
Setelah gelap terbitlah terang, selepas rindu datang juga pelukan, setelah amarah datang pula penyesalan.
Dibawah sinar mentari pagi aku berjalan, menuju tempat yang sudah ditentukan, untuk pertama kalinya kita berjanjian, untuk membicarakan sesuatu yang telah di tentukan.
sebelumnya Tya memintaku dan Silvi untuk bertemu, dia berkata ada yang ingin dia sampaikan.
Taman kota tempat kami bertemu, tempat yang tidak pernah berubah, pepohonan yang rimbun dan bangku taman dibawahnya menjadi saksi, begitu pula dedaunan yang gugur adalah hiasan setiap perjalanan, meski ini tempat yang sama namun selalu ada kisah baru ditempat ini. ada bahagia, tawa, beberapa pula ditujukan derita dan kesedihan, namun taman kota tetap seperti ini, dalam keheningan dia berbisik licik, membisikan kejadian yang pernah berlalu.
lalu saat aku merenungkan keadaan ini, datanglah kedua wanita dari arah berlawanan, yang datang dari arah kiri, kulihat sorot matanya yang tajam, senyum menghiasi wajahnya, terpancar rona kesiapan dalam pertemuan ini, sedangkan yang datang dari arah kanan, matanya sayu, ada kesedihan yang begitu besar yang ingin dia sampaikan, dia berjalan dengan tertunduk dan lesu.
saat mulut mulai berucap, alam sudah siap merekam setiap kejadian, dan apa yang telah tersampaikan tak dapat lagi ditarik, atau dibatalkan.
"Aku dan Silvi memenuhi keinginanmu untuk datang, sebenarnya apa yang ingin kau sampaikan, hingga harus sepagi ini kami datang"
"Pagi hari adalah saat yang tepat, agar kalian bisa mendengarkan, dimana pikiran masih dalam keadaan bugar, dan hati masih dalam keadaan tenang"
ucapan nya membuka setiap kejadian dimasa depan, apa yang dia harapkan dan apa yang dia sembunyikan akan terlihat jelas, bibirnya mungkin akan mengatakan sebagian, tapi sisanya akan dikatakan oleh sorot matanya, karena aku mengerti ini tentang kesedihan.
__ADS_1
"hari ini sudah aku putuskan untuk berdamai dengan diri ku sendiri, melepaskan semua perasaan hingga aku menerima keadaan. dan telah aku bulatkan, semua tekad yang aku perjuangkan akan aku gugurkan, biarlah aku memintamu untuk setia padanya, karena aku telah merelakan, biarlah ikatan kita menjadi sebuah persahabatan agar lebih abadi dan tak saling menyakiti "
bibirnya bergetar mengatakan kebohongan yang begitu besar, jiwa nya menahan semua amarah dan ketakutannya, dia berbohong karena tak sedikitpun matanya menatapku, tapi kali ini aku terima setiap kebohongan yang dia katakan. supaya menjadi sebuah kedamaian dan hilanglah pertikaian.
namun rupanya Silvi tidak menerimanya begitu saja, raut wajahnya menunjukan kekecewaan, bukan dia tak ingin menang, tapi dia merasa kali ini dia merebut ku darinya, dia berkata
"Apa benar yang kau katakan itu Tya, aku mencium kebohongan dari perkataan mu itu, sungguh aku memang tak rela untuk memberikannya padamu, tapi jika seperti ini aku seperti mengambil nya dengan paksa dari tanganmu, tangan yang selalu rapuh dan penuh harapan, tangan itu pula yang pernah membantunya agar tidak menyerah. aku hanya tidak ingin sesuatu yang membuatnya tumbuh, hancur karena aku yang kembali datang dari masa lalu"
Tya hanya menangis, air matanya membasahi pipi, jatuh menyentuh tanah. bergetar tubuhnya, terdengar jeritan jiwanya
"Maafkan aku Tya, aku tidak bisa membuatku jatuh dalam cintamu, karena dia memang selalu bertahta, aku memang mendekatimu, bukan untuk pelampiasan cintaku, namun untuk pembelajaran, bahwa aku harus tetap hidup dan harus tetap mencintai. karena cinta adalah kekuatan terbesar, kekayaan terbesar dalam hidupku"
Tya hanya tersenyum padaku, senyuman yang palsu, dia memaksakan dirinya untuk tersenyum di atas derita yang dia rasakan.
"Lalu untukmu Silvi, aku akan membunuhmu jika kau tidak serius mencintai nya, dan jika kau berkhianat akan aku tusukan kepedihan ini padamu, aku akan menikamkan nya berkali-kali, hingga kau akan menderita lebih dari yang aku rasakan. tapi jika kau menjaga nya, aku ikhlaskan setiap kehinaan yang jatuh padaku, dan lepas pula kasih dan ikatan aku dengan Nata mulai saat ini, biarlah taman ini menjadi saksi"
Tya tersenyum, namun air mata tetap berjatuhan, kemudian dia melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"kemudian, aku ingin menjadi sahabat mu, sahabat yang akan mendengarkan setiap keluh kesah mu, kesakitan mu dan bahagia mu"
ketika air matanya jatuh, aku tak bisa menenangkan nya dengan pelukan, aku harus menjaga apa yang dia percayai, meski dia yang meminta atau memaksa, aku takkan memeluknya.
ditengah tangisan Tya, seorang laki-laki datang dan memeluknya, menenangkannya, dan mengusap air matanya.
Dimas, dialah yang datang sesaat setelah Tya menjatuhkan air matanya, dari matanya aku mengerti kenapa dia selalu menyembunyikan matanya saat kemarin Tya datang, dia menyembunyikan perasaannya.
"Sudah, jangan menangis. aku sudah bilang kemarin bukan? melepaskan tali yang mencekik perasaan akan sedikit menyakitkan, namun akan terasa melegakan"
Tya menangis begitu hebat dalam pelukan dimas, sementara Silvi hanya menatap ku yang merasa cemburu melihat Tya di pelukan orang lain.
Ada sedikit rasa sakit yang menggelitik dalam hatiku, tentu saja tidak sebentar kita bersama, waktu yang aku habiskan bersamanya juga terlukis indah menjadi kenangan, kali ini aku begitu serakah, mencintai keduanya dan menginginkan keduanya. makin lama melihat mereka berpelukan, makin terluka hati dan perasaan. jadi sebenarnya Tya sudah ada dalam hatiku, dan membaur dalam jiwaku, saking dekatnya aku hanya merasakan tiada yang lain selain diriku, dan setelah melepas nya, aku mengerti. ada bagian dari jiwa ku yang hilang. rasanya sama, sangat sama persis saat aku melepas Silvi.
Saat dia berjalan menjauh dari tatapan mataku, bayangannya mendekat melepas rantai rindu dari masa lalu, kini perasaanku di adu, siapa yang seharusnya bersamaku, penderitaan itu kini lahir kembali, kesedihan ini datang kembali, rasa sakit ini mulai menari kembali.
Sementara Silvi dia menatap ku, seakan dia menahan ku untuk tidak mengejar Tya, pelukan nya melemahkan ku, lalu manis ciuman dari bibirnya membius ku dari rasa sakit.
__ADS_1