
Senin sore di kos, seperti biasa Tya datang menemui ku.
"Nata, selamat jumpa fans nya aku dengar sangat sukses" Ujar Tya dengan wajah yang begitu sumringah
"iya banyak sekali orang yang datang, aku tak percaya tulisan ku diterima banyak orang" jawabku datar
"iya karena kamu memasukan emosimu di sana, dan itu mudah dipahami"
"iya kah? aku sendiri tidak terlalu mengetahui nya"
"Ada sesuatu yang menyenangkan di sana?"
"Tentu saja, aku bertemu banyak penulis hebat, aku berbincang dan belajar dari mereka"
"Sepertinya menyenangkan sekali"
"Iya sangat menyenangkan"
Tya terdiam beberapa saat, sepertinya ada yang ingin dia sampaikan.
"apa kau masih mencintaiku?"
"Tentu, aku mencintaimu"
"lalu kenapa aku mendengar, kau memeluk seorang perempuan disana"
"eh, iya" aku sangat merasa bersalah
"Kenapa kau melakukannya, aku jadi merasa sangat cemburu" dia mengembangkan pipinya lucu sekali.
"Maaf"
__ADS_1
"Lalu siapa cewe itu? aku sangat penasaran"
"Hanya seorang yang menyukai karyaku, aku hanya merasa mengenalnya"
"Benarkah kamu hanya merasakan itu?"
"iya tentu saja"
aku coba melukiskan kebohongan, kebohongan yang aku anggap baik, tapi ternyata bangkai tetap lah bangkai, busuknya akan tercium dari mana pun.
"Kau seperti menyembunyikan sesuatu Nata" Tya mulai penasaran
"Tidak"
"Wanita itu Silvi kan ?" wajahnya memerah, matanya berkaca-kaca
aku terdiam mendengar ucapan Tya, apa yang harus aku katakan padanya.
Nada bicara Tya mulai tinggi dan dia mulai marah.
amarah yang disampaikan Tya bukanlah kekecewaan, tapi perasaan takutnya yang sudah lama sekali dia pendam, berjuta kali dian mencoba menutupinya namun amarah ini menjelaskan semua kekhawatiran nya.
"aku tidak mengerti"
"Ayo, bilang saja, aku hanya ingin mendengarnya darimu, dari mulutmu itu"
"Ya, tapi sekarang aku mencintaimu Tya"
"Tapi benarkan, wanita itu Silvi?"
Air mata dari wajahnya keluar, aku melihat kehancuran dari dirinya, amarah dia keluarkan bukan untukku tapi untuk dirinya sendiri, seakan dia tak bisa melakukan apapun untuk menahan ku. kini tangis adalah satu-satunya jalan untuk menenangkan jiwanya yang benar-benar ketakutan.
__ADS_1
sungguh aku tak mungkin bisa membiarkan Tya seperti ini, aku tak mau lagi menyesal kehilangan orang yang sudah aku sayangi, aku juga tak mau Tya mengalami depresi yang aku rasakan seperti aku sewaktu kehilangan Silvi.
"Ya benar dia Silvi, tapi dia tak mengenalku"
Tya menangis begitu keras, dalam pelukanku aku merasakannya, suara harapan yang hancur begitu keras, ketakutan dan amarah. begitu jelas terdengar dari tangisan itu.
"Lalu kenapa kalau dia Silvi, toh aku ini kekasihmu dan dia juga tak lagi mengenalku"
"Aku pasti kehilangan mu, karena tak pernah ada aku didalam hatimu"
Jiwanya mulai pesimis, dimakan ketakutan, kekecewaan dan dia mulai mencoba menghancurkan harapan nya sendiri.
satu kalimat dalam sekejap, menggetarkan hati.
"Kemanapun kau pergi, kau tidak bisa melarikan diri dari dirimu sendiri, kamu takkan bisa membohongi perasaan mu"
"Kalau kau tau seperti itu? kenapa kau bertingkah seperti tak apa-apa aku kembali padanya? aku ini disini, Nata kekasihmu, bukan lagi kekasihnya. meski aku masih ingat kenangan tentang dia, tapi yang membantuku sampai detik ini adalah dirimu"
"waktu bisa memaksamu untuk berhenti untuk berjuang, tapi jauh didalam hatimu, tak pernah ada diriku, aku benar-benar sangat ketakutan, bagaimana kalau kau pergi meninggalkan ku, aku tak siap"
Aku memeluknya dengan sangat erat, nafasnya begitu berat, wajahnya juga terlihat pucat. aku mulai menciumnya, namun dia berkali-kali menolaknya, mencoba terus menghindar
"katakanlah sebenarnya apa yang kau inginkan, kalau kau tak mengatakan nya aku takkan bisa mengerti, aku tak paham dengan perasaanmu" ujar ku yang memaksa memeluknya, sedangkan dia berusaha sekuat tenaga melepaskan pelukanku.
"Sudahlah, kali ini biarkan aku pergi"
"Maaf aku tak bisa, aku tak mau menyesal dua kali, kalau begitu ini waktunya menyampaikan perasaan masing masing yang tersimpan dalam dada"
Sepertinya aku mendengar suara kenangan yang menyedihkan. mengetahui kenyataan itu bagus atau buruk, itu akan melegakan dari pada terombang-ambing ketidakpastian.
berduaan dalam kondisi yang buruk, jembatan yang menopang cerita ini akan segera ambruk
__ADS_1