masih terdiam didepannya. air hujan mulai membasahi tubuhku, aku harap hujan juga membasahi perasaan Tya, aku kesal alam malah menari di atas kebingungan yang sedang aku alami.


Tak lama Tya, menyuruhku pergi meninggalkan nya sendiri, bukan karena merelakan ku untuk membalikan punggung, namun agar bisa menangis dengan tenang. aku terima itu, aku pergi ke arah yang kau tunjukan, biar hujan menjadi saksi, bahwa aku telah menyakiti dan mempertahankan yang seharusnya.


Biarlah dia menangis, dan kemudian lelah karena tak pernah ada yang abadi, biarlah cintanya memudar bersama dengan turunnya hujan hari ini.


hari ini aku mengerti, Silvi dan Tya keduanya adalah wanita yang sedang sakit. namun sayang tak satupun dari keduanya yang bisa ku sembuhkan

__ADS_1


__ADS_2