
Sesampainya di kosan, hujan bertambah deras. aku dan Tya sama-sama basah kuyup. meski hujan menyembunyikan air matanya, namun raut wajahnya menunjukan dia sedang menangis.
"kamu sangat lah jahat Nata" Tya menangis kencang sekali.
"Dengarkan aku dulu" aku sedikit membentak
"Mau mendengarkan apa lagi? aku melihatmu tersenyum begitu bahagia, bahkan aku baru melihatmu tersenyum seperti itu lagi" dia berkata seperti itu sambil menangis.
"aku juga bahagia bersamamu, aku sungguh sangat bahagia" aku terbawa suasana dan ikut menangis.
"tapi, kenapa aku tak pernah melihatmu tersenyum seperti itu padaku?"
dia memegang kedua pundak ku.
"mungkin saja kau tidak merasakannya" ujar ku mengelak.
"aku tak mau mengikhlaskan mu begitu saja, karena melihatmu bahagia dengan yang lain tidak ada dalam perjanjian"
"iya, aku mengerti" aku coba mendekat dan memeluknya.
namun Tya menolak nya, dia terlihat begitu marah.
"andai saja aku bisa memilih, aku tak ingin mencintaimu begitu dalam"
Tya memukul badanku.
"namun, cinta ini terus bertambah, dan aku semakin tidak bisa untuk tidak jatuh cinta padamu, ini sangat menyakitkan" dia air matanya kembali berjatuhan.
"aku ingin berada dalam hatimu meski aku harus merangkak dalam perjalanan ku untuk mendapatkannya"
__ADS_1
Tya jatuh kedalam pelukanku.
dia menangis begitu berat, semua perasaan nya keluar dan aku hanya bisa berdiam diri, tanpa satu katapun keluar dari mulutku.
Tak lama Silvi masuk kedalam kosanku, sepertinya dia juga mengejar ku dan Tya. Dia datang dalam keadaan basah kuyup dan kedinginan. dia melihat ku dan Tya sedang berpelukan kemudian dia pingsan.
"Silvi!" tak sadar aku melepaskan pelukan Tya, dan berlari ke arah Silvi.
Aku begitu panik dan khawatir, Tya menatapku dan mendekati Silvi.
dia memeriksa denyut tanda-tanda vitalnya, Tya memang seorang dokter, jadi aku mempercayai nya.
"Dia sepertinya hanya kelelahan" ucap Tya
"Pertama kamu keluar terlebih dahulu, aku akan menggantikan pakaian nya kebetulan aku membawa beberapa pakaian ganti"
"iya" aku pun menunggu didepan kamar kos ku.
"Nata, kau sudah boleh masuk"
aku masuk kedalam kos ku lagi, Tya terlihat duduk di samping Silvi yang sedang terbaring di kasur.
"Tunggu saja sebentar, dia hanya kelelahan, sebaiknya kau hubungi keluarga nya"
"iya"
aku menelepon keluarganya, aku menceritakan kejadian itu, namun keluarganya meminta aku yang menjaganya.
"Ayahnya bilang Silvi lebih baik disini bersamaku, karena mereka sedang diluar negri" aku penuh kebingungan mengatakan nya pada Tya.
__ADS_1
"Kalau begitu, aku juga akan tidur di sini malam ini" Tya memerhatikan wajah Silvi yang sedang pingsan itu.
"Apa tidak apa-apa?, kau kan baru datang, harusnya kau beristirahat di rumahmu"
"bukannya aku takut melihatmu dengan Silvi berduaan, tapi aku juga khawatir, karena bagaimanapun dia adalah temanku" ujarnya sambil mengkompres Silvi.
"Aku tidak bermaksud seperti itu" jawabku lesu.
semalaman aku dan Tya tidak tidur, kami menjaga Silvi bersamaan, tak ada lagi tangisan, kami berdua sama-sama mengkhawatirkan keadaan Silvi.
"Ura, aku dimana ?" ucap Silvi, dia masih sangat lemah. namun aku sedikit lega dia sudah sadar.
"di kos ku, kamu kemarin menyusul ku, padahal diluar sedang hujan deras" jawabku, tak sadar aku mengeluarkan air mata.
"Sudah Ura, jangan menangis, aku baik-baik saja kok" Silvi mengusap air mata mu.
"Ini siapa Ura?" ujar Silvi menunjuk Tya
"Dia Tya, temanmu waktu SMA, sekarang dia adalah pacarku"
"aku tidak bisa mengingatnya, namun aku bahagia bertemu teman lama ku" Silvi mulai menangis.
"eh, kenapa kamu malah menangis?" ujar Tya menghapus air mata Silvi.
"Aku kira aku selalu hidup sendirian sejak dulu, aku melupakan banyak hal, aku takut jati diriku hilang, aku juga takut kalian kecewa karena aku melupakan kalian" dia begitu sedih.
"Tenang lah, kami juga sangat senang bertemu dengan mu lagi, iyakan Nata?"
"Tentu saja, jadi janganlah bersedih"
__ADS_1
kehangatan pertemanan ini akhirnya aku rasakan lagi setelah sekian lama aku ditinggalkan Silvi.