Anna, Hug Me

Anna, Hug Me
25


__ADS_3

🌷🌷🌷


Setelah Ana lebih tenang, mereka lantas melanjutkan acara makan-makan yang tertunda. Edward dan Evan memindahkan makanan dan minuman, yang sedianya untuk menjamu Thomas, ke dalam rumah. Lily juga telah menidurkan Adam.


Mereka berempat makan tanpa bicara, Masing-masing dari mereka penasaran dengan keputusan yang akan diambil oleh Ana.


“Ana, apakah kamu akan menemuinya lagi?” tanya Lily yang sudah tak sabar, ia sudah sangat penasaran.


Ana terdiam, masih jelas teringat teriakan Thomas sebelum pria itu pergi, bahwa Thomas sangat ingin menemuinya. Jujur, ia juga ingin menemui Thomas. Tapi peristiwa yang terjadi malam itu masih terngiang jelas dibenaknya, malam itu adalah malam terburuk dalam hidupnya.


Ana menghela nafas bagaimanapun juga ia menyadari bahwa ia tak bisa selamanya menjauhi Thomas, apalagi bayi dalam kandungannya adalah darah daging Thomas.


“Aku tak bisa terus bersembunyi, aku harus bisa menyelesaikan ini agar aku bisa menatap masa depan.”


“Jadi, kamu akan menemuinya?” tanya Edward, ia sejujurnya mendukung jika Thomas dan Ana bertemu, karena ia tahu semua yang terjadi akan menjadi masalah besar di masa depan jika tidak segera diselesaikan sekarang. Tapi Edward tidak akan memaksa Ana, semua keputusan tetap akan diserahkannya pada Ana, apapun keputusan Ana, ia akan menghormati dan mendukungnya.


Ana mengangguk, “aku akan menemuinya, tapi aku butuh seseorang menemaniku, aku merasa takut padanya.”


Mereka semua menoleh ke arah Evan, Evan pasti bisa menjaga Ana. Namun Evan tak merespons perkataan Ana, ia masih berkutat dengan pikirannya sendiri.


Evan menghela nafas, sejujurnya bukan ia tak ingin menemani Ana menemui Thomas, tapi ia merasa tak sanggup ke sana. Ia tak menyangka bahwa ia kalah telak dibandingkan Thomas, Thomas lebih segalanya dari dirinya.


Thomas punya lebih banyak uang, kedudukan yang lebih tinggi, wajah yang rupawan, juga rasa cinta Thomas pada Ana lebih besar dari miliknya, terlebih Ana juga mengandung bayi Thomas, seolah tak ada sedikit pun peluang untuknya bersaing karena Ana sudah menolaknya bahkan sebelum ia benar-benar berusaha. Jika ia adalah orang yang akan menemani Ana, bisakah ia berlaku adil sebagai penengah antara Thomas dan Ana, ia tak mungkin bisa melakukannya karena ia telah dihadapkan banyak konflik kepentingan.


“Aku merasa akan lebih baik jika Edward yang menemani Ana. Edward mengenal keduanya, mereka berdua akan memaklumi apa yang di katakan Edward, Edward bisa menjadi penengah antara keduanya,” Evan berusaha menolak dengan halus.


“Aku juga setuju jika Edward yang menemani Ana. Kau bahkan dengan keren meninju muka Bosmu, aku menyukai tindakanmu tapi kuharap kamu tidak dipecat,” ujar Lily senang sekaligus khawatir. Bagaimana jika Edward dipecat? sudahlah, masih banyak pekerjaan lain.


“Baiklah,” jawab Edward akhirnya, “bagaimana denganmu Ana, apa tak masalah jika aku yang menemanimu?”


“Ya, tak masalah.”

__ADS_1


“kapan kamu berencana menemuinya?” tanya Edward lagi.


“Besok malam, di rumahku. Jika aku merasa pertemuan itu tak berjalan dengan baik, aku tinggal mengusirnya pulang.”


Edward mengangguk, “baiklah, aku akan memberitahu Thomas.”


Ana balik memandang Evan, “Evan, bisakah kita pulang sekarang, aku sedikit lelah,” pinta Ana.


🌷🌷🌷


“Jangan langsung pulang, temani aku jalan-jalan, aku ingin menyegarkan pikiranku,” pinta Ana saat mereka sudah sampai mobil.


Evan menyanggupi permintaan Ana dan membawa Ana ke pantai yang tidak terlalu ramai saat malam.


Ana memperketat sweater yang dikenakannya, angin di pantai sangat kencang membuatnya tak nyaman, ia menghela nafas berulang kali.


Evan membantu Ana duduk di kap mobil, ia sendiri memilih berdiri di depan sambil memegang tangan gadis itu, mencoba menguatkan, ia kasihan melihat temannya punya masalah yang kompleks. Ia sendiri tak tahu apa yang harus dilakukannya untuk meringankan beban Ana.


“Evan, apa yang harus aku lakukan?” tanya Ana di sela isak tangisnya.


