
π»π»π»
Sebagai syarat diperbolehkannya Angel membawa mobil. Angel harus berkendara bersama mamanya dan sopir keluarga, Pak Isaac.
"Kau yakin bisa?" tanya Anna pada putrinya.
"Ah, mama. Percaya saja padaku. Aku sangat mahir. Ya, meskipun aku sudah lama tidak melakukannya. Pokoknya aku akan berkendara pelan-pelan," janji Angel.
Karena Anna tidak bisa berkendara, ia duduk di kursi belakang dan Pak Isaac di kursi depan untuk mewaspadai hal-hal yang tidak inginkan.
Sepertinya Angel menepati janjinya karena ia berkendara dengan sepelan yang ia bisa. Akibatnya mereka butuh waktu dua kali lipat untuk tiba di rumah sakit.
"Aku akan mengenalkan mama dengan keluarga Paula," ujar Angel sesaat setelah ia selesai memarkir mobilnya.
"Tentu," jawab Anna sembari mengambil bingkisan dari kursi kosong di sampingnya. Ia keluar dari mobil dan meminta Pak Isaac untuk menunggu mereka.
"Aku ada janji dengan teman malam ini. Setelah kita menjenguk Paula, mama bisa kembali lebih awal dengan membawa mobilnya. Aku akan meminta temanku mengantarku nanti," kata Angel.
"Belum-belum kamu hendak mengusirku pergi."
"Haha, Mama ... Bukan itu maksudku."
"Iya, mama tahu. Asal jangan pulang larut malam seperti kemarin."
"Siap!" Saat matanya melihat bingkisan yang dibawa mamanya, ia tergerak untuk membawanya. "Sini, biar aku yang membawanya," ujar Angel sembari mengambil bungkusan dari tangan mamanya.
Angel bergelayut manja pada mamanya. Kapan lagi ia bisa melakukannya kalau tidak menyempatkannya.
π»π»π»
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Tonny pada sepupunya lewat sambungan telepon. Ia tidak sempat membangunkan Dima karena bocah itu tidur terlalu lelap.
"Aku baik. Maaf menyusahkanmu semalam, kak."
"Kau baru bangun?"
"Haha ... iya."
"Aku sudah membuatkanmu sarapan, tinggal dihangatkan."
"Thanks. Aku berhutang banyak hal padamu."
"Well, itulah gunanya saudara."
"Hm, sekali lagi terima kasih."
"Bagaimana perasaanmu sekarang?"
"Hah, rasanya seperti ada yang hilang."
"Kamu akan terbiasa nanti."
"Oia, bisakah kamu mengajariku menjadi sekeren kamu?"
"Haha ... kau menganggapku keren? itu pujian atau sindiran?"
"Haha ... tidak, aku mengatakan yang sejujurnya. Kamu sangat keren. Aku ingin menjadi sepertimu."
"Apa kamu ingin aku mengajarimu menjadi playboy? aku berbakat dibidang itu," gurau Tonny.
"Haha ... aku harus menjadi keren sepertimu sebelum memutuskan menjadi playboy."
"Baiklah, berarti kamu berencana magang sekarang?"
"Ya."
"Sebenarnya papamu lebih ahli dalam bisnis daripada aku. Tapi ya sudahlah mumpung kamu bersamaku sekarang, aku akan mengajarimu. Nanti kita akan membahasnya di rumah."
"Baik."
__ADS_1
"Oia, apa tidak tertarik untuk membentuk ototmu?"
"Entahlah ... "
"Kupikir kamu ingin terlihat sepertiku."
"Haha ... baiklah, aku akan melakukannya."
"Nah, gitu donk! sampai jumpa nanti," pamit Tonny sembari menutup panggilan telepon.
Dima termenung sebentar sebelum pergi ke kamar mandi membersihkan diri. Kepalanya masih terasa sakit tapi ia sangat lapar. Jadi ia membersihkan diri dengan cepat dan segera ke lantai bawah.
