Anna, Hug Me

Anna, Hug Me
Episode 10


__ADS_3

🌻🌻🌻


Tak lama setelah berkendara Paula dan Angel memasuki kompleks perumahan yang sangat bagus. Terlihat di kanan kiri jalan semua rumah yang mereka lewati terdapat taman yang sangat indah sebagai jarak antar rumah. Ia bisa melihat bahwa kawasan rumah ini sangat berbeda dari rumah-rumah yang pernah ditemuinya.


Paula berdecap kagum melihat pemandangan di sekitarnya. Ia tahu bahwa Angel dari kalangan berada tapi seorang yang seperti dirinya yang tak pernah bermimpi bisa masuk ke kompleks rumah orang kaya seolah terlihat kerdil untuk pertama kalinya.


Paula tak tahu harus senang atau sedih mengenai ini. Ia bersyukur mengenal Angel hingga bisa masuk ke tempat seperti ini tapi ia juga minder, semua tentangnya memang tak cocok berada di sini. Bahkan termasuk mobilnya, mobil yang menurutnya adalah barang paling mahal miliknya, hanya terlihat seperti rongsokan saat memasuki kompleks ini.


Dari semua hal menakjubkan di kompleks perumahan mewah ini, ada satu hal menurut Paula paling menakjubkan dari semuanya, yaitu gadis yang duduk di sampingnya. Bagaimana tidak, nona muda dari keluarga kaya raya, cantik, pintar dan berkelas, mau duduk berkendara dalam mobil tuanya yang bahkan cat hitamnya saja sudah mengelupas di sana-sini.


Paula menoleh ke arah temannya yang dengan riang menyenandungkan sebuah lagu hits karya Justin. Ia memilih bersyukur mengenal Angel, bukan karena kekayaannya tapi kepribadiannya dan kebaikannya. Kelak jika Angel memilihnya menjadi teman, ia berjanji akan menjadi teman yang baik dan tidak akan mengkhianatinya.


“Ini ... rumah tanteku,” tunjuk Angel pada rumah besar berpagar putih. “Dan ini rumah Kakek, setelah ini baru rumahku. Rumahku yang pagarnya bercat hitam,” lanjutnya.


Paula hanya bisa bergumam, betapa besar rumah Angel dan keluarganya, ya. Rumah kakeknya bahkan lebih mirip hotel daripada rumah.


“Ya, rumah kakek memang versi mini hotel pertama yang dibangunnya,” terang Angel yang seolah bisa membaca pikiran Paula.


Paula hanya mengangguk sambil terus berkendara dengan pelan.


"Nah, kita sudah sampai,” ujar Angel. Ia segera menurunkan kaca jendela dan melambaikan tangannya. Segera setelah penjaga mengonfirmasi siapa yang datang, pintu gerbang pun lantas segera terbuka untuk mereka.


“Wow!” hanya itu yang bisa diucapkan Paula. "Apakah benar ini rumahmu?" tanya Paula tak percaya karena bukan rumah yang dilihatnya melainkan istana.


Halaman rumahnya sangat luas. Tak hanya halaman luasnya yang menakjubkan, tapi juga garasi yang berada tak jauh dari rumah utama. Garasi yang bahkan sebesar rumah utama!


“Kita turun di sini, nanti Pak Isaac yang akan memarkirkan mobilnya.”


Pak Isaac adalah sopir keluarga Angel, tapi lebih sering menjadi sopir mamanya karena ia dan Hans, adiknya lebih sering menumpang mobil Dima. Apalagi mereka berlima bersekolah di sekolah yang sama. Ia, Dima, Daniel, Hans dan Richard.


Tetapi sejak Angel kuliah ia tak pernah berkendara bersama karena ia lebih memilih tinggal di asrama.


“Ayo masuk,” ajak Angel setelah lebih dulu menyerahkan kunci mobil pada penjaga.


