Amnesia

Amnesia
Pernikahan Arif


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Tya datang ke rumahku, wajahnya begitu sumringah, sudah lama sekali aku tidak melihat nya.


"Ada apa kau datang pagi-pagi sekali? tumben"


"Aku sedang bersemangat saja"


"Syukur lah"


"Kamu pakai pakaian terbaikmu ya, karena kau jadi pasanganku, biasanya orang datang ke pernikahan sama kekasihnya"


"Begitu ya, tapi aku kan belum menjadi kekasihmu"


"Tak apa, datang bersamamu saja sudah cukup bagiku, semoga nanti kau membuka hatimu untukku"


percakapan ini, sedikit banyak mengingatkanku pada Silvi. sepertinya aku harus mulai melupakan nya, dan memulai kisah yang baru.


"Kalau begitu, maukah kau jadi pacarku Tya?"


sepertinya perkataan ku cukup mengejutkannya, Tya begitu gelisah, wajahnya memerah.


"Bantu aku mencintaimu ya, kalau suka aku sudah menyukaimu sejak dulu" ujarku tersenyum.


"Nata, Terimakasih"


Tya memelukku, sudah lama sekali rasanya tak ada wanita yang memelukku.


"Mulai sekarang kamu resmi jadi pacarku"


"Ini bukan mimpi kan Nata?"


"Ayo bangun, sepertinya ini mimpi" ujarku mencubit pipi Tya


"Aww sakit Nata" mencoba melepaskan tangan ku.


"Aku sudah lama menunggu hari ini"

__ADS_1


"Apa kau bahagia Tya? Syukurlah"


"Sangat bahagia sekali Nata"


Tya kemudian mencium ku,


"Aku sudah lama menunggu ini, rasanya manis sekali" Ujar Tya


"Tya kamu Nakal ya, berani sekali ya"


"Sekarang aku berhak cemburu, tak seperti dulu"


"Iya, ini aku milikmu"


Banyak percakapan terjadi disana, tawa menghiasi masa kini. Baik aku ataupun Tya sudah mulai bisa kembali berbahagia.


"oh iya Tya, maafkan aku. aku masih banyak menulis tentang Silvi dalam Novelku, Aku hanya ingin mengabadikan kisah ku yang sebentar itu bersamanya"


"Meskipun aku cemburu, tapi tidak apa-apa, karena kamu ini sebenarnya milik Silvi, aku hanya meminjamnya saja"


"Arif selamat ya" Ujarku dan Tya sambil menyalaminya


"Loh kalian datang bersama" Ujar Arif


"Iya, Tya pacarku sekarang" jawabanku ternyata membuat wajah Tya begitu memerah.


"Wah, Selamat selamat, kapan nyusul? hahaa"


"Pacaran juga belum ada sehari, udah nyusul aja"


Arif begitu bahagia di pernikahan nya, aku salut dengan dia, 2 tahun mengejar Tya, tapi dia bisa move on dan sekarang sudah menikah.


Nyatanya seseorang hanya butuh waktu untuk merelakan, beberapa kejadian membuatmu akan menjadi lebih kuat, dan kedewasaan akan datang seiring permasalahan, kita hanya harus terus melaju.


Setelah dari pernikahan Arif, aku mengantar Tya menuju rumahnya. sesampainya disana

__ADS_1


"Nat, tunggu disini ya, temani aku"


"heem, santai saja, lagian rumah kita berdekatan"


"Iya, syukurlah, jadi kalau kita menikah akan sedikit lebih mudah ya"


Aku tak bisa menjawab nya, mungkin hanya sedikit menganggukkan kepala.


"Nata, aku ingin kau memelukku"


"Eh, kenapa?"


"Aku ingin merasakannya saja, apa benar ini bukan mimpi"


"Iya, sini"


aku dan Tya saling berpelukan, di kamar itu aku juga menciumnya


namun aku kaget, dan berhenti


"Nata kamu kenapa?"


"Tidak Tya, maaf, mungkin aku sudah lama tidak melakukan itu, jadi rasanya canggung"


"oh tidak apa-apa Nata"


aku tak bisa jujur pada Tya, aku memang memeluknya, namun aku membayangkan dia adalah Silvi. susah sekali melupakannya


saat aku tak bicara, berjuta rasa aku sampaikan.


tapi aku harus bangkit, aku pasti akan mencintai Tya, pasti akan membuat Tya bahagia


Bukankah Tya selalu bersabar menungguku, dia wanita yang cantik dan juga baik.


Nata, kamu jangan egois

__ADS_1


__ADS_2