
Sial, aku tidak bisa tidur, setelah mendengar Tya menangis di telepon membuatku sangat merasa bersalah. tapi aku harus mengatakan yang sejujurnya.
Malam yang panjang, rasanya membosankan. aku mencoba kembali menulis, namun tak ada satu katapun yang bisa ku tuliskan. aku kehilangan imajinasi dari kata-kataku.
aku mencobanya, nyatanya tanganku hanya bergetar, keringat berkucuran membasahi tubuh, aku rasa pikiranku terus menolaknya. aku harus menulis sesuatu, tapi kenapa rasanya menjadi sangat sulit, apa yang terjadi. aku merasa buruk sekali, ah apa aku harus berhenti menulis?
ingin sekali aku menceritakan masalahku pada Tya, namun aku rasa aku akan membuatnya khawatir.
Waktu kembali berganti, aku kembali berkunjung ke rumah Silvi. namun kali ini ada yang sedikit berbeda, Silvi sudah menungguku didepan rumahnya, dia tampak berseri dan semangat.
"Hallo selamat pagi Ura" Ucapnya tersenyum
aku kaget, mendengar ucapannya itu, apa ingatannya telah kembali?
"Selamat pagi Silvi, kali ini kau memanggilku Ura, apa kamu sudah mengingat semuanya?"
aku tersenyum lebar.
"sayang sekali belum, tapi aku ingin memulainya dengan memanggilmu seperti itu, apa kau tidak keberatan?"
Silvi tersenyum, anggun sekali Silvi hari ini, sepertinya dia sedang dalam keadaan mood baik.
"Tentu saja tidak, aku malah senang mendengarnya kembali"
__ADS_1
"Oh iya, silahkan masuk"
kali ini Silvi mulai menarik tanganku, masuk kedalam kamarnya. sebenarnya ada apa ya?
"Sini, aku ingin memastikannya"
ah sifat Silvi yang manja dan jail sudah kembali. aku jadi merindukan masa lalu, saat kami masih bersama
"Apa? apa yang ingin kau pastikan"
kamarnya kembali, seperti kamarnya yang dahulu, begitu banyak fotoku di sana.
entah bagaimana aku harus menahannya, air mata turun begitu deras, perasaan senang dan sedih datang bersamaan, aku hanya ingin menangis.
Silvi kemudian memelukku, sedangkan aku terkurung dalam rasa yang sebenarnya tak pernah hilang.
"Aku baca dari novel ini, aku dahulu menyukai pelukan darimu"
aku memeluknya dengan erat, tak ingin aku lepaskan lagi, tak ingin aku kehilangan lagi. perasaan ini tak pernah berubah, masih untukmu. masih sangat mencintaimu.
"aku merindukanmu, sungguh sangat merindukanmu"
"aku tau kamu begitu tersiksa, maafkan aku yang belum banyak mengingat semua tentang mu"
__ADS_1
"tidak apa-apa, aku juga sangat senang bertemu dengan mu lagi"
"eh kenapa air mataku mengalir"
Ku lihat Silvi pun menangis, dia bingung kenapa dirinya seperti ini
"Entahlah, rasa nya aku sangat merindukanmu, ingatanku mungkin hilang, tapi sepertinya rasa ini masih ada"
dalam pelukan itu, air mata bagaikan sungai yang mengalir di surga. aku harap rasa ini menuntun kita untuk menemukan ingatannya yang hilang. mengembalikan apa yang seharusnya terjadi.
"aku membacanya, sudah beberapa bagian, namun air mataku tak pernah berhenti keluar, dalam kisah ini kau dan aku sepertinya mengalami masa-masa yang menyenangkan"
Silvi mulai melepaskan pelukannya, dia tersenyum begitu manis, namun air matanya terus berkucuran.
"aku sudah lama sekali merasakan kekosongan hati, aku juga sudah mencari jawaban kemanapun, ternyata jawabannya adalah dirimu"
"begitu pula aku, lama sekali aku menikmati penderitaan setelah kau pergi"
aku mencoba mengusap air matanya
"bahkan setelah itu, aku hanya bisa mengurung diri, terjebak dalam kenangan"
"Maafkan aku Ura, aku akan mencoba mencari ingatan dan rasa ku dimasa lalu, bantu aku"
__ADS_1
"tentu saja"