Rumah Angel sangat besar, pagarnya sangat tinggi, tamannya sangat lebar, bahkan garasi mobilnya sebesar rumahnya, yang semuanya berisi mobil mewah.


“Itu garasi mobil,” terang Angel. “Papaku menyukai mobil, dan mamaku lebih suka taman yang lebar daripada rumah yang lebar, jadi kami memiliki taman yang lebih besar dari rumah dan garasi yang sebesar rumah. Lucu bukan!” lanjutnya sembari tersenyum.


Paula hanya mengangguk menyetujui. Tapi rumah yang sebesar garasi ini juga sangat besar bagi Paula dan ia tak berhenti berdecap kagum karenanya.


“Ma, aku pulang!” panggil Angel setengah berteriak.


Seorang wanita cantik bertubuh mungil tampak menyahuti panggilan Angel. Dan Paula bisa menebak wanita cantik yang menyongsong mereka adalah Tante Anna, mama Angel.


“Kamu pulang, Sayang,” ujar Anna sembar memeluk putrinya.


“Ini temanku, Ma,” ujar Angel setelah melepas pelukannya, “Namanya Paula, teman sekamarku di asrama.”


“Selamat datang, Paula. Salam kenal, saya mamanya Angel, panggil saja Tante Anna.”


“Salam kenal, Tante Ana. Saya Paula, teman sekamar Angel.”


“Apakah Angel merepotkanmu?”


“Tidak, Tante. Angel sangat baik,” balas Paula sembari melirik ke arah Angel yang saat ini tersenyum lebar.


“Seharusnya Mama jangan menanyakannya saat ada kakak, tentu saja temannya akan mengatakan Kak Angel baik, lha Kak Angel melotot pada temannya, kok!” sahut seseorang yang barusan turun dari lantai atas. Hem, bukan seorang tapi dua orang.


Paula melongo saat ia melihat dua pemuda keren yang barusan turun dari lantai atas itu. Ia mengenali keduanya dengan jelas dari foto yang beredar di internet.


Seorang yang barusan berbicara adalah Hans, adik kandung Angel.


Hans masih SMP tetapi ia sudah sangat jangkung. Ia hampir menyampai tinggi kakak perempuannya.


Hans memiliki rambut pirang yang sama seperti Angel. Tetapi tak seperti kakaknya yang memiliki iris mata berwarna biru terang serupa papanya, iris mata Hans berwarna hazel kecokelatan yang mana diwarisinya dari mamanya.


“Salam kenal, teman Kak Angel. Aku Hans, adik Kak Angel,” ujar Hans sembari mengulurkan tangannya pada Paula.

__ADS_1


Paula sempat terpaku sejenak sebelum menyambut uluran tangan itu. Hans masih muda tapi Paula bisa mengatakan bahwa ia terpengaruh dengan kharismanya. Kalau di masa depan Hans memilih menjadi playboy, semua cewek pasti rela antre hanya demi bisa kencan dengannya.


“Saya Paula, salam kenal,” ujar Paula berusaha menutupi rasa berbunga-bunga dihatinya bisa berkenalan dengan calon orang penting di masa depan.


Seseorang di samping Hans ikut memperkenalkan diri. Remaja yang seusia Hans itu, tak lain dan tak bukan adalah Richard. Gosip yang beredar di internet, Richard memiliki darah bangsawan yang mengalir dari pihak papanya.


“Saya Richard, adik sepupu Kak Angel. Salam kenal Kak Paula,” ujar Richard. Ia mengulurkan tangannya sembari tersenyum.


“Saya Paula. Salam kenal,” jawab Paula dengan gugup. Jujur ia ingin pingsan saja saat Richard tersenyum padanya.


Richard juga luar biasa tampan, dengan rambut coklat dan mata kehijauan miliknya, ditambah senyum mematikan yang seolah sudah paten terukir di bibirnya. Secara keseluruhan penampilan dan kepribadiannya bernilai sempurna. Benar-benar bangsawan yang tampan.


