
Setelah kejadian itu, Tya mulai membaik, sudah satu minggu aku selalu menjenguknya, Silvi selalu menemaniku namun dia hanya menunggu diruang tamu, dia merasa bertanggungjawab atas kejadian ini.
Tya yang bersandar di atas kasurnya, sembari melihat keluar melalui jendela yang dia buka, beberapa kali angin menyentuh lembut wajahnya dan mendukung nya. dia pasti akan segera sehat.
Dia tersenyum kepadaku yang sedang menyuapinya, tangannya membelai wajahku, kemudian dia berkata
"Sudah, aku sudah kenyang, lebih baik sekarang temani kekasihmu itu, kasihan dia sudah satu minggu hanya menunggu di ruang tamu, sedang kan kamu selalu menemaniku disini"
mendengar ucapannya, aku tersenyum dan memegang tangannya yang sedang membelaiku.
"Tenang saja, dia pasti mengerti, dia mempunyai hati yang kuat. lebih baik sekarang kau habiskan dulu makanannya"
"aku tak enak, seperti menggunakan kelemahan ku untuk mendekati dan merebut mu"
"Tak usah kau pikirkan, tenang saja. Tak ada yang berfikir seperti itu"
"Panggilkan Silvi untukku, aku ingin bertemu dengan nya, dengan sahabatku"
aku kemudian berjalan ke ruang tamu dan memanggilnya. terlihat dia sangat kaget, namun dia berjalan kedalam kamar itu, dengan kepala tertunduk, dia tetap melangkah.
"Ada apa Tya, kamu memanggilku" ujar Silvi yang tak berani menatap Tya secara langsung.
__ADS_1
"Kemarilah sahabatku, jangan kau terus menunduk seperti itu, aku merindukanmu"
Silvi yang terus melangkah mendekati Tya, disambut Tya yang bangun dari tempat tidurnya, kemudian Tya memeluk Silvi dengan senyuman.
"Sudahi saja perang ini, aku juga sudah merasa kalah, aku sudah sadar, aku harus menerima semua ini. Tak ada lagi yang harus dipaksakan"
dalam pelukan itu, Silvi malah menangis, sepertinya dia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya
"Maafkan aku, maafkan aku. aku tak bisa berkata apapun lagi selain maaf"
Tya kemudian menghapus air mata yang keluar dari mata Silvi, dia mengusap punggung nya dan berkata
"Sudah, jangan menangis, ini bukan salahmu. sudah, aku juga sudah menerima semua keadaannya dan aku pasti akan membaik".
Tya kemudian memandangiku, tersenyum, dia melambaikan tangannya padaku, sontak aku mendekati nya.
"Kamu harus menjaganya, untukmu sebagai kekasihmu dan untukku sebagi sahabatku"
"Tentu saja, tak perlu kau suruh aku pasti akan menjaganya"
aku melempar senyum padanya, berharap kali ini tak ada hati yang tersakiti, berharap semuanya damai dengan keadaan.
__ADS_1
"Jika boleh, aku ingin meminta sesuatu. mulai besok kau tak usah kesini lagi, biarkan Dimas yang datang, aku ingin belajar mencintai seseorang yang mencintai ku, dan Dimas sepertinya memiliki hal itu"
Aku kemudian mendekat pada Silvi, kita berdua tersenyum pada Tya.
"Tentu saja, tapi segera beri kabar jika kau sudah sehat, kita adakan double date untuk merayakan kesembuhan mu, dan kamu yang menentukan tempatnya"
"Ya, tentu saja"
"Aku menunggunya. kalau begitu kami pamit, hari sudah sore, jaga dirimu, semoga kita cepat berjumpa lagi"
"Selamat tinggal" ujarnya dengan tersenyum dan meneteskan air mata.
kami berdua melangkah keluar dari ruangan itu, setiap langkahnya terasa melegakan, beban yang merantai hati kini sudah lepas. tak lagi ada perang perasaan, semesta sedang mendukung keadaan.
Ditengah perjalanan pulang, Silvi menatapku, tak lama air matanya bercucuran, dia menangis dalam pelukan ku.
"apa ini tak apa-apa Ura?, aku takut dia seperti itu lagi, aku tak mau ada yang sakit hati"
"Tenang saja, hatinya yang terluka sudah mulai sembuh, biarkan waktu yang memaksanya melupakan kejadian ini."
aku mengusap air matanya, namun tetap saja air matanya itu tidak mau berhenti.
__ADS_1
"jauh didalam hatiku, aku senang pernah mencintai nya, tapi aku bahagia dicintai mu" ujar ku menghibur nya.
Air matanya membasahi dada ku, dia menangis begitu kencang, akhirnya sore itu bersama lembayung, Silvi menumpahkan kesedihan dan ketakutan nya.