
Setelah kejadian sore itu, suasana benar-benar kacau, hening yang menyakitkan. mereka berdua faham mereka sangat saling menyayangi, juga akan saling menyakiti.
Dalam kereta diperjalanan pulang, menjadi sebuah perjalanan yang menyedihkan, tak ada yang berani saling menatap, tak ada sapa, canda ataupun tawa.keheningan yang membunuhku.
Kereta yang melaju cepat, saling berkejaran dengan awan di langit, aku berharap waktu cepatlah berlalu, aku ingin tukarkan semua kepedihan ini menjadi tangis yang bisa melegakan.
Tak terasa, kita sudah sampai, perjalanan yang begitu menyiksa, disiksa keheningan dan tangis dalam diam.
"Tya, Silvi terimakasih. ini akan menjadi kenangan yang berharga untukku"
Tya hanya melempar senyum, sementara Silvi hanya melambaikan tangan, sesaat aku menuju arah kepulangan ku, punggung yang berbalik, terdengar teriakan dan kemudian ku lihat ternyata Silvi pingsan, aku bergegas mendekatinya, untung saja Silvi jatuh di pelukan Tya.
Orang-orang hanya sibuk melihat dan mengabadikan, sedang aku dan Tya dilanda kepanikan. benar-benar suasana yang menyebalkan.
Aku segera membawanya ke Rumah Sakit, Tya begitu khawatir dan wajahnya pucat, dia menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian ini.
"Ura, Ura ku sayang. akhirnya semua ingatanku kembali" ujar Silvi yang terbaring lemas, matanya terbuka lemah, nafasnya sedikit terengah-engah, tanganya menggenggam tanganku.
"Syukurlah, ingatanmu telah kembali, dan yang paling penting, segeralah sehat" ujar Tya yang meneteskan air mata, seperti nya Tya begitu khawatir.
aku hanya tersenyum, terpaku melihat kejadian ini, ikatan persahabatan mereka sepertinya tidak mudah untuk hancur. melegakan sekali.
Beberapa hari setelah kejadian itu, baik Tya dan Silvi menghilang, tak ada kabar dari mereka berdua. ingin sekali aku menghubungi nya namun ada sesuatu yang mengganjal dalam hati.
tapi kesedihan dan kekosongan sepertinya mulai merantai hati, aku sangat merasa bersalah atas kejadian ini, ingin rasanya melarikan diri, tapi kemana aku harus berlari.
Setiap perjumpaan melahirkan perpisahan, entah apa yang ingin aku lakukan sekarang, terjebak dalam kebingungan.
__ADS_1
aku hanya sedang ingin melarikan diri.
Seseorang datang mengetuk pintu kosku, aku membukanya, terlihat seorang laki-laki berbadan tegap, namun dengan wajah yang sangat ramah.
"Dimas?"
"Maaf menganggu malam-malam begini" ujarnya sambil menggaruk kepala.
"Tak apa, silahkan masuk" Ujar ku membukakan pintu.
"Maaf kosanku, sedikit berantakan, sebenarnya ada apa kamu kemari?"
Dimas adalah teman SMA ku, satu kelas denganku. dia juga mengenal Silvi dan Tya, aku memang tidak terlalu akrab dengannya, tapi dia juga bukan orang jahat.
"Tidak, aku kemarin sedang berjalan-jalan aku melihatmu masuk kesini, jadi aku putuskan untuk menengok mu" ujarnya tertawa
"Kau sekarang lebih ceria ya, lebih friendly, berbeda dengan dirimu yang dulu, yang selalu dingin dan menutup diri" ujarnya menepuk pundak ku.
"Tentu saja, setiap manusia harus berubah menjadi lebih baik kan?"
Tiba-tiba, dia mengambil sesuatu dari tasnya, dan memberikan aku buku.
"Kau sudah baca novel ini? aku rasa cerita didalamnya mirip dengan cerita yang kamu lalui dulu, setelah aku membacanya, aku jadi ingin bertemu denganmu" Dimas menyodorkan novel yang dia bawa.
"haha, Eunoia? aku sudah membacanya" ujar ku tertawa.
"Sepertinya aku telat memberi tau mu" Dimas terlihat sedikit kecewa, kemudian dia melanjutkan perkataannya.
__ADS_1
"Tapi sayang, dia sudah lama tidak mengeluarkan novel baru, padahal aku sudah menunggunya"
"kalau begitu kenapa kau tidak meminta nya langsung pada penulisnya?" ujar ku sedikit meledeknya
"aku tidak mengenalnya, sepertinya dia orang yang hebat"
"haha tentu saja kau mengenalnya, dia ada dihadapan mu"
dia terlihat sedikit bingung dengan yang aku katakan, juga terlihat kaget, matanya melotot melihatku.
"jadi yang menulisnya kamu?"
"haha iya, itu aku yang menulisnya, jadi wajar kamu merasa ini mirip dengan kisah hidupku, karena itu memang kisah ku"
"aku jadi merasa malu, menyuruhmu membaca novel karya mu sendiri"
"tidak apa-apa, selain itu aku juga sepertinya tidak bisa menulis lagi"
mendengar perkataan itu, dimas terlihat kaget, dia hanya terdiam dan membisu.
"Sebenarnya, aku juga ingin bisa menulis lagi, tapi rasanya berat sekali, sudah lama aku seperti ini"
Dimas seperti nya merasa sedikit bersalah, dia mencoba mengubah arah pembicaraan
"aku tinggal didekat sini, bolehkan nanti aku sesekali berkunjung?" ujar nya
"Tentu saja, Silvi dan Tya juga sering berkunjung, makin banyak orang makin asik"
__ADS_1