Anna, Hug Me

Anna, Hug Me
26


__ADS_3

🌷🌷🌷


Sejak pertama memasuki rumah Ana, Thomas tak sedikit pun menurunkan pandangannya dari Ana, ia memandang setiap gerak gerik Ana tanpa terkecuali, ia bahkan tak mendengar basa-basi antara Soni dan Evan.


Ana terlihat sangat cantik, wajahnya bercahaya meski dengan tambahan lemak pipi di wajahnya. Bagi Thomas Ana yang sekarang terlihat jauh lebih cantik dan akan selalu menjadi yang tercantik baginya. Ana memakai pakaian rumahan berbadan katun yang lebar, berwarna coklat dengan motif polkadot. Thomas mengenang terakhir kali ia melihat Ana, sekarang rambut Ana telah panjang, dulu rambut Ana selalu pendek, hmmm waktu cepat sekali berlalu.


Ditatap sedemikian rupa oleh Thomas, Ana hanya menunduk dan sesekali mengalihkan pandangannya. Thomas terlihat berbeda, pria itu terlihat lebih dewasa dan pendiam. Ana selalu mengenal Thomas yang ceria dan murah senyum, sekarang ia belum melihatnya. Thomas mungkin mengalami hari yang berat juga, sama sepertinya.


“Baiklah, kami akan meninggalkan kalian berdua di sini, kuharap kalian bisa menyelesaikan sesuatunya. Aku dan Evan akan menunggu di luar,” ujar Soni sambil menepuk pundak Thomas.


“Jika ada sesuatu, teriak saja, aku akan menghajar pria ini jika perlu,” pamit Evan pada Ana. Ana hanya mengangguk mengiyakan.


Evan dan Soni lantas keluar ke teras rumah, keduanya sepakat menunggu di luar dan tidak mengintervensi apapun yang jadi kesepakatan Thomas dan Ana nanti. Mereka hanya harus berjaga-jaga jika sesuatu yang buruk terjadi.


Evan menoleh sekali lagi pada Ana, ia enggan meninggalkan gadis itu sendirian. Ia takut Thomas berbuat tak masuk akal dan membahayakan Ana, apalagi saat ini Ana tengah hamil besar. Ia menarik nafas panjang, seyogianya bukan ia yang berada di sini melainkan Edward, tapi ia memaksa, ia harus mendampingi Ana. Memastikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa Ana baik-baik saja.


“Bagaimana kabarmu?” tanya Thomas mengawali pembicaraan, matanya tetap tak lepas dari Ana.


Ana memberanikan diri menatap Thomas, ia terkesiap melihat betapa kurusnya Thomas, rambut pirangnya tampak sedikit lebih panjang dari Thomas yang dulu dikenalnya, dulu Thomas selalu rutin memangkas pendek rambutnya ala tentara. Thomas juga menumbuhkan kumis dan jambang, Thomas tampak sangat berbeda.


“Aku baik-baik saja,” jawab Ana sambil menatap langsung ke arah Thomas, matanya bersibobok dengan Thomas, Ana sejenak terpaku. Mata biru milik Thomas menatap tajam ke arahnya dan mata biru itu berkaca-kaca.


“Aku merindukanmu,” ucap Thomas, air mata yang ditahannya tak kuasa menetes, ia merindukan Ana, ia sangat merindukannya. Hatinya serasa ingin meledak bisa memenuhi hasrat kerinduan yang ditahannya selama ini.

__ADS_1


Ana tak kuasa menjawab, tak terasa air matanya pun menetes, ia tidak merindukan Thomas, tapi dia tetap menangis melihat Thomas menangis, mungkinkah ini karena hormon kehamilan? Atau bayinya yang sedang menjawab kerinduan seorang anak pada ayah yang belum pernah dilihatnya.


Thomas berlutut di depan Ana, ia menjangkau air mata yang menetes di pipi Ana dengan tangannya yang gemetar. “Jangan menangis, aku minta maaf.”