“Bagaimana bingkisannya, Ma?” tanya Angel.


“Mama sudah menyiapkannya. Mau menunggu makan malam dulu? Sebentar lagi papamu pulang.”


Angel menggeleng sembari melirik Paula. Ia juga tidak enak karena temannya belum makan malam tapi rumah Dima cukup jauh, ia khawatir bertamu terlalu malam.


“Apa kalian sangat buru-buru?” tanya Anna.


“Iya, Ma. Rumah Dima cukup jauh. Aku takut kita bertamu terlalu malam.”


“Baiklah, biar mama bungkuskan untuk kalian. Kalian bisa memakannya dalam perjalanan, bagaimana?”


“Itu juga bagus. Tak apa kan, Paula?” Angel meminta persetujuan.


Paula mengangguk menyetujui.


“Ma, aku dan Richard mau ikut mengunjungi Kak Dima juga, boleh ya,” pinta Hans. Niat hati ingin ikut ke rumah Dima, bukan untuk Dima tapi lebih kepada bertemu Daniel, adik Dima.


“Mama melarang, ini sudah sore. Kalian akan lupa waktu setelah bertemu Daniel.”


“Kami bisa tidur di sana,” sahut Richard.


“Nah, itulah kenapa mama melarang kalian. Kalian besok masih harus sekolah. Sudah, biar Kak Angel saja.”


“Siapa yang sudah janjian dengan papa dan tiba-tiba pergi ke rumah Daniel, eh?” suara maskulin tiba-tiba mengejutkan mereka.


“Papa!” seru Angel saat melihat papanya pulang. Ia berlari untuk memeluknya tapi Hans lebih cepat. Ia telah memblokir kakaknya dan memeluk papanya, Thomas Dunyan untuk dirinya sendiri.


Angel merengut di tengah jalan hingga papanya yang mendekatinya dan memeluknya sementara Hans, adiknya masih bergelayut manja di punggung papanya.


“Demi Tuhan! Kalian sudah besar!” seru Anna sambil geleng-geleng saat melihat mereka bertiga berpelukan manja.


Anna hanya tertawa, ia selalu tahu jika Thomas sangat menyayangi kedua buah hatinya. Rasa sayangnya begitu tulus sampai kedua buah hatinya tak malu untuk saling berpelukan padahal mereka sudah besar-besar.


“Kami selalu menjadi anak-anak, iya kan, Pa!” ujar Hans yang disetujui Angel.


“Mama hanya cemburu,” goda Angel.


Anna hanya tersenyum lebar.


“Apa kalian tidak malu dengan Kak Paula, kelakuan kalian seperti balita,” ejek Richard. Hubungannya dengan orang tuanya tak pernah seperti sepupunya yang manja itu. Kendati ia tahu orang tuanya juga menyayanginya tapi tentunya bukan dengan cara kekanak-kanakan seperti itu.


“Apa, sih! Pulang sana!” seru Angel dengan melotot.


Dengan anak-anak yang masih berada di sekelilingnya, Thomas mendekat ke arah Anna dan memberinya kecupan di kening, sedangkan kedua buah hatinya, masing-masing di salah satu pipinya.


“I love you,” seru mereka bertiga.


“Triple love you,” balas Anna sembari memeluk ketiganya.


Paula mengerjapkan matanya. Ia yang telah terhipnotis dengan ketampanan Thomas, kembali dibuat terpana dengan perlakuan manisnya. Ia seakan tengah menonton adegan drama secara nyata.


“Kamu pulang kapan?” tanya Thomas pada putrinya.


“Barusan,”

__ADS_1


“Dengan siapa?” tanya Thomas lagi sembari mengedarkan pandangannya. Ia berharap melihat Dima. Tapi yang dilihatnya justru seorang gadis berambut merah.


“Dan siapakah gadis ini?”