Namun Dima melihat seorang wanita muda dengan rambut phony tail tengah berada di dapur.
Dima berdiri di samping meja makan menunggu wanita itu menyadari keberadaannya.
Wanita itu lantas melonjak kaget saat menyadari Dima berada di belakangnya.
"Woah! kamu mengagetkanku," ujarnya.
Dima tersenyum minta maaf.
"Mamaku sedang tidak enak badan jadi aku membantunya menyetok isi kulkas dan membersihkan rumah."
Dima mengangguk mengerti.
"Aku belum pernah melihatmu, apa kamu baru?" tanya wanita berkuncir itu.
"Ya," jawab Dima. Ia menunggu wanita itu sedikit bergeser dari pintu kulkas tapi wanita itu hanya berdiri di sana dengan canggung.
"Namaku, Freya," ujar wanita tersebut memperkenalkan diri.
"Aku Dima," balas Dima. "Hm, bisakah kamu bergeser dari kulkas sebentar? aku ingin mengambil sesuatu.
"Oh, aku minta maaf! Ada yang kamu perlukan?" tanya Freya terkejut. Sepertinya ia terpesona dengan ketampanan Dima sehingga tidak bisa berpikir dengan jernih.
"Tidak ada. aku hanya ingin mengambil makanan," ucap Dima sembari mengambil beberapa kotak makanan dan menaruhnya di atas meja."
"Tidak, thanks. Kamu bisa melanjutkan pekerjaanmu," tegas Dima. Ia tidak terbiasa berada di dekat wanita selain Angelina.
Tapi Freya tak patah semangat. Ia tetap memaksa sehingga mau tak mau Dima terpaksa mengiyakan. Freya juga membuatkannya jus buah.
Dan yang lebih menjengkelkannya adalah Freya ternyata masih terus mengajaknya berbicara bahkan ketika ia mulai makan.
"Oia Dima, apa kamu bekerja di sini?"
Dima menggeleng.
"Lalu? kenapa kamu bisa ada di sini? apa kamu temannya Pak Tonny?"
Lagi-lagi Dima menggeleng.
"Apa kamu keluarganya?" tanya Freya lagi. Ia tetap tak patah semangat meski tidak begitu digubris oleh Dima.
Kali ini Dima mengangguk.
"Oh, wow! apa kamu adiknya?" tebak Freya. Gadis itu begitu senang saat mengetahui identitas Dima.
Dima mengangguk. Ia sedikit merasa lucu melihat antusiasme Freya dan itu mengingatkannya pada Angel.
"Kamu persis setampan Pak Tonny. Dan terima kasih sudah tersenyum," ujar Freya sambil tersenyum manis dan melanjutkan pekerjaannya mengorganisir isi kulkas.
Dima melepas ketegangannya. Rasanya ia terlalu kaku tadi. Sepertinya Freya hanya ingin mengakrabkan diri bukan berniat mengganggunya.
"Apa kamu kuliah?" Dima balik bertanya.
"Ya, Pak Tonny membantuku mendapatkan beasiswa. Pak Tonny sangat keren dan hebat!"
Dima tersenyum saat mendengar sepupunya dipuji. "Ya, dia sangat hebat!" puji Dima, "aku ingin menjadi sepertinya."
__ADS_1
"Kamu pasti bisa! semangat!"
"Haha, thanks," ujar Dima sembari meneruskan makanannya. Ia senang ada yang mengalihkannya dari Angel. Ia pasti bisa hidup lebih baik tanpa Angel, batinnya bertekad. Tiba-tiba terbersit sesuatu di benaknya.
"Kau mau jalan-jalan?" tawarnya pada Freya.
Freya terkejut atas ajakan Dima tapi ia langsung mengangguk mengiyakan. Sepertinya ia sangat diberkati, kalau hari ini ia menolak membantu ibunya, ia tak akan bisa bertemu Dima. Rezeki anak berbakti tak akan ke mana. Kapan lagi ia bisa hangout dengan pria tampan?
