Amnesia

Amnesia
Tragedi 3


__ADS_3

Sudah tiga hari sejak kejadian itu, setiap hari aku hanya mendatangi RS dan melihat silvi yang tergeletak lemas, aku bingung apa yang harus aku lakukan sekarang. sementara itu, ayah dan ibunya Silvi telah menyebarkan poster tentang kebutuhan donor jantung untuk Silvi, bahkan mereka rela mengeluarkan uang sampai 12 Milliar, untuk orang yang bersedia mendonorkan jantungnya bagi Silvi. namun sampai saat ini tidak ada satupun yang menghubungi atau berminat.


Sesekali aku datang menjenguk Tya, diruangan Tya selalu ada Dimas yang menghibur ku dan menghibur Tya. di ruangan ini aku merasa lebih santai dan lebih relax.


"Bagimana apakah kalian sudah dapat donor jantung untuk Silvi?" ujar Tya dengan suara yang begitu lemas.


"Entahlah, aku juga tak tau, aku pikir tak ada yang mau mengorbankan hidupnya demi orang lain, meski dengan embel-embel uang sebanyak itu"


"Ayolah semangat, kamu tidak seperti Nata yang aku kenal saja" ujar Dimas menghibru

__ADS_1


"aku mencoba tersenyum, namun berat rasanya, seorang yang aku cintai sedang tergelak tak berdaya, dan aku tak bisa melakukan apapun"


"itu tak benar, kau sudah melakukan banyak hal untuknya, baberapa kali kau sudah menyelamatkan hidup dan kehidupannya, aku percaya Silvi pasti selamat" ujar Tya


"Bukankah kau ini kuat?, berjuta kesedihan telah kau lewati, setelah ini aku yakin ada makna yang bisa kau ambil, ada kekuatan yang membentukmu, bersabarlah" Dimas menenangkanku


"Aku selalu mencoba berbaik sangka pada Tuhan, karena keadaan ini pun pasti karena kehendakNya, aku tau skenario Tuhan pasti lah indah, jadi aku selalu mencoba untuk tenang, meski hatiku sering kali menggerutu, meski setan dalam jiwaku sering bertingkah, aku akan mencoba menerima setiap kejadian. Tapi aku juga hanyalah manusia biasa, yang merasakan kesedihan dan kepedihan, kadang merasa begitu tertekan, padahal aku mengerti semua kejadian ini adalah bentuk kasih sayang Tuhan, meski aku belum menemukan maksud dan tujuanNya"


Kini hari-hariku diisi dengan ketakutan dan kegelisahan, aku hanya mundar-mandir di RS, untuk melihat Tya dan Silvi, keduanya begitu lemah, sakit. Aku sebagai lelaki merasa gagal, tak ada yang bisa aku lakukan, tak ada yang bisa aku selamatkan satupun.

__ADS_1


Hari ke 10 Silvi di rawat, kondisi Silvi memburuk, dia harus segera mendapatkan donor organ jantung, namun sampai saat ini belum ada yang mendaftar atau bersedia mendonorkan jantungnya untuk Silvi. Sedangkan Tya divonis gagal otak (mati otak), hingga kesadarannya menurun dan dia koma.


Hari-hari yang berat aku lewati, bukan hanya kekasihku, sahabatku, mantanku juga sedang kesakitan, aku sungguh merasa berada di titik yang sangat rendah.


Kecewa, frustsi, bingung, takut, entah apa lagi emosi yang aku rasakan, semuanya terasa hancur, aku seakan-akan disiksa dengan kepedihan mereka, disiksa dengan ketakutan kehilangan.


Hari ke 11 aku ambruk, sakit, kelelahan. dengan panas yang sangat tinggi, aku hanya terbujur kaku di kamarku, aku mencoba berusaha berdiri namun aku jatuh dan tersungkur. Aku duduk di kasur menghadap cermin, terlihat mata yang sayu, dengan lingkaran hitam, wajah yang pucat, wajah seseorang yang sudah kehilangan semangat untum hidup.


Hari ke 12 dalam sakitku, aku mendengar berita Tya siuman, dengan wajah yang pucat dan badan yang panas aku memaksakan diri untuk pergi ke rumah sakit, namun apa yang aku dapatkan, bukanlah hal yang bagus.

__ADS_1


Tya hanya siuman sekitar 45 menit saja, itupun dia habiskan untuk menulis surat wasiatnya, ibu dan Dimas memberi tahuku bahwa selama Tya dalam keadaan ini, dia tidak mau aku berkunjung, dia tak mau memperlihatkan kelemahannya didepanku, dia bilang pada Dimas untuk menyuruhku lebih memperhatikan Silvi dibanding dirinya dan menyuruhku jangan mencarinya, Tya bilang dia akan mencariku setelah dia sehat, jadi selama dia sakit aku tak boleh menemuinya.


Minggu ke 2 setelah kecelakaan itu, demamku semakin tinggi, bahkan aku tak bisa bangkit dari tempat tidurku, hari itu aku berharap untuk mati saja, agar aku Tya dan Silvi bisa kembali bersama, berkumpul kembali di surgaNya. tak ada lagi semangat untuk hidup, tak ada lagi harapan untuk bangkit, aku terpuruk.


__ADS_2