“Aku sudah bilang bahwa aku memaafkanmu, jadi hiduplah dengan baik.”


“Bagaimana aku bisa hidup dengan baik. Hatiku sakit kehilanganmu, aku tak bisa hidup tanpa melihatmu, tolong kali ini saja jangan mengusirku, Ana menikahlah denganku. Hiduplah bersamaku, mari kita besarkan bayi ini bersama. Kumohon, aku mencintaimu, aku sungguh mencintaimu,” ucap Thomas bersungguh-sungguh, matanya birunya memerah karena menangis.


“Kumohon, berhenti berbicara!” pinta Ana. Apa yang didengarnya terlalu banyak, ia mendengar terlalu banyak, ia belum bisa menerima banyak kata tak masuk akal dari Thomas.


Tapi Thomas tak mau berhenti, “aku mencintaimu Ana.”


“Evan... “ teriak Ana.


“Aku lelah, bisakah kamu membawanya pergi,” pinta Ana pada Evan. Ia kemudian memandang Thomas yang tak terima jika diusir pulang, “pulanglah, Thomas. Aku minta maaf malam ini aku sedikit lelah, kita lanjutkan saja besok malam.”


Thomas hendak menolak permintaan Ana tapi ketika Ana memintanya datang esok malam Thomas pun menurut. Malam ini keduanya emosional, tak akan ada ujung dari pembicaraan ini. Lagi pula, Ana juga terlihat masih shock melihatnya. Thomas pun menurut dan berpamitan.


“Istirahatlah,” ucap Thomas sebelum pergi.


Soni menunggu sampai Thomas cukup jauh sebelum berpamitan pada Ana, “kumohon jangan terlalu keras padanya, ia sudah cukup menderita.”


Ana hanya mengangguk, kenapa ia yang harus mengerti Thomas, kenapa tak ada yang minta Thomas untuk mengerti dirinya, rutuk Ana.

__ADS_1


Ana hanya bisa memegangi kepalanya, ia sedikit tertekan. “Maafkan aku Evan, kurasa aku butuh kamu menemaniku lagi besok.”


“Tak masalah,” jawab Evan. “Baiklah, istirahatlah yang cukup, kalau ada sesuatu kabari aku,” ucap Evan berpamitan. Tapi sebelum mencapai pintu Evan berbalik dan berkata sesuatu yang didengarnya dari Soni saat mengobrol berdua tadi, “jangan terlalu dekat dengan Thomas seperti tadi, kudengar dari Soni, Thomas sempat depresi karena kehilanganmu. Jadi takutnya ia akan bertindak impulsif dan menyakitimu.”


Ana mengangguk sambil tersenyum, “terima kasih sudah mengingatkanku.”


Setelah semua berpamitan pulang, Ana menutup semua pintu rumah dan jendela rumahnya, dan berdiam di kamar sambil termenung.


“Aku belum bisa percaya kalau Thomas mencintaiku. Apakah begitu pentingnya aku baginya sampai ia harus depresi sepeninggalku? Pasti ia depresi karena rasa bersalahnya padaku. Atau mungkin karena Chaty memarahinya. Ah, aku merindukan Chaty, aku lupa menanyakannya tadi.”


Ana mengelus perut buncitnya, “Sayang, apa kamu yang membuat Mama menangis tadi? Apa kamu sangat merindukan papa? Apa bagusnya punya Papa sepertinya! Kamu punya Mama yang akan menyayangimu selamanya.”


Ana hanya mendapat tendangan kecil sebagai jawaban. Duh, anak mama.


🌷🌷🌷


Terimakasih atas dukungan Vote-nya.


Author jadi semakin semangat!


meski rating masih beratus-ratus hehehehe...


jangan lupa jempol. jempol. jempol.

__ADS_1


bisa baca karya Author Bulan Kesembilan yang gak kalah keren dari ini.


__ADS_2