
🌻🌻🌻
Keesokan harinya, Anna menghubungi Theo.
“Halo ... Kakak ... “ sapa Anna begitu telepon bersambung.
“Halo, Sister ... “ suara di seberang menjawab. “Apa terjadi sesuatu?”
Anna tertawa begitu Theo bertanya. Selalu jawaban yang sama selama bertahun-tahun.
“Aku baik. Bagaimana denganmu? Apa kamu sedang sibuk?”
“Tidak. Tidak sibuk sama sekali,” sahut Theo cepat.
Tapi Anna langsung tahu kalau Theo sedang berbohong. Karena begitu Theo mengatakan bahwa ia sedang tidak sibuk, suara-suara berdengung langsung terdengar masuk ke sambungan telepon.
“Ehem ... “ Theo berdehem pada peserta rapat untuk diam.
Anna tertawa lagi, “aku akan meneleponmu lagi nanti. Katakan padaku jika itu sudah selesai.”
“Ini benar sudah selesai ... “ ujar Theo. Ia lalu menjauhkan ponselnya dan berujar “Baik, rapat hari ini cukup sekian. Amber akan menjelaskan sisanya.”
Suara derak kursi terdengar dan dengungan orang mulai menjauh.
Sekretaris Theo masihlah Amber, batin Anna. Sesungguhnya Theo adalah orang yang setia. Theo juga masih mau menghubunginya dan berusaha akrab meski mereka telah melewati kerasnya perpisahan.
“Apa ada sesuatu yang kauperlukan?” tanya Theo lagi.
“Tidak, aku hanya ingin membahas tentang anak-anak.”
“Apakah ini tentang Dima?”
“Ya.”
Theo diam sejenak. Sebenarnya ia dipesan oleh istrinya untuk merahasiakan detail masalah ini jika seseorang bertanya, bahkan mereka juga telah merahasiakannya dari Daniel. Tapi ketika Anna telah bertanya, bagaimana ia bisa menolaknya? Anna adalah orang dalam daftar pertama yang tak bisa ditolaknya. Mungkin ia tak harus menceritakan detailnya demi menghormati istrinya. Jika sekedar memberitahunya secara umum, kemungkinan tak masalah.
Setelah selesai menimbang baik-buruknya, Theo lantas menyetujuinya.
“Bagaimana kalau makan siang?”
“Bagaimana jika agak sorean?” tawar Anna.
“Sore juga tak masalah. Di restoran biasanya?”
“Sebenarnya aku sedang ingin makan seafood,” aku Anna.
“Seafood juga tak masalah ... “
“Aku akan mengirimkan alamat restorannya. Cukup dekat dengan tempatmu bekerja.”
“Baiklah. Sampai jumpa nanti.”
🌻🌻🌻
Anna menghubungi Thomas via videocall sebelum berangkat.
“Aku akan bertemu kakak sore ini, aku sudah menyiapkan makan malam sekiranya aku pulang terlambat.”
“Aku akan makan malam sampai kau pulang,” balas Thomas.
“Hm, mau kubungkuskan seafood?”
“Apa kamu akan makan seafood?”
“Ya. Bagaiman mau kubungkuskan?”
“Aku lagi tak ingin makan seafood.”
“Baiklah ... “
“Aku merindukanmu ... jangan lama-lama dan cepat pulang.”
“Tentu, begitu selesai aku akan langsung pulang,” janji Anna. Sudah sedewasa ini usia pernikahan mereka dan Thomas masih sering cemburu padanya. “Jangan cemburu, oke!”
Thomas hanya tertawa sambil melihat wajah cantik Anna di layar ponselnya. “Bagaimana aku tidak cemburu melihat istriku dandan cantik sementara aku tidak bersamanya.”
“Apa kamu mau ikut? Sekalian saja aku meminta Wendy untuk datang.”
__ADS_1
“Tidak, tidak perlu. Pekerjaanku masih banyak,” balas Thomas sambil menunjuk dokumen di mejanya. Selamat bersenang-senang. Salam untuk Theo,” ujar Thomas mengakhiri sambungan video callnya.
Thomas mendesah, ia mengutuk dirinya karena bermulut lebar. Tak seharusnya ia mengatakan yang aneh-aneh seperti itu. Ia harus percaya pada istrinya.
🌻🌻🌻
“Apa yang ingin kau makan?” tanya Theo sembari melihat menu.
“Apa ya? Apa kau tak keberatan jika kita memesan menu penuh?”
“Tentu saja jika kau menyukainya,” ujar Theo seraya memandang wajah Anna. Sudah hampir 3 bulan ia tidak bertemu adiknya secara langsung.
“Baiklah, kita memesan ini ... “ ujar Anna pada pelayan.
“Kamu terlihat berbeda,” gumam Theo setelah beberapa menit mengamati adiknya.
“Pasti pipiku yang chubby?” tebak Anna. “Aku telah mendengarnya dari Thomas. Ia juga mengatakan demikian.”
