Anna, Hug Me

Anna, Hug Me
Episode 25


__ADS_3

🌻🌻🌻


“Apa benar kau berpacaran dengan Senior Ryan?” tanya Paula yang tiba-tiba saja menelepon Angel pagi-pagi sekali. Paula yang sedang tidak berada di asrama hanya mengetahui perihal foto Angel dan Ryan dari forum online kampus mereka. Dan ia ingin mengonfirmasi berita itu dari yang bersangkutan.


“Siapa yang berpacaran? Kau jangan membuat rumor yang tak berdasar,” ujar Angel sembari memakan sarapannya.


“Fotomu dan Senior Ryan ada di forum. Tidakkah kamu melihatnya?” tanya Paula.


“Senior baru mengirimkan fotonya pagi ini, bagaimana itu bisa dengan cepat menyebar ke dalam forum?” tanya Angel terheran-heran.


“Apa benar kalian berpacaran?” Paula mengulang pertanyaannya.


“Siapa?” tanya Angel masih tak paham dengan pertanyaan Paula.


“Duh, anak ini! Tentu saja kamu dan Senior Ryan. Apa kamu berpacaran dengannya?”


“Tentu saja tidak!” bantah Angel. “Ketemu di luar kelas saja baru sekali. Memangnya semudah itu ya pacaran,” ujar Angel bersungut-sungut.


“Kamu di mana sekarang?” tanya Paula.


“Di kamar.”


“Bagus, jangan pergi ke mana-mana dan kunci saja pintunya sebelum orang-orang datang mengganggumu untuk menanyakan kebenarannya. Aku akan berangkat sekarang. Jangan buka pintu sampa aku tiba!”


“Hey, tunggu ... ” ujar Angel tapi Paula keburu menutup teleponnya. Meski merasa aneh tapi ia menuruti saran temannya.


“Kenapa dengan foto-foto kami? Perasaan tidak ada yang salah. Aku juga bertemu bertiga bukan hanya berdua,” keluh Angel. Ia segera mencari kebenarannya di beberapa forum yang diikutinya. Hanya saja ia tak mengikuti forum sebanyak orang lain karena ia terbiasa mengandalkan Dima. Ais, Dima ... ke mana saja anak itu.


Meski hanya bermodalkan sekelumit forum ia segera tahu kenapa foto-foto yang beredar kontroversial. Bukan foto-foto yang beredar yang kontroversial tetapi caption yang mengiringinya.


Foto-foto yang beredar bukanlah foto hasil jepretannya, jepretan Sissy maupun Senior Ryan. Foto yang beredar adalah jepretan orang lain. Di foto itu hanya ada ia dan Ryan, tanpa Sissy. Berarti foto ini diambil saat Sissy ke toilet.


Angel membaca beberapa komentar dengan kening berkerut. Bagaimana bisa ia dihujat sebagai wanita murahan yang membuang Dima demi Senior Ryan? Memang apa hubungannya dengan Dima sebelum ini? Ia dan Dima tidak berada pada hubungan yang dituduhkan orang-orang dan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan Senior Ryan. Angel tak terima jika ia dituduh menduakan Dima demi Senior Ryan.


Angel membaca beberapa komentar lagi di bawahnya, ada juga narasi yang mengatakan bahwa ia adalah orang yang bertanggung jawab atas menghilangnya Dima dari kampusnya sendiri. Sebenarnya itu tak sepenuhnya salah tapi ia juga tak menyangka Dima benar-benar pergi menjauhinya sampai-sampai ia tak bisa melacaknya.


Ada juga komentar yang mencemoohnya dengan menuduh ia serakah karena berkencan dengan dua pria populer di Maxwell.


Komentar yang lain mengatakan bahwa ia telah mengajak senior Ryan tidur demi nilai yang sempurna di mata kuliah Prof. Albert. Hello ... asal tahu saja ia masih virgin dan ia cukup cerdas untuk mengandalkan otaknya bukan tubuhnya.


“Dan apa ini?” ujar Angel emosi setelah membaca hujatan yang mengatakan bahwa ia adalah seorang ****** yang tak tahan ditinggal Dima sendirian dan menggoda Senior Ryan yang terkenal pendiam.


