
π·π·π·
Anna membaca pesan yang ditulis oleh Theo sembari tersenyum. Masih ada rasa tak percaya antara mimpi atau tidak mengenai kejadian tadi pagi.
Apakah dirinya sangat mabuk sehingga membayangkan bahwa Theo melamarnya? Tapi yang tertulis di surat itu mengatakan sebaliknya, Theo dengan jelas mengatakan bahwa Theo adalah tunangannya.
Anna memeluk surat itu seakan surat itu sesuatu yang sangat berharga. Ia tidak henti-henti menyunggingkan senyum saat menyadari bahwa sekarang dirinya tidak lagi seorang diri. Ia tak sabar membagi kabar bahagia ini pada Chaty.
Anna meraih ponsel bututnya dari dalam tas yang tergeletak di atas meja kayu di dalam kamar.
"Halo ... " sapa Anna begitu teleponnya telah bersambung.
"OMG, Anna! Tumben menelepon. Bagaimana kabarnya? Akhir-akhir ini kamu gak pernah terlihat di kampus. Aku jadi kangen tauk! Kamu di mana sekarang?" jawab Chaty yang langsung menghujani Anna dengan banyak pertanyaan.
"Well, aku minta maaf soal ke kampus. Aku hanya memikirkan soal kapan wisuda, sehingga lupa pada sahabatku yang sibuk ujian."
"Ya, gak papa lah! Ngomong-ngomong, ada kabar apa menelepon, kamu baik-baik saja kan!"
"Aku baik, sangat baik. Hm ... aku sekarang sedang dekat dengan seseorang."
"Wow! Ini berita besar."
"Ssttt... rahasia tahu! Gak usah bilang-bilang," kata Anna sambil memutar bola matanya membayangkan ekspresi Chaty.
"Bagaimana? Apa sudah terjadi sesuatu yang bertanda kutip?" goda Chaty.
"Apa sih ... " jawab Anna malu.
"Belum, ya! hehe ... " tebak Chaty yang langsung tertawa.
"Belum sampai sejauh itu, kami hanya berciuman dan ... " ada jeda sejenak.
Anna mengingat-ingat dalam ingatannya yang samar tentang bagaimana Theo menggoda dan merayunya. Serta merta Anna memegang tubuhnya.
Ya ampun, Anna tak menyangka bahwa seseorang selain dirinya telah menyentuh tubuhnya.
Wajah Anna langsung memerah, ia tak bisa meneruskan kata-katanya. Ia malu mengakui pada Chaty bahwa pria itu telah melakukan sesuatu. Ya Lord!
"Dan apa?" desak Chaty, "pokoknya kamu harus meminum pil atau pria itu yang memakai pengaman. Jangan biarkan kalian berdua melakukannya tanpa itu. Kamu masih sangat muda, jangan sampai hamil pada pria yang salah. Pokoknya Fix, jangan lakukan apa pun terlalu jauh.β
βKami tidak melakukan hal-hal sejauh itu,β balas Anna. Ia seakan tahu pikiran liar sahabatnya itu.
βBiarkan aku bertemu dulu dengan orangnya. Aku yang akan membuat penilaian apa pria itu cukup pantas untukmu," pungkas Chaty.
__ADS_1
"Baiklah Nona Chaterine," jawab Anna akhirnya. "Aku akan mengenalkan mu padanya. Aku janji."
"Oke baiklah, sudah dulu Ana. Aku harus masuk kelas."
"Oke, aku akan mengabarimu nanti."
Selesai menelepon Chaty, Anna buru-buru masuk ke kamar mandi untuk melihat tubuhnya. Apakah ada yang berubah? Ia melihat pantulan tubuhnya di depan cermin. Tak ada yang berubah. Hm, untunglah.
π·π·π·
Theo keluar dari tempat meeting dengan gerak cepat. Amber, sekretarisnya sampai pontang-panting mengikutinya. Ia sudah sangat ingin pulang ke rumah menemui tunangannya. Tapi sebelum itu ada sesuatu yang harus di belinya.
"Amber, berikan aku rekomendasi produsen perhiasan terbaik. Kirimkan lewat email. Secepatnya!" perintah Theo sebelum masuk ke ruangannya.
Amber hanya bisa mengangguk. Ada sedikit rona keheranan di wajah cantiknya karena Theo tidak sedikit pun membahas soal meeting yang barusan mereka kerjakan. Alih-alih membahas pertemuan tadi Theo malah membahas tentang perhiasan.
Tapi toh Amber bisa apa, perintah ya perintah. Dengan cepat Amber mengerjakan perintahnya. Tak butuh waktu lama untuk mengerjakannya. Dalam 10 menit ia telah mengirim email berisi beberapa rekomendasi produsen perhiasan terbaik dan berkualitas yang tentunya pasti sangat mahal.
Theo memandangi beberapa pilihan cincin pertunangan. Semua terlihat bagus, tapi Theo ingin sebuah cincin pertunangan yang manis, mewah tapi tidak berlebihan.
Setelah menemukan yang cocok Theo lalu membelinya. Ia menolak layanan antar karena ia akan mengambilnya sendiri nanti dalam perjalanan pulang. Sembari menyelesaikan mekanisme pembayaran, Theo meraih gagang telepon dengan satu tangannya yang lain untuk menghubungi asistennya.
"Amber, kesini sebentar!" perintah Theo pada sekretarisnya.