“Ya, aku mengatakan bukan dalam arti buruk. Tapi wajahmu terlihat bengkak. Apa ada masalah sehingga membuatmu makan banyak?”
Anna tertawa, “aku bahkan jarang makan.”
“Oia, apa yang ingin kau bahas mengenai Dima?”
“Apa Dima masih sakit? Terakhir kudengar dari Angel, katanya Dima sakit.”
“Ya, Dima sempat sakit,” jawab Theo pendek. Ia sedikit mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Kendati Anna menggiring pertanyaannya pelan-pelan, ia sedikit tak nyaman membahasnya. Ia takut ia salah mengucapkannya dan membuat masalahnya menjadi runyam.
“Bagaimana kondisinya sekarang?” tanya Anna khawatir.
“Dia sudah lebih baik,” jawab Theo.
“Kenapa Dima tidak kuliah jika keadaannya sudah lebih baik?”
Akhirnya Anna menanyakannya juga, batin Theo.
“Sebenarnya Wendy melarangku untuk menceritakannya ... “
“Apakah seburuk itu kondisi Dima. Apa terjadi sesuatu? Kumohon beritahu aku,” pinta Anna. Wajahnya mengisyaratkan kekhawatiran yang nyata.
Theo mendesah, ia tahu Anna menyayangi Dima sama besarnya dengannya sebagai papa dari Dima, tapi masalah ini ...
Anna langsung pucat begitu mendengarnya. “Kenapa dengan Angel? Maksudku apa yang menyangkut Angel dengan Dima? Setahuku mereka tidak pernah bertengkar,” tanya Anna mengerti.
“Memang tidak pernah,” ujar Theo membenarkan. “Tapi ... “
“Tapi apa?” tuntut Anna.
“Sebenarnya ini ranah anak-anak. Tidak sepatutnya kita mencampurinya.”
“Lantas?” Anna masih tidak mengerti dengan pilihan kata-kata Theo yang berputar-putar.
“Angel menolak Dima!”
“ ... “ Anna sedikit terkejut mendengarnya. Angel menolak Dima? Apa-apaan itu? Bukankah mereka memang sangat dekat layaknya saudara? Ditolak bagaimana? Apakah kesimpulan Thomas semalam memang benar adanya.
“Kau pasti tahu tentang Dima menyukai Angel.”
“Apakah Dima sakit karenanya?” tanya Anna to the point.
Theo menghela nafas sesaat sebelum menjawabnya, namun ia harus menunda menjawabnya karena pesanan mereka telah tiba.
Mereka berdua larut dalam pikirannya masing-masing sembari melihat pelayan menata beraneka ragam seafood segar di meja mereka.
“Apa kamu merindukan kampung halamanmu? Tumben sekali memesan seafood?” tanya Theo sembari membantu Anna mengambil makanan. Ia menyendokkan cumi pedas di piring Anna, “Ini sangat enak, cobalah.”
Anna mencicipinya. “Ini pedas dan enak,” ujarnya. “Jadi bagaimana kabar Dima saat ini?” tanya Anna melanjutkan obrolannya.
“Dima sudah lebih baik,” ujar Theo sembari memulai makan juga.
“Jika ia sudah lebih baik, kenapa ia tidak pergi kuliah?”
“Untuk sementara, kami ingin menjauhkannya dari Angel.”
“Aku mengerti ... “ ujar Anna sambil langsung menelan makanan yang ada di mulutnya. Ia sedikit kecewa, ternyata hubungan anak-anak mereka nyatanya tak bisa sebaik yang ia pikir. Padahal ia telah berusaha mengakrabkan mereka sejak kecil.
“Maafkan aku, Anna.”
__ADS_1
“Kenapa minta maaf? Seperti penjelasanmu tadi kita sebagai orang tua tidak perlu ikut campur masalah anak-anak,” sindir Anna. Ia tak tahu harus bersikap apa saat ini. Mereka telah berada di posisi sebagai orang tua yang masing-masing anaknya tengah tak akur.
“Aku telah bersabar dan membiarkan Angel dan Dima tumbuh besar bersama. Jika akhirnya seperti ini mau tak mau aku dan Wendy harus menjauhkan Dima dari Angel. Putraku telah jatuh cinta cukup lama pada Angel. Tapi sekeras apa pun Dima mencoba hasilnya tetap sama.”
“Aku tahu Angel salah. Tapi perasaan memang tidak bisa dipaksakan. Sekarang katakan sejujurnya padaku. Bagaimana sebetulnya kondisi Dima,” ujar Anna sembari mengupas kulit kerangnya dengan cukup keras. Ia sedikit emosi jika menyangkut anak-anak.
“Kami sedang berusaha mengobatinya.”
Anna menghela napas.
“Mungkin ini salahku juga. Seharusnya aku memisahkan mereka dari dulu. Aku selalu percaya jika Dima harus menyerah akan cintanya atas kemauannya sendiri. Hanya saja sepertinya aku terlambat. Saat melihat Dima terluka, kurasa pilihanku salah. Aku hanya terlalu fokus pada pengalamanku sendiri. Aku selalu takut Dima melakukan kesalahan sepertiku. Padahal mungkin saja akhirnya akan berbeda jika aku ikut campur dari awal.”
