Amnesia

Amnesia
Bagaimana Jika Dia Masih Hidup ?


__ADS_3

Novel keduaku sudah selesai, aku sudah memberikannya pada editor. semuanya aku rasa sudah oke. hanya menunggu waktu untuk penerbitannya.


"Kamu punya ciri khas dalam menulis, perasaan yang ingin kamu sampaikan begitu tulus, seperti aku sendiri yang merasakannya"


"Terimakasih pak atas pujiannya"


"Ini aku usahakan terbit secepat mungkin, pasti jadi best seller, kalau ceritanya seperti ini l. lanjutkan terus nak"


"Iya, pak terimakasih"


"Nak, kau punya bakat yang hebat. tapi menulis itu ada dua jiwa. yang pertama menulis karena uang, yang kedua menulis karena kepuasan. kelebihan mu adalah penyampaian rasa pada para pembaca, sedang kelemahan mu adalah pada pemilihan kalimat"


Senang sekali rasanya aku dipuji seperti itu, namun jika aku ingat kembali alasan kenapa aku mulai menulis, itu karena Silvi yang memintanya, andai saja dia melihat keberhasilan ku ini.


Sore hari di kosan yang berantakan, Tya datang menemui ku, dia bilang merindukanku, padahal setiap hari kita bertemu


"Maaf aku jadi sering kesini dan merepotkan mu, aku hanya selalu merindukanmu" wajahnya memerah


"Tak apa Tya, aku juga merasakan hal yang sama"


Tya kemudian memelukku, aku menyukai dia yang seperti ini. wajahnya yang memerah itu imut sekali.


"Mau makan apa ? Biar aku yang memasak".


"Apa saja boleh, aku juga sudah lapar"


Tya kemudian bergegas ke dapur, dan mulai memasak sedangkan aku mulai belajar untuk sidang skripsi ku.


Masakan Tya sudah matang, baunya harum sekali, sudah lama aku tidak makan makanan yang di masak seperti ini, biasanya aku lebih sering membeli makanan siap saji.

__ADS_1


"Ini enak" ujar ku menikmati masakan Tya


"Tentu saja, aku ini calon istri yang baik" dia mengucapkannya dengan manja


"Iya, iya"


Selesai makan, aku kembali belajar, namun Tya mengajak ku mengobrol.


"Bagaimana jika aku tidur disini lagi? ada yang ingin aku bicarakan denganmu" tatapannya begitu serius.


"eh, Aku akan sibuk mempersiapkan sidang ku, apa kau tak keberatan aku sedikit mengacuhkan mu?" ujar ku menggoda


"Tak apa, aku hanya ingin berbicara dan menemanimu" Ujar Tya yang menaiki kasurku.


"Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan, tumben sekali kamu ingin berbicara serius seperti ini?" mulai duduk disampingnya.


"Sebenarnya aku sedang takut" ekspresi nya berubah. matanya pucat, wajahnya sayu.


"aku takut kehilangan mu" dia menatapku dengan berkaca-kaca


"hahaha aku takkan pergi kok, sekarang aku ini pacarmu loh" aku mencoba mengalihkan kesedihannya.


aku mulai memeluk Tya yang ada di kasur, tubuhnya gemetar, dia benar-benar merasa ketakutan, aku coba menenangkan nya. didalam pelukanku dia berkata.


"aku percaya kau tidak akan mengkhianati ku, namun bagaimana jika Silvi kembali? apakah kau akan meninggalkan ku lagi"


ucapannya terasa begitu menganggu ku, benar kata dia, apakah aku akan kembali pada Silvi? atau aku akan tetap bersama Tya, aku tak bisa memikirkan nya.


sekarang suasananya begitu terasa canggung.

__ADS_1


"aku tak tau Tya, aku tak bisa menjawabnya"


"jadi kamu berharap dia masih ada?" air matanya mulai jatuh


"Tentu saja, aku tidak mungkin tidak mengharapkan itu"


"dan kau akan meninggalkan ku?" Tya mencoba memelukku dan dia mulai menangis


"aku tidak tau, tapi sekarang aku mulai mencintaimu"


"aku cuma berharap kamu tidak menyesali sesuatu yang tidak harus kamu sesali"


"Terimakasih Tya, semoga kamu mengerti"


"Kau enak sekali bisa memilih, sedangkan aku tak punya pilihan, hanya bisa menunggu, apakah kau akan memilihku. namun berdiam diri rasanya menyakitkan sekali" Tya benar-benar menangis, dalam pelukku, aku tak bisa meringankan kesedihannya, dan yang aku sadari dia takut aku akan pergi meninggalkan nya.


Tya mencoba menahan tangisannya, matanya begitu merah, dia mencoba menutup matanya, mulutnya berusaha menahan tangisannya. namun aku pikir aku akan membiarkan nya menangis kali ini, semoga saja ini membuat hatinya menjadi sedikit lebih tenang.


"Aku juga tak bisa, aku tak bisa memilih untuk melupakan nya, meski berjuta kali ku coba" ucapku dengan jujur.


"Satu-satunya yang bisa membunuh perasaanku adalah dirimu, jadi tolong berhati-hati lah"


Tya kembali menangis, air matanya turun membasahi wajah, dari matanya aku mengerti penderitaan yang sedang dia rasakan.


rasanya agak canggung, namun aku belajar mengatakan yang sebenarnya, karena kebohongan hanya akan membekukan hati.


"Tya, aku harap kau tetap bersamaku, aku pernah hampir gila karena kehilangan dia, dan sekarang aku tak mau kehilangan mu"


"Dia memang sangat berharga bagimu ya" dalam tangisnya dia tersenyum. dia benar-benar sangat ketakutan dan menderita.

__ADS_1


dan aku juga merasa menjadi seorang pecundang, aku tak bisa memilih jika hal itu terjadi. aku bisa saja berbohong, namun aku takut akan membuatnya lebih tersakiti di lain hari.


__ADS_2