Amnesia

Amnesia
Tak sehelai benang pun


__ADS_3

Setelah itu Silvi pergi dari kamar Tya dengan keadaan tersenyum, ada kesedihan dan ketakutan yang ikut bersamanya.


aku ingin menghentikan nya dan juga ingin menahannya. namun aku tak bisa mengejarnya, entah berapa banyak air mata yang akan terjatuh, namun sebisa mungkin ini yang terakhir.


sementara aku yang sedang dalam pelukan dan ciuman Tya, tidak mampu bergerak, atas alasan dosa aku hanya bisa terdiam, dan menikmati nya.


Langkah kaki yang berjalan menjauh dari tubuhku, dengan beban yang dia bawa, dia mulai menjauh, tatapan mataku juga kini sudah tak bisa menjangkaunya, kali ini apapun yang aku lakukan adalah kesalahan.


Tubuhku bergerak sendiri diluar kendaliku, aku mulai melepaskan pelukan Tya, dan tak sadar berjalan ke arah Silvi, namun Tya menghentikan ku, dia menggenggam tanganku dengan sangat kuat dan berkata,


"Mau kemana kamu kekasihku?, bukankah disini ada diriku yang akan membuatmu merasa cukup tanpa kehadiran yang lain?, atau kau benar-benar ingin membunuhku?"


ucapan nya membuatku sadar, ini bukanlah Tya yang aku kenal, bukan pula Tya yang aku cintai, ini hanyalah egoisan dirinya yang hidup dan merebut jiwanya, hingga tenggelam rasa kasih dan lembut yang biasa Tya tunjukan.


"Silvi tunggu aku" ucapan ini keluar begitu saja dari mulutku, bahkan aku sendiri tak sadar mengucapkannya.


Namun dia terus melangkah menjauh, dia sedikit berbalik dan mengatakan sesuatu, kemudian dia pergi.

__ADS_1


"Dimas, tolong temani dia untukku, aku mohon" ujar ku, tak lama Dimas pun berlari menyusul Silvi, sedang aku masih disini, didalam kamar ini.


Kedua orang tuanya pun ikut keluar dari kamar ini, yang tersisa kini hanya aku dan Tya.


Suasana nya terasa gelap, hening, hitam, nuansa yang sangat tidak menyenangkan.


Karena Tya menuhankan egonya, hingga jiwanya termakan. aku akan menyadarkannya dengan egoku yang akan aku kendalikan.


kamar itu aku kunci dari dalam, tak ada siapapun lagi selain aku dan Tya, Tubuhnya aku peluk, bibirnya yang merah bagai tomat itu aku gigit, aku cium, dan aku mulai menikmati ini.


ku ciumi bibirnya, pipinya, keningnya, lehernya aku ikuti cara main egonya, biar saja aku tenggelam dibawa nya.


perlahan, aku coba lepaskan bajunya, setiap kancing yang ku buka, semakin liar ego dan nafsu aku pertaruhkan, semakin lama semakin tak bisa aku kendalikan.


Kini bajunya sudah terbuka, hanya pakaian dalamnya saja yang masih melekat ditubuhnya, aku cium aroma tubuh nya yang semakin membuat aku kehilangan kesadaran, aku cium tubuh nya itu, tanganku meraba punggungnya yang halus, sembari aku ciumi lehernya, sumpah kali ini harus ada yang bisa menghentikan ku kalau tidak akan sangat berbahaya.


Dia benar-benar menikmati nafsuku yang sedang memuncak, matanya dan suara desahannya menunjukan dia menyukainya.

__ADS_1


aku berusaha sekuat tenaga menahan nafsuku, namun semakin aku tahan, semakin besar pula Tya memancingnya.


"Apa benar ini yang kau mau?, kau hanya ingin menikmati ku terbenam bersama nafsuku?"


Tya tidak mendengarkan ucapan ku, dia hanya terus sibuk mencium ku dan memelukku.


nafasnya terasa berat dan terengah-engah, dia mendorongku ke atas kasurnya, kemudian dia membuka celana nya dan pakaian dalamnya, dengan keadaan telanjang, dia memelukku yang berada di atas kasur itu.


Air mata berjatuhan dari matanya, kini dia menangis dan memelukku, tubuhnya yang sedang tidak menggunakan sehelai kain pun bersentuhan langsung dengan kulitku.


"Aku tak bisa melakukan ini, aku tak bisa mengkhianati orang tuaku, kedua orang tuaku sudah mengatakan nya, aku tidak boleh melakukan hal ini sebelum menikah" ujar ku yang melepas pelukan Tya


"Aku ingin begini saja, tak usah lebih, aku ingin kau peluk meski dalam keadaan seperti ini, tak ada apapun yang melekat dalam tubuhku, termasuk perhiasan dunia, inilah aku, semoga kau tetap mau memelukku"


malam itu tak sehelai benang pun menghalangi kami berpelukan, aku memang tidak bisa melanjutkan nya lebih dari ini, sedangkan Tya mulai bercerita dan aku mendengarkan semua perasaan yang Tya pendam, kemudian dia tertawa.


"haha, segila ini aku karena mu, aku jadi sedikit paham bagaimana rasanya dirimu ditinggalkan Silvi dimasa itu"

__ADS_1


Kini aku telah membawa nya kembali dari hitamnya ego yang telah menenggelamkan nya, mengangkatnya tanpa merenggut kesuciannya, hanya saja cara yang aku lakukan ini sedikit nakal dan bisa saja berakhir fatal.


__ADS_2