Amnesia

Amnesia
Silvi dan Cemburu


__ADS_3

Sudah 5 menit Tya pergi, aku ingin mengejarnya, dia memang pergi terlebih dahulu namun aku tau kemana dia akan pergi untuk menangis. namun saat aku membuka pintu kos ku. terlihat ada seorang perempuan yang sedang gugup ingin mengetuk pintu kos ku. wajahnya memerah, dan dia tak berani menatap ku.


"Silvi?" ujar ku, namun dia malah membalikan badan dan pergi. aku mencoba menahannya dan menggenggam tangannya.


"mau kemana ?" tanyaku.


"aku, aku pikir merindukanmu" wajahnya benar-benar memerah, tapi tangannya begitu panas. apa dia sedang demam.


mendengar perkataan itu aku pun memeluknya, tanganku melingkar di pinggang nya.


"aku juga sangat merindukanmu, aku sedikit khawatir kau akan pergi lagi, sungguh aku takkan sanggup disiksa terus menerus oleh kerinduan ini" ujar ku sembari mengusap kepalanya.


"egoku membuatku menahan diri untuk tidak menghubungimu, namun perasaan memaksaku datang, tanpa aku sadari aku sudah ada didepan kosan mu ini, aku sungguh merindukanmu"


Silvi benar-benar memelukku dengan erat dan aku menyukai nya, dia yang manja langsung melelehkan hatiku yang beku.


aku menggenggam tangannya, mengajaknya masuk kedalam kosanku, namun kosanku sedikit berantakan dengan berbagai buku yang Dimas bawa.


"Silvi?, kau Silvi yang sangat populer saat aku SMA kan?" Ujar Dimas yang kaget ketika aku membawa Silvi masuk ke dalam.


"Silvi terkena amnesia, mungkin dia tidak mengingat mu" ujar ku


Silvi hanya tersenyum pada Dimas, namun sepertinya Dimas hanya melongo melihat senyuman Silvi.

__ADS_1


"oi Dimas sadarlah" ujar ku menepuk pundak Dimas.


"oh, maaf-maaf. dia sangat cantik sekali, aku sangat terpesona" ujar nya.


"Tentu saja pacarku memang yang tercantik di seluruh alam semesta, beruntungnya aku yang memilikinya"


lalu Simas berdiri, dia berbisik padaku


"kalau begitu, aku yang akan mengejar Tya, kamu disini saja temani pacarmu itu. kamu tau aku harus mencarinya kemana"


"carilah di taman di utara, dia biasanya ada di sana" ujar ku berbisik.


Kemudian Dimas bergegas pergi, sementara Silvi mulai mempertanyakan apa yang aku bicarakan.


"Ura, apa yang kau bicarakan?" dia benar-benar ingin tau, dia menatap ku tajam, melihat langsung pada kedua bola mataku. aku pikir aku tak bisa menyembunyikan nya.


aku mengatakan nya, namun aku berusaha menghindari tatapan matanya, tatapan yang tajam dan mengintimidasi.


"Lalu kenapa dia sampai marah seperti itu?"


"Aku sudah tidak bisa menulis lagi, dia marah karena aku tidak memberitahunya, aku hanya tidak ingin membuatnya khawatir, tapi ternyata apa yang aku lakukan membuatnya marah"


Silvi hanya tersenyum dan membelaiku, dia memberiku kecupan di pipiku dan membuatku tersenyum.

__ADS_1


"Dia sangat mengkhawatirkan mu, dia sangat mempedulikan mu, itulah arti dari amarahnya, aku juga mengerti dia marah seperti itu karena kau tidak menghargai kekhawatiran nya dan kepedulian nya, jika aku jadi dia, aku juga akan marah"


Tercium rasa kecemburuan dalam perkataan nya, bibirnya memang tidak mengatakan nya namun mata dan hati telah menjelaskan semuanya.


"ini pasti akan menyakitkan, kau memilih ku kemudian kau mengabaikan kekhawatiran nya" ujar Silvi, dia mengucapkan hal ini sambil menangis, aku kembali memeluknya dan menghapus air matanya.


"Andai saja aku tidak pernah pergi, kau tidak akan tersakiti, kau takkan menderita, kemudian Tya tak akan terlalu berharap pada mu. andai saja waktu bisa kembali, aku akan membuatmu jatuh cinta pada diriku seorang"


dalam pelukan, aku mencium nya, ciuman pertama setelah Silvi mengingat semua kejadiannya.


"Sudahlah, aku tidak berpikir semua akan jauh lebih baik jika kau tidak pergi, kepergian mu mengajarkan aku rasa sedih, kesepian dan penderitaan. lalu aku belajar tentang harapan dan perjuangan, bahwa hidup harus terus berjalan"


aku melepaskan pelukannya, kemudian menatap kedua matanya


"dan sekarang aku bahagia kau telah kembali"


Silvi menarik ku ke atas kasur, lalu dia memelukku.


"Kalau begitu, aku akan membantumu, mengembalikan semua kemampuanmu untuk menulis, tapi kau juga harus ajak Tya"


Silvi menyembunyikan rasa cemburunya yang begitu besar, seakan tidak apa-apa aku melakukan itu, padahal dia begitu tersiksa.


"Katakan sajalah, duri dalam bunga itu menyakitkan, ucapan mu itu sangat memaksakan, cemburu memanglah tanda cinta, tapi jika membuatmu tersiksa, lepaskanlah"

__ADS_1


di atas kasur itu, Silvi kemudian mencium ku, kening, pipi, leher dan bibirku.


"ini yang aku suka darimu, kamu selalu bicara apa adanya, mengatakan semuanya. terimakasih banyak. Ura, Aku sangat mencintaimu"


__ADS_2