“Kenalkan, ini teman sekamarku. Namanya Paula.”


“Salam kenal, saya Paula, teman Angel.”


“Salam kenal Paula, saya Thomas, Papa Angel,” ujar Thomas sambil mengulurkan tangan bersalaman.


“Apa kalian menginap?” tanya Thomas lagi. Ia lalu menggiring tamu dan keluarganya ke sofa dengan pemandangan taman.


Angel menggeleng.


“Lalu di mana, Dima? Papa tidak melihatnya. Apa ia tidak mampir?”


Bagi Thomas, melihat Angel tanpa Dima rasanya janggal. Sedari buah hatinya masih kecil, sangat lumrah melihat keduanya bersama. Ia bahkan sudah menganggap Dima putranya juga.


“Dima sakit, Pa,” ujar Angel.


“Sakit?”


Angel lalu menceritakan kronologinya, bukan secara detail hanya garis besarnya saja.


Thomas mengangguk mengerti.


“Papa akan mengantar kalian.”


“Iya, Pa. Biar kami bisa ikut,” Hans terlihat senang. Namun Angel menolaknya.


“Kami bawa mobil, biar kami berangkat sendiri saja. Lagi pula kami langsung kembali ke asrama. Iya kan, Paula.”


Paula mengangguk lagi.


“Ayolah, biar kami ikut menjenguk Kak Dima,” Hans masih merengek.


“Mama melarangmu ikut, besok kamu sekolah,” ujar Anna yang barusan datang membawa perbekalan dan bingkisan yang akan dibawa Angel.


“Iya, jangan ikut!” ujar Angel. Ia tak mau permasalahannya dengan Dima diketahui keluarganya. Sejujurnya ia punya firasat bahwa Dima tidak akan menemuinya kali ini.


“Berarti weekend boleh dong, Ma.”


“Lalu bagaimana dengan janjimu dengan papa,” ujar Anna mengingatkan.


“Kami akan ke rumah Daniel terlebih dahulu baru pulang. Daniel juga tertarik ikut belajar memodifikasi mobil jadi ia akan ikut ke sini.”


“Terserah kamu saja lah!” ujar Anna menyerah. Putra bungsunya itu sedikit keras kepala.


Hans kemarin merengek minta papanya mengajarinya memodifikasi mobil. Setelah papanya mengosongkan weekendnya demi sang putra malah putranya begitu. Ya, meskipun Anna juga tahu putranya masih SMP. Ia ingin putranya lebih bertanggung jawab.


“Kami kembali dulu, Ma,” pamit Angel. Ia tak hendak menghabiskan waktunya mendengarkan adiknya merengek.


“Kamu yakin tidak ingin papa mengantarmu?” tanya Thomas sekali lagi.


Angel menggeleng, “Papa pasti lelah setelah bekerja seharian. Lagian aku juga sudah biasa ke rumah Dima.”


“Tapi kalau malam hari rumah Kak Dima berhantu,” gumam Richard dengan tampang datarnya.


“Jangan menakutiku, kau pikir aku anak-anak?” dengus Angel. Ia segera mengambil bingkisannya, memeluk papa mamanya dan mengajak Paula keluar.


“Kau tidak memelukku?” Hans memasang wajah cemberut.


Angel mendekat dan memeluk adiknya, “selama kakak tidak di rumah, jangan manja. Jangan menyusahkan mama. Oke!”


Hans cemberut tapi ia tetap mengangguk. Ia sangat dekat dengan kakaknya. Awal kakaknya masuk asrama, ia menelepon hampir tiap hari. Untung ada sepupunya yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Ia sampai setiap hari ke rumah Richard agar tidak terus-terusan mencari kakaknya.


Angel beralih memeluk Richard, adik sepupunya. “Kakak gak takut hantu,” bisiknya sambil nyengir.

__ADS_1


🌻🌻🌻


__ADS_2