
Sudah sebulan sejak aku membaca surat itu, aku mulai bangkit dari kesedihan itu, mulai masuk lagi sekolah.
namun aku masih belum berani datang ke tempat-tempat yang biasa aku dan Silvi bertemu, bahkan untuk duduk dikelas pun aku begitu berat rasanya untuk menahan air mata.
Dulu, aku selalu bercanda dengannya, membahas langit dan bintang, dia yang selalu memperhatikan dan tersenyum padaku.
namun kini bangku itu kosong, tak ada lagi dirimu, yang tersisa hanya kenangan dan cerita. lalu kepedihan dan sakit hati.
aku tak tahan disiksa rindu, tusuk harapan yang tak pernah berlalu, namun aku harus terus melaju, meski harus tanpa dirimu.
Hal yang menyakitkan bukanlah kehilangannya, namun kenangan bersamanya, setiap tempat yang pernah kita lewati menyisakan kepedihan, teringat jelas bahwa kau dan aku pernah tertawa dan bersama.
kini bersama rindu dan kepedihan, aku coba gores kan dalam buku tulis, kenangan-kenangan aku gambarkan. aku menulisnya sambil menangis dan kadang tertawa, mengingat semua tentang dirimu
bagian pertama perlahan mulai ku selesaikan, setiap kata mengandung makna-makna dan cerita. aku tuliskan di sana, betapa aku bahagia. cerita denganmu, ku coba hidupkan kembali dengan pena.
__ADS_1
satu tahun berlalu, setelah kau meninggalkan ku, masih tanpa kabar darimu, dan hari ini aku begitu merindukanmu, tapi aku sudah bisa tertawa, aku sudah menerimanya.
waktu berlalu begitu cepat, besok adalah kelulusan SMA ku, aku kembali ke kelas itu, dan melihat bangku kosong yang kau tinggalkan. begitu pula dengan atap sekolah. dimana kau selalu membawa bekal dan menemaniku di sana.
Kini, aku sudah berubah, warna yang kau lukis kan dalam kehidupanku aku pertahankan, kini aku adalah seseorang yang sangat ceria, mudah bergaul dan sosok yang lumayan populer.
Arif dan Tya kini menjadi sahabatku, mereka selalu mendukung ku, menemanimu dan memberikan support untukku.
sebenarnya, di Kelulusan SMA ini aku berharap kehadiranmu, mungkin jika kau disini, kau akan tertawa bahagia dengan sifat mu yang jail dan manja mungkin kau akan mengerjai ku. namun sayang kau tak ada.
dan untukmu Silvi, aku akan berjuang, aku selalu berharap kau kembali. aku akan penuhi keinginanmu. akan ku tulis semua dengan jelas dan terperinci. tenang saja tak mungkin ada yang aku lewatkan.
Kini, selain menulis, aku melanjutkan kuliah ku ke fakultas Farmasi. aku ingin menemukan obat untuk menyembuhkan orang-orang dengan penyakit sepertimu.
Kehidupan yang baru, perjalanan yang baru. aku akan terus melangkah untukku dan untukmu.
__ADS_1
Dua tahun berlalu, Satu bagian ceritaku sudah ku terbitkan menjadi Novel (Eunoia). meski dengan kesibukanku sebagai mahasiswa, aku selalu menyempatkan menulis tentangmu.
Aku mulai terkenal, kemampuan menulis ku diakui banyak orang, mereka selalu bertanya kenapa aku bisa menulis sehebat itu. dan dalam salah satu sesi wawancara mereka bertanya
"Apa yang membuatmu bisa menulis sehebat ini, sehingga seolah-olah yang membacanya merasakan penderitaan dan kebahagiaan nya" ujar wartawan
aku tersenyum dan aku menjawab
"Karena pengalaman mengajariku, bahwa penderitaan adalah salah satu karya seni yang hebat, dan air mata adalah pena yang bisa menggambarkan semuanya dengan jelas. lalu tawa adalah warna dari kisah yang aku tulis ini"
"Selain itu ada yang ingin kamu sampaikan"
"hahaha, mungkin ini lucu, tapi Silvi aku selalu menunggumu, jika kamu mendengarkan atau melihat ini, Ura akan selalu menunggumu. jadi datanglah"
Setelah itu, wawancara tersebut menjadi headline dimana-mana, dan banyak yang bertanya-tanya. apakah Silvi yang aku maksud, adalah Silvi artis yang menghilang bertahun-tahun.
__ADS_1