Anna, Hug Me

Anna, Hug Me
45


__ADS_3

🌷🌷🌷


Theo berjalan beriringan dengan tangan Ana bergelayut di lengannya. Mereka berjalan dengan pelan namun pasti ke arah pelaminan. Jarak dari ruangan tempat Ana dirias dan ruangan tempat diselenggarakannya acara seolah lebih jauh dari jarak aslinya seolah perasaan hatinya yang berat melepas Ana membebani setiap langkahnya. Saat pertama mereka menginjakkan kaki di pintu utama, suasana bising langsung berganti hening. Dan di tengah ruangan, ia melihat Thomas menunggu mereka, persisnya bukan menunggunya tapi menunggu Ana. Wajah itu berbinar-binar penuh kebahagiaan, bagaimana tidak, sebentar lagi Thomas akan meresmikan pernikahan dengan Ana. Setiap pasangan yang saling mencintai pasti akan bahagia dengan penyatuan ini. Kebahagiaan yang menyisakan duka bagi segelintir orang yang tak rela, orang-orang sepertinya.

__ADS_1


Wajah Theo mengetat, hatinya mendidih saat melihat kebahagiaan di wajah Thomas itu. Ia tak rela pria pengganggu ini mendapatkan Ana. Ia lalu memandang ke arah wanita di sampingnya. Hati yang sebelumnya mendidih penuh kemarahan langsung terhenti kala melihat Ana dengan senyum manisnya, mengabaikannya dan memandang lurus ke depan. Senyum manis itu ditujukan untuk Thomas, Ana seolah tak sabar untuk segera sampai ke sana, ke tempat Thomas menunggunya. Tapi Theo sedikit keras kepala, ia tetap melambatkan langkahnya, seolah tak ingin membiarkan kebahagiaan mereka. Pikiran liar menghampiri otaknya, bagaimana kalau ia menarik tangan Ana, dan melarikan diri. Mengunci Ana di suatu tempat di bagian terpencil di dunia dan menyimpan Ana untuknya sendiri, ia tak akan membagi Ana pada siapa pun. Tapi pikiran konyol itu langsung terhenti saat matanya berserobok dengan sepasang mata kehijauan yang jernih, seolah mata itu membawa rasa dingin yang menyadarkannya. Mata itu berkilau bukan dalam arti yang indah karena mata itu tengah berkaca-kaca. Meski pemilik mata itu tersenyum ke arahnya tapi Theo tahu ada rasa sakit di sana. Pemilik mata itu memeluk perut buncitnya dengan kedua tangannya seolah ingin melindungi makhluk kecil yang berada di baliknya.


Rasa sakit melihat pemandangan itu membuat Theo tersadar, ia telah berada di depan Thomas, yang saat ini tengah menunggunya untuk menyerahkan Ana pada Thomas. Dengan satu tarikan nafas yang dalam Theo menguatkan hatinya dan menyerahkan Ana pada Thomas.

__ADS_1


β€œTerima kasih,” ucap Thomas sembari meletakkan tangan Ana pada lengannya dan mereka berjalan ke arah pelaminan tanpa menoleh ke arah Theo lagi.


Tak kurang berkali-kali Wendy harus mengalah padanya, keputusannya yang egois, sifat acuhnya, juga kurang kepeduliannya. Semua diterima Istrinya tanpa mengeluh. Dan hari ini sepertinya ia telah melukai hati Istrinya. Karena saat ia mendekat, Wendy hanya tersenyum tipis dan balik memandang ke arah prosesi pernikahan. Sungguh dilema. Ia masih berkutat dengan masa lalu. Sebelumnya ia berpikir bahwa ia telah melupakan asa lalu itu, tapi ternyata pikirannya ternyata salah. Setelah ia memegang masa depan di depannya, sekarang masa lalu menggerogotinya dari dalam. Oh, Tuhan. Bagaimana aku bisa hidup seperti ini, keluhnya dalam hati.

__ADS_1


Theo memandang Istrinya sekali lagi. Ia tak berani bertanya, ia hanya bisa berpura-pura tak melihat kesedihan dimata itu dan segera menautkan tangannya ke tangan Istrinya. Ia berjanji dalam hati bahwa ia akan memperbaiki kisah cintanya dengan Wendy dari awal, meski sedikit terlambat, ia tahu Istrinya telah melakukan segalanya untuk mendapatkan hatinya. Kini, gilirannya untuk membalas semua cinta dan kesabaran Istrinya. Ia tak akan menyia-nyiakan Istrinya lagi.


🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2