
🌷🌷🌷
Thomas dengan antusias memilih baju yang akan dikenakannya untuk menemui Ana malam ini, saking seriusnya sampai harus membuatnya pulang lebih cepat dari biasanya. Rumah sedang sepi karena Soni pulang ke kota beberapa hari. Kalau ada Soni pasti lebih mudah, temannya akan membantunya memilihkan baju yang cocok.
Hm Thomas menyesal tidak mengepak banyak baju ke sini. Jadi ia Cuma punya sangat sedikit pilihan baju yang akan dipakainya bertemu Ana. Ia sangat antusias seolah akan pergi berkencan untuk pertama kali. Bahkan dulunya saat ia berkencan, ia tidak seantusias ini.
Akhirnya ia memilih celana jins dengan kemeja garis warna putih, ia melengkapi penampilannya dengan sweter abu. Thomas melihat pantulan dirinya di cermin sembari menggulung lengan bajunya.
Baju sudah, sekarang tinggal rambut. Thomas berpikir sejenak, rambutnya sudah panjang, tapi ia ingin rambutnya terlihat rapi. Ia lantas membuat belahan rambut sedikit di bagian kiri dan menyisir sisanya ke arah kanan, ia menyemprotkan hair spray untuk mempertahankan tampilan keren rambutnya.
Terakhir, push push push, ssshhh .... Thomas mengaplikasikan parfum favoritnya. Sip, tampilannya sudah siap. Tinggal mampir ke toko kue untuk buah tangan.
🌷🌷🌷
Sayangnya harapan Thomas pupus sudah akan kencannya. Ternyata rumah Ana sudah ramai oleh banyak orang yang tak dikenalnya. Ia meringis, mereka pasti sengaja mengganggu pembicaraannya dengan Ana. Tapi mau tak mau ia harus memasang muka senyum meski sedikit jengkel.
“Permisi... “ ucap Thomas sambil masuk ke halaman. Ia melihat ada banyak orang di sini, Edward, Lily, dan Adam anak mereka, Evan, dua anak lelaki kira-kira berumur 7 tahun, seorang wanita paruh baya, seorang lagi pria beserta istri dan anaknya yang masih balita. Uh, ramai sekali, gumam Thomas.
Anak-anak berlarian, para wanita bergosip dan pria-pria itu sedang memanggang ikan. Thomas sedikit bingung, mungkinkah ia sedang tak di undang? Seolah ia datang di acara yang salah.
“Oi, masuklah Thomas,” jawab Edward yang sibuk memanggang.
“Di manakah Ana?” tanya Thomas. Ia memasuki halaman dengan banyak tas kue di kedua tangannya.
“Ana ada di dalam, masuklah!” Jawab Lily. Thomas mengangguk berterima kasih.
Seorang anak laki-laki menunjuk kue yang dibawa Thomas sambil merengek pada ibunya. “Ibu, aku mau itu...”
Thomas pun memandang anak itu dengan melotot penuh arti, enak saja aku membelikan semuanya untuk Ana, beli saja sendiri sana.
__ADS_1
Ketika anak itu melihat Thomas melotot ke arahnya, ia langsung menangis ketakutan. “huhu...ibu...” anak itu menangis ke arah ibunya, menjengkelkannya lagi tangisannya pun langsung kencang, “Cup cup, sayang! Jangan menangis nanti Mama belikan,” kata ibunya menenangkan.
Adam yang mendengar tangisan bocah lelaki itu ikutan menangis. Suasana menjadi kacau dengan tangisan. Evan yang melihat kejadian itu tentu saja tak habis pikir dengan kelakuan Thomas, “hei, Bung! Kau membawa begitu banyak kue kenapa kau tak memberinya, dia hanya anak kecil.”
“Aku membelikannya untuk Ana, aku tak tahu apa kesukaannya jadi aku membelikan semuanya, jika aku memberikan pada anak ini salah satunya, bisa saja itu kue kesukaan Ana. Biarkan Ana memilihnya dulu,” ujar Thomas tak mau kalah.
Semua yang hadir kontan geleng-gelang kepala. Thomas benar-benar sesuatu. Ana yang mendengar suara tangisan langsung keluar, sehingga ia mendengar secara lengkap apa yang dikatakan oleh Thomas. Duh, Thomas membuatnya malu, batin Ana.
Ana lantas berjalan ke arah halaman dan berbicara pada anak itu, “Om Thomas hanya bergurau saja, biar Tante Ana yang akan memotong kuenya dulu baru dibagikan, bagaimana?.”
“Benar ya tante, Om ini galak!” keluh anak itu.
“Aku juga mau kuenya tante Ana,” sahut anak yang lain. Balita yang lain juga terlihat antusias.
“Baiklah, tunggu di sini, tante akan memotongnya,” kata Ana meyakinkan sambil memberi isyarat pada Thomas untuk mengikutinya.
Thomas dengan senyum berbinar mengekor di belakang Ana. Akhirnya, ia bisa berdua bersama Ana. Lily yang melihat kelakuan pria itu kontak geleng-geleng, Thomas terlihat seperti seorang yang tergila-gila oleh cinta. Tapi meski pria itu gila oleh cinta, berbeda dengan penampilannya, Thomas terlihat sangat tampan malam ini. Pasti pria itu sengaja dandan rapi untuk bertemu Ana. Lihat saja Thomas terlihat kesal karena kami datang mengganggu acaranya. Evan malah sengaja mengundang tetangga kiri kanan Ana untuk menikmati ikan segar yang dibelinya dari para nelayan. Sayangnya, ternyata Ana masih tak suka dengan bau ikan meski kehamilannya sudah sebesar itu, alhasil Ana hanya berdiam diri di rumah sampai ikannya selesai dipanggang.
