
Waktu berlalu begitu cepat, suasana damai dan tenang kembali datang, meski beberapa percikan muncul, namun panasnya tak terasa, karena sebelumnya aku pernah terbakar
Tya dan Silvi mereka sudah berbaikan, aku pikir mereka jadi lebih dekat sekarang, namun masih ada ketegangan yang terjadi jika membahas tentang diriku.
dikelas yang dingin, ditemani daun-daun yang mulai berguguran, Tya mendatangi ku, diikuti tatapan tajam Silvi yang menusuk.
"Kejadian kemarin lupakan saja, anggap kamu tak pernah mendengarnya" ucapnya begitu dingin
"ya, bukan masalah untukku" jawabku.
"aku juga akan meminta maaf pada Arif" ucapnya.
kulihat dia seperti kehilangan ekspresi nya, begitu dingin dan kaku. sebenarnya aku pikir aku juga menyukainya, namun aku mencoba menjaga hatiku, karena Silvi lebih dulu datang dan mengisi didalamnya.
"Nanti makam, temui aku di rumah ya, aku menunggumu" ucap Silvi
"iya, ada apa? tumben sekali kamu mengajakku pergi malam hari"
"Sudah, jangan banyak bicara, datang saja" ujar silvi menggoda
"Baiklah, asal kamu dandan yang cantik"
"apa aku ini kurang cantik dimatamu?"
sejenak aku terdiam, bagiku Silvi sendiri adalah bentuk keindahan yang sempurna. wanita dengan mata yang lebar, hidung yang mancung, serta bibir yang tipis, tinggi yang semampai dan kulit yang putih, sulit rasanya membayangkan wanita yang lebih cantik darinya. dan yang paling aku sukai adalah sifatnya yang jail dan spontan, dia tak pernah malu-malu melakukan apapun. wanita yang asik
"iya cantik, cantik banget" jawabku dengan nada malas
"Ura, jahat banget" Silvi marah, dia cemberut dan pipinya menggembung, manja sekali.
tak terasa, sudah waktunya pulang, Silvi dia pergi duluan katanya menyiapkan kan sesuatu untuk nanti malam. digerbang sekolah, ku ku lihat Tya. sepertinya dia sedang menunggu seseorang.
"Tya, sedang apa kamu disini"
"Aku menunggumu, aku ingin pulang bersamamu, bukankah Silvi pulang duluan, jadi tak masalah kan?"
"iya oke, lagian rumah kita searah"
__ADS_1
di perjalanan Tya, hanya diam membisu, sesekali dia melihat ke arahku.
"Nata, kamu tau. ini tak mau pergi, bahkan rasanya semakin membesar" ujar Tya sambil memegang dadanya.
"Mungkin masih dalam masa pertumbuhan" jawabku polos
"Nata, mesum!" ucap Tya wajahnya memerah
"Ah, aku salah ya? jadi apa maksudmu?"
"Perasaan ini Nata, apa kamu tau cara membunuhnya, aku merasa makin lama makin menyakitkan"
aku hanya tersenyum mendengar ucapannya, lalu ku elus-elus kepala Tya.
"Kelak, perasaan itu akan datang di saat yang tepat, untuk orang yang tepat pula, semoga kau segera menemukannya"
"Menurutmu, kamu bukan orang yang tepat?"
"Banyak yang jauh lebih baik dari aku, ini hanya soal waktu, nanti juga terbiasa"
"Apa?"
"Temani aku di rumah sebentar, aku takut, tak ada siapa-siapa disana"
"iya, tak apa, tapi nanti malam aku harus pergi, aku sudah ada janji"
sesampainya dirumah Tya, aku disuguhi teh dan makanan ringan. aku berbincang banyak hak dengan Tya, termasuk masalah keluarganya, dia merasa kurang perhatian dari kedua orang tuanya, ah wajar saja, kedua orang tuanya sangat sibuk sekali.
namun didalam percakapan itu, Tiba-tiba Tya memelukku, sementara aku hanya terdiam.
"Nata, apa aku kurang menarik untukmu?"
"Bukan seperti itu Tya, kamu cantik sekali kok, aku hanya menjaga hatiku"
aku coba melepas pelukannya,
"Sebentar, sebentar saja, aku sedang menikmati nya" Tya memelukku lebih erat.
__ADS_1
"Hangat badanmu, wangi tubuhmu, dan sikapmu yang baik aku selalu menyukaimu" ujar Tya.
"Maafkan aku ya, aku tak bisa"
"Aku mengerti, tapi tolong kali ini saja, jangan kau lepaskan, kau cuma ingin kamu mengerti perasaanku"
tak lama Tya menangis dalam pelukanku
"Aku tak pernah memiliki apa yang aku mau, keluarga, teman bahkan cinta, aku tak mendapatkan nya"
aku coba menenangkannya,
"Tenangkah, aku akan selalu mendukungmu, aku tak suka saat kamu menangis"
"Iya, aku tau, bahkan saat tertawa pun kau tak menyukaiku, kamu hanya menyukai Silvi"
"Maafkan aku"
Kulihat waktu sudah menunjukan jam 7 malam, ku lepas pelukan Tya,
"Maafkan aku Tya, aku harus pergi"
aku bergegas menuju rumah Silvi, sesampainya disana, Silvi menuntunku, mengajak ku ke atas, terlihat ada teropong disana.
"Sejak kecil, aku suka melihat bintang, dan yang paling bersinar itu kamu" ujar dia menunjukan bintang yang terang.
Silvi terlihat sangat bahagia sekali, senyuman itu tak lepas dari wajahnya, seperti bintang yang menghiasi langit malam, mereka bersinar terang, dan kau Silvi bkau sedang bersinar sangat terang
"Dimanapun kau berada, kita akan selalu melihat langit yang sama" ujar Silvi
"Bisakah kau tetap disini?, aku takut jika hidup tanpa kehadiranmu" ujarku yang mencoba neraih tangan Silvi dan meletakkan nya didadaku.
Tiba-tiba dia memelukku,
"Tak ada yang mengerti aku lebih darimu, bahkan aku sudah meletakkan hatiku disini, dan hari esok membuatku sangat ketakutan, jadi peluklah tubuhku, dan rasakan tubuhku yang menginginkan mu, rasakan hangatnya, kehangatan yang biasa dilakukan seseorang saat bercinta, aku pikir aku takkan mungkin untuk jatuh cinta lagi, banyak hal yang ingin ku katakan padamu, tapi jangan biarkan ini menjadi malam terakhir untuk kita, aku harap ini takkan berakhir, meski setiap hari aku didekati dengan ketakutan, jangan lupakan aku, karena aku takkan jatuh cinta lagi."
"Aku akan selalu mengingat nya, tapi kamu tau Silvi, aku selalu merasa hal ini aneh, aku selalu melihatmu begitu sempurna, mencintai orang aneh sepertiku, aku melihatmu seperti burung yang terbang ditaman surga, beberapa saat aku juga merasa tak mampu untuk melihat matamu, kamu tersenyum seperti malaikat dan itu membuatku menangis, aku harap aku juga spesial sepertimu, namun aku ini hanya orang aneh yang beruntung dicintaimu, aku juga tak mengerti apa yang aku lakukan ini, disini dalam pelukanmu, aku hanya ingin menahanmu tetap seperti ini, untuk tak lari, aku takut sangat ketakutan, aku takkan bisa merasakan apapun lagi"
__ADS_1