
Aku tak tau apa yang dia sembunyikan, penting kah? lalu kenapa aku tak berhak mengetahui nya? kenapa dia begitu gelisah?, keringat dingin mengalir dari tubuhku, hanya hangat peluknya yang membuat ku masih hidup saat ini.
Aku sebenar nya sudah berubah, dan Silvi lah yang mengubahku, aku sebenarnya takut untuk jatuh cinta. lebih tepatnya aku takut dikecewakan. aku sudah lama berteman akrab dengan kesepian, namun setelah bertemu dengannya, aku sangat takut kesepian. waktu cepat berlalu, tapi semoga kau tetap milikku.
aku terdiam dikamar, semenjak kejadian itu, Silvi selalu datang ke kamarku, dia tak berubah, seperti tak ada yang terjadi, tapi jika dia tau, rasa ku padanya pun tidak berubah.
sore menuju senja, di kamarku. aku coba memeluk Silvi dari belakang, dia sedang sedang berkaca. dia berkata sesuatu padaku
"Kamu selalu seperti ini, seperti kamar ini yang tak pernah berubah, meski tahun ke tahun silih berganti, lemari tua dan jam dinding selalu berada diposisi yang sama, begitu pula cermin yang ku gunakan ini, untuk melihat dosa dosaku kebelakang, hanya kalender yang berganti, kau sobek itu setiap hari, di setiap sobekannya ada cerita baru, dulu saat kau pulang, aku selalu tak sabar menunggu esok, berharap ada kau dan cerita menarik lainnya, waktu terus berlalu, kini kau tetap menyobek kalender itu, dan aku tetap berharap esok segera tiba, dengan cerita dari dirimu yang menarik setiap harinya"
lalu ku lihat kaca, di sana terlihat jelas, rona merah dari wajahnya, terpancar rasa sedih dan penyesalan, dia menggerutu banyak hal, banyak sekali lubang dari hatinya yang tidak aku ketahui, saat ini aku hanya bisa memeluk tubuhnya, namun aku tak bisa menghangatkan hatinya.
"Maafkan aku, aku telah menuduhmu hal yang aneh-aneh kemarin"
__ADS_1
"Tak apa, aku mengerti, Ura jangan kau pikirkan itu lagi, maafkan aku, ada hal yang tak bisa kamu ketahui, namun jika kau tanya hatiku, ini milikmu seorang"
Keduanya sedang diterpa badai cemburu, keringat membasahi keduanya, bercampur dengan banyak kecurigaan, mereka saling memaafkan.
namun setelah itu ada ruang di antara kami, ruang yang meregang, dipicu rasa bersalah, dan ego menjadi tiangnya.
dan jika aku ingat kembali, dia pernah mengatakannya, bahwa perpisahan adalah kepastian, ada sesuatu yang kau kunci sangat rapat, aku sebenarnya ingin sekali mendobraknya, namun belati didalamnya siap menghujam jantungku.
tak terasa, sudah seminggu seperti ini, bersama tapi tak ada kata, diam dan membisu, aku coba menginjak egoku, dan aku mengatakan sesuatu padanya.
"Silvi, apa kamu tidak merasa ini sangat menyebalkan? kita bersama tanpa ada kata muncul, tidak ada pula nada berkumpul?"
"Maafkan aku, aku tak tau harus bagaimana, kau membisu, aku lebih senang jika kau marah, karena jika kau marah hanya hatiku yang terluka, namun saat ini kau membisu, meniadakan keberadaan ku, jiwaku sangat tersiksa, dan aku tak bisa berpikir dengan jernih, mungkin biarlah air mata yang bisa melukiskannya, dan tidakkah kau lihat aku sangat menderita, karen cintaku padamu, jadi percayalah, aku ini milikmu, aku taruh semuanya, bahkan jiwaku untukmu"
__ADS_1
"Sekarang buktikan lah, agar aku percaya"
"Kau ikut aku sekarang!, Siapkan hatimu"
Selama perjalanan, aku hanya sibuk mengutuk diriku sendiri, banyak penyesalan dari mulut yang berdosa ini, kali ini makin berat, menatap nya saja aku tak mampu.
namun sesampainya dirumah Silvi dan masuk ke kamarnya, jatuh berceceran air mataku tidak mau berhenti, bagaimana bisa aku meragukan seseorang sepertinya, di sana terpampang jelas foto-fotoku, dari berbagai sudut, ini gila, semuanya ada, semanjak aku kecil sampai sekarang. dan satu foto besar saat Aku dan Silvi berpelukan.
"Gila, kamu sangat gila Silvi"
"Apa kamu masih tak percaya, bahwa aku sangat tergila-gila padamu"
aku peluk Silvi, aku cium bibirnya yang manis, ku belai rambutnya, hari itu semua rasa bersatu terlukis dalam keringat yang membasahi tubuhku.
__ADS_1