🌷🌷🌷
Yang dimaksud dapur oleh Ana adalah bagian sudut rumah dengan seperangkat meja makan dari kayu yang terlihat tua, catnya pun sudah memudar. Ada meja beton tempat meletakkan kompor, rak piring di samping kompor yang juga sudah tua dan tak banyak perabotan di sini, terdapat pula bak wastafel di bagian sisi kamar mandi untuk mencuci piring, yang ke semuanya tampak usang di sini. Yang terlihat baru hanya kulkas mini satu pintu dan lemari plastik. Ana pasti baru membelinya saat pindahan.
Ana memerintahkan Thomas meletakkan kue di atas meja makan dan ia mengambil pisau dari dalam lemari.
Saat Thomas melihat Ana membawa pisau panjang bergerigi, ia langsung panik. “Whoa... jangan pegang itu, berbahaya,” ia lantas mengambil alih pisau roti dari tangan Ana.
“Ya, sudahlah,” ujar Ana, buat apa menolak, toh, pria ini tak bisa ditolak.
Ana mengeluarkan satu persatu kue yang dibeli Thomas untuknya, Thomas membeli banyak kue untuknya, semua kelihatan lezat. Ada chocolate raspbery cake ukuran kecil, pie cheesecake, redvelvet cheesecake, coconut cake, banana cake, rainbow roll cake, yang ke semuanya juga berukuran kecil.
__ADS_1
Ana mengambil chocolate raspbery cake dan menginstruksikan Thomas untuk memotongnya. “Potong di tengahnya dengan dua irisan memanjang. Garis panjang seperti ini,” kata Ana menginstruksikan sambil memberi contoh memotong kue dengan tangannya.
“Garis panjang?” tanya Thomas sedikit ragu. “Bukankah kita harus memotong seperti ini,” ujar Thomas sambil mempraktikkan irisan dari tengah keluar dengan membentuk segitiga langsung di kuenya.
“Bukan begitu. Kenapa kamu langsung memotongnya berbeda dari intruksiku,” ujar Ana jengkel.
Thomas tak peduli, ia malah menyajikan kue yang dipotongnya untuk Ana. “Aku mengerti maksudmu tapi terlebih dulu makanlah ini. Ini enak sekali, cobalah,” kata Thomas sambil menyerahkan kuenya pada Ana. Warna coklat dan merah rasberi membentuk garis yang indah saat terpotong, seolah membangkitkan selera siapapun yang melihatnya. Untung ia sekalian membeli wadah sekali pakai untuk menyajikan ini.
Ana sedikit gondok karena dengan memotong memakai cara seperti ini kue yang dimakan terakhir rasanya tak seenak yang pertama. Tapi begitu ia memasukkan sesuap roti ke mulutnya, matanya langsung berbinar-binar menatap Thomas. “Kuenya enak sekali.”
Thomas tersenyum manis, “tentu saja, aku memilih yang terbaik untukmu.” Ia bahagia melihat Ana tersenyum, senyuman Ana terasa sangat manis baginya. “Aku akan memotong semua kuenya, biarlah semua makan kue sampai kenyang. Aku akan meminta mereka membawanya pulang jika perlu. Dan untukmu, aku akan membawakan mu kue setiap hari,” janji Thomas. Ia lantas melanjutkan memotong kue yang tersisa dengan bergegas, masih banyak kue yang harus dipotongnya.
Namun tak disangka, Ana menawarinya kue. “Kamu cobalah juga,” ujar Ana sambil menyuapi Thomas.
Thomas sedikit terkejut, namun dengan cepat ia membuka mulutnya, ia takut kehilangan momen emas ini dan ia pun akhirnya menerima suapan Ana. Mata mereka bertemu, untuk beberapa detik mereka berdua terdiam, seolah tersihir oleh apa yang tak sengaja mereka lakukan.
“Apakah, kuenya sudah siap?” ujar Evan yang sengaja menyusul ke dalam. Mereka berdua sangat lama, ia khawatir terjadi sesuatu pada Ana. Namun yang dilihatnya justru di luar bayangannya, ia melihat Thomas memotong kue, dan Ana sedang menyuapi Thomas. Ia menarik nafas panjang, mungkinkah hubungan Thomas dan Ana memang sudah dekat sebelum ini.
Thomas dan Ana tentu saja salah tingkah saat ada yang tiba-tiba datang memergoki mereka.
“Sudah siap beberapa,” jawab Thomas berusaha menutupi kegugupannya, jujur saja saat ini ia seperti remaja yang kedapatan berciuman oleh orang tuanya. “Bantu aku membawanya keluar biar aku menyelesaikan sisanya dan menyusul nanti.”
Evan dibantu Ana membawa piring-piring berisi kue keluar ke halaman, sedang Thomas masih di dapur meneruskan pekerjaannya juga menenangkan hatinya. Jantungnya seakan mau meledak karena malam ini ia merasa menjadi pria paling bahagia.
🌷🌷🌷
Terimakasih untuk ribuan, ratusan dan puluhan vote yang kalian kirimkan untuk Author, update kali ini spesial untukmu 🌷
dan tentu saja penggemar berat karya ini adalah Author sendiri 🌷🌷🌷hehe...
__ADS_1
Terimakasih bagi yang sudah membaca Bulan Kesembilan, semoga kalian suka.