Angel tak tahu harus apa. Selama hidupnya ia tak pernah mendapatkan komentar buruk. Semua orang mengatakan bahwa ia secantik dewi dan berhati malaikat. Apakah sejatinya mereka tidak tulus mengatakan itu? Tak apa jika tak menyanjungnya karena ia tak butuh sanjungan. Hanya saja ia tak tahan dihina seperti ini. Ia bukan apa yang seperti dituduhkan orang-orang. Ataukah memang begitulah sebenarnya ia di mata orang-orang hanya saja Dima yang menutupinya? hatinya kecut saat menyadari kebenarannya.


“Dima ... Di mana kamu sekarang? Bantu aku mengatasi ini ... ” ujar Angel sembari menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Ia tiba-tiba merasa sangat lelah.

__ADS_1


Meski beberapa komentar menghujat Angel, beberapa komentar lain mendukung foto-foto yang tersebar.


Beberapa komentar mengatakan bahwa mereka pasangan yang serasi. Beberapa yang lain mengatakan bahwa ia lebih cocok dengan Ryan daripada Dima karena profil Dima yang seperti anak kecil.


Komentar lain mengatakan, jika mereka bersama, maka Angel dan Ryan akan menjadi pasangan dokter yang hebat dan bla bla bla.


Angel menarik nafas panjang. Rasanya semua berjalan dengan tidak benar sejak Dima meninggalkannya.


“Kapan ya ... Dima kembali,” gumamnya lagi. Ia kesepian. Ia merindukan Dima. Sungguh! Jika ada Dima semua masalah akan teratasi tanpa masalah.


Tiba-tiba telepon Angel berdering. Ia berharap ada keajaiban seperti telepati, intuisi atau sejenisnya sehingga Dima akan menghubunginya begitu ia terkena masalah tapi saat ia melihat layar ponselnya, ia sedikit kecewa karena yang menghubunginya kali ini bukan Dima melainkan Senior Ryan.


“Halo,” sapa Angel dengan suara tak bersemangat.


“Angel ... ”


“Ya, Kak.”


“Aku minta maaf, aku tak tahu kejadiannya akan begini,” ujar Ryan dengan nada bersalah.


“Tak apa. Mereka hanya berasumsi sendiri. Tak usah dipedulikan,” ujar Angel menenangkan meski ia sendiri dalam keadaan yang tak tenang.


“Apa yang harus kulakukan untuk memperbaikinya?” tanya Ryan lagi. Ia merasa ia harus bertanggungjawab mengatasi rumor yang ada. Meski sebenarnya ia menyukai rumor yang mengatakan bahwa ia dan Angel berkencan tapi ia tak sampai hati jika Angel dihujat karenanya. Penggemar Dima memang tidak main-main.


“Entahlah ... Mungkin tak ada,” jawab Angel pasrah.


“Secepat itu?” tanya Angel, “bukankah buku itu sulit didapat?” lanjutnya.


“Itu koleksi Prof Albert, maksudku papaku, hm bukan ... maksudku itu koleksi pribadiku,” jawab Ryan serba salah. Kendati ia dan papanya berbagi nama belakang yang sama. Tak banyak yang tahu jika Prof. Albert adalah benar papanya. Usia yang terlampau jauh antara ia dan papanya membuat orang-orang tidak terlalu berspekulasi meski mereka berbagi nama Eagle.


Angel terdiam sejenak sebelum menjawab, “baiklah,” ujar Angel akhirnya. “Terima kasih sudah membantuku, aku akan menggantinya,” jawab Angel pasrah. Semua memang bermula dari kesalahannya. Ia bisa apa. Seharusnya ia menurut apa kata Paula, cukup menyobek halaman yang bermasalah dan mengembalikannya ke perpustakaan pasti semua akan baik-baik saja.


“Angel, apa kau baik-baik saja? Apakah orang-orang itu mengganggumu?” tanya Ryan khawatir.


“Aku baik-baik saja.”