Anna langsung berhenti makan begitu mendengar hal itu terucap kembali. Meski itu tak seperih waktu kejadiannya tapi ketika mendengarnya terungkit kembali rasanya tetaplah tak nyaman. Memang benar, jika saat itu Theo tak menyerah mungkin akhirnya tak seperti ini. Hanya saja, semua itu telah berlalu bukan! Tak ada yang perlu disesali. Ia bersyukur punya Angel dan Theo bersyukur punya Dima.
Theo mengabaikan Anna yang telah berhenti makan. “Entah kenapa putraku tergila-gila pada Angel seperti aku tergila-gila padamu dulu. Mungkin ini sebuah kutukan.”
Anna menyesap minumannya tanpa berkomentar.
“Mungkin dulu aku membuatnya saat memikirkanmu haha ...” ujar Theo sembari tertawa. Tawa yang tak lucu.
“Kau tak perlu mengungkitnya kembali. Kuharap Dima segera sehat sehingga aku bisa bertemu dengannya lagi.”
“Mungkin kamu tidak bisa melihatnya dalam waktu dekat, Anna.”
“Kenapa?”
“Kami mentransfernya di kampus lain untuk satu semester, mungkin lebih, tergantung bagaimana kondisi Dima nanti.”
“ ... “
“Kumohon jangan menceritakannya pada Angel. Aku tak ingin ia terbebani. Kami bahkan menyembunyikannya dari Daniel.”
“Aku mengerti. Terima kasih telah memberitahuku. Aku tidak akan menceritakan detailnya pada Angel, tapi aku akan memberitahunya jika Dima tidak akan bisa ditemui.”
Theo mengangguk mengerti. “Apa kau tak ingin melanjutkan makannya? Sia-sia jika kita memesan sebanyak ini. Kau bahkan belum menyentuh lobsternya.”
“Ya, maafkan aku.” Anna akhirnya mengangkat sendoknya kembali dan melanjutkan makannya. Mereka lantas membahas masalah-masalah ringan.
“Bagaimana kabar Wendy?” tanya Anna.
“Dia sehat, meski awalnya sedikit sedih karena jauh dari Dima. Tapi di rumah ada Daniel. Oia, katanya Daniel akan tidur di rumahmu pekan ini?”
“Benarkah? Hans belum memberitahuku. Mungkin ia sudah berpamitan pada Thomas. Akhir-akhir ini mereka tertarik belajar tentang mobil. Bisa jadi karena mereka anak cowok. Tahun depan mereka masuk SMA, mereka pasti sudah tak sabar mendapatkan mobil pertamanya.”
“Haha ... kau benar. Aku dulu bahkan sampai tak bisa tidur saat mobil pertamaku datang. Luar biasa rasanya!”
“Aku bisa membayangkannya ... “ ujar Anna sembari memutar bola matanya.
Theo tertawa. Sangat menyenangkan menjadi muda. Tak terasa waktu berlalu cepat sekali, sekarang putra-putra mereka telah dewasa.
“Kau pulang bersama siapa? Biar kuantar,” tawar Theo saat mereka telah selesai makan.
“Sopirku menunggu.”
“Baiklah. Oia, bagian tentang Dima yang sakit karena Angel, kuharap kamu merahasiakannya. Aku takut hubungan persaudaraan kita akan terganggu. Menurutku sangat sensitif jika membahas tentang anak. Bahkan terkadang Wendy sering memarahiku karena aku teledor.”
“Sungguh! Padahal aku tahu kamu sangat perhatian.”
“Pada Dima, iya. Tapi tidak pada Daniel. Aku terkadang tidak bisa menyempatkan waktuku untuk Daniel. Padahal seharusnya anak bungsu lebih diperhatikan.”
“Kalau begitu wajar saja Wendy marah.”
“Iya kau benar. Untung Daniel punya teman sebaya rasa saudara seperti Hans dan Richard, aku lega sekali.”
Mereka tengah bersiap pulang saat telepon masing-masing berbunyi. Keduanya saling berpandangan ketika melihat siapa yang menelepon.
“Kita sering terduga sedang melakukan affair saat harus bertemu berdua. Padahal tidak seperti itu,” gumam Theo seraya mengangkat telepon dari istrinya.
Anna mengedikkan bahu. Sepertinya tak hanya Wendy, suaminya pun memilih begitu.
“Apakah kau sudah selesai? Aku menjemputmu ... “ tanya Thomas begitu Anna mengangkat teleponnya.
“Lantas Pak Isaac ke mana?” tanya Anna.
“Aku menyuruhnya pulang.”
“Astaga!”
__ADS_1
Suara tawa di seberang terdengar renyah. Anna tahu suaminya tidak ingin terlihat cemburu, tapi Anna sudah bisa membayangkan wajah cemburunya saat ini. Sepertinya ia harus menenangkan Thomas malam ini.
🌻🌻🌻