“Lakukanlah sesuai kata hatimu,” jawab Evan, “paling tidak dengarkanlah isi hatimu, buang semua pikiran buruk yang menghantuimu dan cobalah duduk berdua dengan Thomas, pasti akan ada jalan keluar jika kalian membicarakannya, jangan lari dari masalah ini. Karena semakin lama kalian menundanya makan semakin besar pula masalah ini nantinya. Lagi pula, kalian berdua harus juga memikirkan ini,” kata Evan sambil menunjuk perut Ana yang membuncit.


Ana mengusap air matanya dan mulai bercerita, mengingat Thomas yang dulunya sudah dianggapnya saudara, “aku tak pernah tahu kalau Thomas menyukaiku, yang kutahu Thomas memang sangat baik padaku, aku hanya menganggapnya saudara karena aku sangat akrab dengan Charlotte, adik Thomas. Chaty selalu mewanti-wanti kakaknya agar tidak mendekatiku, ya karena setahuku Thomas memang tipe pria womanizer, Chaty sudah banyak kehilangan teman-teman dekatnya karena Thomas, jadi dia tidak ingin kehilanganku karena Thomas,” Ana menghirup nafas panjang sebelum melanjutkan ceritanya.


“Saat mengetahui aku bertunangan, Thomas menjemputku mengatas namakan Chaty, aku percaya saja tak tahunya Thomas membiusku dan mengambil yang paling berharga untuk, Thomas menghancurkan masa depanku. Tunanganku sangat marah karena menyangka aku selingkuh dan mengkhianatinya. Dan tunanganku pun memutuskanku tanpa bertanya dua kali. Thomas bersikeras akan tanggung jawab tapi aku tidak mau menghabiskan sisa hidupku dengannya, pria yang sungguh egois. Tapi itu sebelum aku tahu bahwa aku hamil. Aku tak pernah tahu kehamilan bisa semudah itu. Aku tak pernah tahu. Hu hu...”


“Apakah Thomas memang sengaja membuatmu hamil?” tanya Evan menduga-duga.


“Aku tidak tahu.”


“Baiklah, aku mengerti. Sudah-sudah tak perlu memaksakan diri untuk menceritakan masa yang menyakitkan itu.”

__ADS_1


“Justru karena aku tak ingin mengingatnya makanya aku menceritakannya, aku sungguh tak sanggup membawa beban ini sendirian,” ucap Ana sambil menepuk-nepuk dadanya, mencoba mengenyahkan sakit yang membelenggunya.


Evan memeluk Ana, ia berharap Ana kuat dan tidak menyakiti diri sendiri.


“Apakah kamu sudah menceritakannya pada Chaty,” tanya Evan hati-hati sambil melepaskan pelukannya, ia menatap lurus ke arah gadis di depannya ini.


“Bagaimana aku bisa menceritakannya, Thomas adalah kakaknya, Chaty tidak mungkin melaporkan Thomas ke polisi hanya demi aku,” ucap Ana sambil melengos.


“Kamu tidak akan pernah tahu sebelum mencobanya, Chaty mungkin bisa memikirkan solusi yang lebih baik jika kamu tak sanggup memecahkan masalah ini dengan Thomas.”


“Entahlah.”


“Lalu bagaimana kabarnya tunanganmu itu?” tanya Evan penasaran. Jika Thomas saja anak pemilik Dunyan Night, lalu bagaimana dengan mantan tunangan Ana.


“Ia sudah menikah.”


“Secepat itu?” tanya Evan keheranan, “bukankah ini cukup aneh, Jangan-jangan tunanganmu terlibat dengan ini.”


“Bukan seperti itu, mungkin kami memang tidak ditakdirkan bersama, untunglah hubungan kami berakhir dengan baik. Lihat bahkan ia memberiku kartu namanya. Kak Theo tidak tahu bahwa aku telah hafal nomornya di luar kepala, jadi percuma saja,” ucap Ana sambil menunjukkan kartu nama yang diberikan Theo padanya.


“Oh wow! Mantan tunanganmu dulu petinggi Maxwell Company.”


Ana hanya tertawa, “dia kakakku sekarang, jika kamu macam-macam aku akan melaporkanmu,” goda Ana.


“Kenapa kamu tidak melaporkan Thomas kalau kamu punya kakak yang demikian hebatnya?”


“Entahlah,” jawab Ana yang lantas terdiam, ia tak bisa memikirkan kenapa ia tidak melaporkan Thomas pada Theo. Ia tak yakin apa ada alasan khusus yang membuatnya tidak melaporkan Thomas pada Theo. Padahal jika ia meminta pada Theo, ia yakin Theo akan melakukan apapun yang diperintahkannya untuk membalas Thomas. Ana menengadah, kenapa aku tidak mengadukan Thomas pada Theo, ya? batinnya bertanya-tanya. Kenapa?


🌷🌷🌷


Author update special untuk dua pembaca yang memberi dukungan vote koin maupun poin. Terimakasih.

__ADS_1


baca juga cerita Author "Bulan Kesembilan"


__ADS_2