“Apa kamu butuh aku menemanimu sekarang?”


“Tidak usah, terima kasih. Paula akan segera ke sini,” Angel langsung menolaknya karena Senior Ryan akan membuat rumor itu semakin menjadi-jadi.


“Angel?”


“Ya. Hm sudah dulu, ya,” pamit Angel hendak mengakhiri teleponnya tapi Ryan sepertinya masih belum ingin menutup teleponnya.


“Temanku jadi pengurus asrama. Aku akan meminta tolong padanya untuk menjagamu.”

__ADS_1


“Thanks. Tapi sepertinya itu tidak perlu. Tidak ada yang sedang menggangguku saat ini,” jawab Angel jujur. Ia tak merasa bersalah sampai harus dibully.


“Angel ... “


“Ya.”


“Aku ingin menanyakan sesuatu.”


“Katakanlah,” ucap Angel. Ia tak tahu kenapa Senior Ryan butuh izinnya untuk menanyakan sesuatu, tinggal bertanya saja. Jika ia tahu jawabannya ia pasti akan menjawabnya.


“Sebenarnya apa hubunganmu dengan Dima?”


“Dima?” Angel mengulang nama itu seolah ia bisa melihat sosok Dima ketika menyebut namanya.


“Ya. Apa kalian dekat? Maksudku orang-orang yang berkomentar buruk tentangmu rata-rata fans Dima atau semacamnya.”


“Aku dan Dima ... kami sudah seperti saudara. Keluarga kami dekat jadi kami menghabiskan masa kecil kami bersama-sama,” ucap Angel kelu. Ia telah menganggap Dima saudaranya tapi Dima menginginkan lebih dari itu.


“Lantas kenapa orang-orang menghujatmu hanya karena kalian sangat dekat. Kalian tidak sedang berkencan bukan?”


“Bukan, hubungan kami bukan seperti itu,” sangkal Angel. Hanya saja apa yang telah mereka berdua lewati mungkin lebih dari sekedar hubungan persaudaraan. Namun, setelah ia menolak Dima hubungan mereka menjadi renggang. Jangankan mendekat layaknya saudara, saat ini ia dan Dima bahkan sudah tak saling menyapa. Hubungan mereka kini selayaknya orang asing yang tak saling mengenal.


“Baiklah kalau begitu. Aku akan mengakuinya kalau orang menanyakan padaku,” ujar Ryan akhirnya setelah mengambil kesimpulan.


“Maksudnya?” tanya Angel tak mengerti.


“Aku akan mengakui bahwa aku menyukaimu. Aku akan menghentikan orang-orang yang menghujatmu.”


“Senior tak perlu berbohong hanya untuk itu. Aku akan meminta Dima untuk ... “


“Aku serius. Maksudku, aku sungguh menyukaimu, jadi izinkan aku melakukannya.”


Angel terdiam sejenak karena terkejut dengan pernyataan Senior Ryan. Apa saat ini Senior Ryan tengah menembaknya?


“Bagaimana?” desak Ryan.


“Aku ... ” Angel masih tak tahu harus menjawab apa. “Aku akan memikirkannya,” ujar Angel akhirnya.


“Baiklah ... “ ucap Ryan. Ia lega karena ia tidak langsung mendapatkan penolakan. “Aku akan meminta temanku untuk menjagamu,” ujar Ryan. Ia masih tidak tenang membiarkan Angel sendirian di akhir pekan. Melihat betapa kasarnya ucapan-ucapan fans Dima di forum, ia takut fans Dima akan menyakiti Angel secara fisik.


“Aku sungguh tak apa, Paula akan segera ke sini,” tolak Angel.


Namun Ryan sepertinya masih tak mau mendengar penjelasan Angel. Jadi mau tak mau Angel mengiyakannya.


“Terserah Senior saja,” lanjut Angel pasrah.

__ADS_1


Hanya saja meski Angel telah menunggu seharian baik Paula maupun teman Senior Ryan, keduanya tak juga menampakkan batang hidungnya. Karena lelah menunggu Angel pun tertidur.


🌻🌻🌻


__ADS_2