"Aku butuh kamu merevisi kontrak kerja dengan pihak kontraktor. Pastikan tak ada celah dengan kontraknya. Aku tahu aku bisa mengandalkan mu untuk itu. Kirim salinannya lewat email sebelum di cetak. Oia, kosongkan jadwal malam ini, karena aku harus pulang lebih awal."
"Baik pak. Tapi malam ini Anda punya jadwal makan malam dengan perusahaan M&W, mereka akan tertunda pengerjaannya jika Pak Theo membatalkan pertemuannya"
Pihak M&W adalah pemenang tender pengadaan furnitur apartemen yang sedang dikerjakan Theo. Theo mengakui mereka mampu mendesain barang yang sangat classy dan orisinal, dengan harga yang sesuai anggaran.
Hanya saja CEO mereka, Samuel, terlalu sering meminta bertemu dengan dalih desain furniturnya yang rumit dan ingin Theo memantau progresnya. Tapi Theo menduga ada maksud lain, Samuel hanya sangat ingin bertemu sekretarisnya, Amber.
Theo tahu sekretarisnya sangat fokus sehingga mengabaikan hal-hal di luar pekerjaan seperti ketertarikan Samuel. Amber benar-benar mengabaikan Samuel padahal semua perhatian Samuel dicurahkan untuk Amber. Sepertinya Samuel belum ingin menyerah.
Well, kenapa tidak mempertemukan mereka, batin Theo.
"Bagaimana jika kamu menggantikan ku untuk makan malam dengan pihak M&W," usul Theo.
Amber hanya mengedipkan matanya berkali-kali. Ia sedikit tidak percaya. Menghadiri pertemuan seorang diri? Ia tak yakin bisa melakukannya karena proyek ini sangat penting.
"A...Aku..." Amber tergagap menjawabnya. Belum pernah Theo membiarkannya untuk menghadiri pertemuan penting seorang diri, apalagi ini mewakili Theo.
"Well, kalau kau tak keberatan, tentu saja. Melihat pertemuan yang kemarin. Sepertinya pertemuan ini hanya untuk membahas progres pengerjaannya. Jika memang membutuhkan keputusan katakan saja untuk mengatur makan malam yang lain."
__ADS_1
"Hm, baiklah!" jawab Amber akhirnya.
"Dan satu lagi, pastikan kamu yang menentukan tempat makan malamnya. Aku mau kamu merasa nyaman."
"Terima kasih sudah pengertian, saya permisi."
Theo mengangguk. Ia berharap Amber juga menemukan seseorang seperti Theo menemukan Ana.
Begitu teringat Ana, Theo bergegas merapikan berkas-berkas di mejanya dan pulang. Ia tak sabar bertemu kekasihnya.
π·π·π·
Bau harum masakan menyeruak saat Theo membuka pintu apartemennya. Ia bergegas menuju sumber bau yang menerbitkan air liurnya. Dilihatnya Anna sedang berdiri di dapurnya mengenakan apron.
Theo berdiri mematung melihat Anna yang sibuk mengaduk sesuatu di panci, kelihatannya seperti kuah. Betapa pemandangan ini yang selalu diimpikannya, Theo tak menyangka akhirnya keinginannya terpenuhi. Matanya sampai berkaca-kaca, semua kelelahan seakan sirna hanya melihat Anna berada di rumahnya, memasak untuknya. Ia merasa menjadi pria paling bahagia.
Theo serta merta berjalan ke arah Anna.
Anna yang menyadari Theo sudah pulang melempar seulas senyum saat Theo mendekat.
"Sudah pulang," sambut Anna, "aku sedang mempersiapkan makan malam, pergilah ganti baju," ucap Ana lagi sembari sibuk mengaduk.
Tapi Theo tidak beranjak pergi ia malah berlutut di hadapan Anna sembari mengeluarkan cincin yang baru dibelinya.
Menyadari Theo berlutut, Anna kontan saja kaget. Tapi begitu Theo mengeluarkan sebuah cincin, Anna langsung berkaca-kaca. Theo melamarnya lagi.
"Anna, maukah kau menikah denganku dan menghabiskan sisa hidupmu bersamaku?"
Anna tak kuasa menjawab. Ia hanya bisa mengangguk. Air matanya menetes tanpa disadarinya saat Theo menyematkan cincin bermata putih itu di jari manisnya.
Theo menyematkan ciuman penuh kasih sayang di jemari itu lalu berdiri dengan gugup di depan Anna. Ia sendiri tidak menyangka saat ini Anna menjadi miliknya.
Anna langsung memeluk Theo dengan erat. Tak bisa dipercaya, saat ini ia benar-benar telah bertunangan.
Theo balas memeluk Anna dengan satu tangan karena tangannya yang lain tengah mematikan kompor yang tengah menyala.
Theo lalu melepas pelukannya dan memandang Anna dengan tatapan mesra penuh cinta. Diusapnya sisa air mata dari pipi Anna yang putih. Dengan gentle Theo mengusap bibir Anna dengan ibu jarinya.
Theo menundukkan kepalanya dan mendaratkan ciuman di sana, ciuman yang langsung disambut Anna dengan manis.
Anna berjinjit sembari memejamkan matanya, menghayati setiap sapuan lidah dan bibir tegas Theo. Sungguh inilah momen terindah yang tak akan pernah bisa dilupakannya.
π·π·π·
__ADS_1