π»π»π»
Ryan menjemput Angel dari rumah sakit dan menuju ke sebuah restoran yang tenang di pinggiran kota. Rasanya mereka berdua trauma mendapatkan foto-foto yang tidak dinginkan.
"Kau ingin makan apa?" tanya Ryan. "Restoran di sini sangat terkenal dengan steak-nya."
"Bagus, aku pesan steak saja, medium well."
"Baik, aku akan memesan," ujar Ryan.
Suasana romantis tampak dari suasana di sekitar mereka. Pemandangan indah danau dan hutan yang berada tak jauh dari mereka membawa kesan intim dan romantis. Restoran tersebut sangat cocok bagi orang yang datang berpasangan. Memang benar, sejauh mata memandang, semua orang datang dengan pasangan masing-masing.
"Ini buku yang kujanjikan," ujar Ryan sembari menyerahkan tas yang sedari tadi dibawanya.
"Thanks," ujar Angel seraya menerimanya. "Aku akan mentransfer uangnya. Bisakah Senior Ryan mengirimkan nomor rekeningnya padaku?"
"Jangan memanggilku senior, panggil aku Ryan."
"Baiklah."
"Kau tak perlu membayarnya," ujar Ryan. "Cukup traktir aku makanan seperti ini saja."
"Kau tahu, sepertinya makanan di sini terlalu mahal," bisik Angel.
"Haha ... aku akan membayarnya karena aku yang memilih tempatnya," balas Ryan dengan senyumnya. Angel sangat manis malam ini. Rambut panjangnya bergelombang indah dipadukan gaun floral warna hitam yang cantik. Ryan harus menjaga ritme jantungnya terus berdegup sedari tadi karena kecantikan Angel yang bisa-bisa membuatnya kena serangan jantung.
"Haha ... aku hanya bercanda," gurau Angel.
"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin kuberitahukan padamu tentang orang yang mengunggah foto kita?"
"Maksudmu?"
"Ya, foto itu tidak serta merta ada di sana, kan? pasti ada yang mengunggahnya ke sana."
"Apakah kamu tahu siapa?" tanya Angel. Ryan tak sedikit pun membahas ini dalam perjalanan.
"Sebenarnya aku sedikit khawatir saat harus memberitahukan ini padamu karena sejujurnya kamu mengenal orang yang kumaksudkan."
"Aku? mengenalnya?" tanya Angel tak percaya. Siapa yang begitu tega padanya? Padahal ia merasa tak pernah berbuat salah pada orang-orang.
"Ya, tapi aku akan menunjukkannya nanti. Aku khawatir kamu tidak nafsu makan karenanya," ujar Ryan saat melihat makanan yang mereka pesan telah datang.
"Baiklah," ujar Angel akhirnya.
"Angel, mengenai kemarin malam ... apa ada yang ingin kamu sampaikan padaku?" tanya Ryan hati-hati. Ia sedikit kurang nyaman mengunyah makanannya karena sibuk mencemaskan apa yang akan dikatakan Angel padanya. Makanya sedari tadi sebisa mungkin ia menunda untuk membicarakannya. Tapi sekuat apa pun ia menundanya, ia sudah sangat penasaran.
"Aku minta maaf atas ucapanku kemarin malam."
"Ah," Ryan langsung kecewa saat mendengar kata maaf. Sepertinya ia akan tertolak malam ini.
"Tapi aku berpikir untuk mencobanya," jawab Angel sembari memamerkan senyumnya.
"Maksudnya?" tanya Ryan sekali lagi. Ia ingin menegaskan maksud ucapan Angel.
"Mari kita berkencan."
Ryan memandang Angel dengan tatapan tak percaya. Tidakkah ia salah dengar?
Angel mengulangi ucapannya, βSenior Ryan, mari kita berkencan.β
βYa,β balas Ryan dengan senyum tak kalah lebarnya. βJust call me Ryan.
__ADS_1
π»π»π»