Anna, Hug Me

Anna, Hug Me
Episode 11


__ADS_3

🌻🌻🌻


“Keluargamu menyenangkan ... “ ujar Paula sesaat mereka meninggalkan rumah.


“Begitulah ... Papa sangat memanjakan kami. Dia orang yang paling penyayang juga paling tampan yang pernah kutemui,” jawab Angel bangga. Ia bisa mengatakannya karena ia tak pernah sekalipun mendapati memori tentang papanya yang sedang marah-marah.


“Senangnya ... “


“Bagaimana dengan keluargamu?” Angel balik bertanya.


“Kendati tak sekaya keluargamu, keluargaku juga sangat menyayangiku. Aku juga punya seorang adik laki-laki yang masih kecil.”


“Benarkah? Senangnya ... Aku berharap bisa punya adik lagi. Adik perempuan. Kau tahu meski aku punya 3 adik, aku mengidamkan adik perempuan.”


“Tiga?” Paula menegaskan ucapan Angel dengan heran. Jelas-jelas ia melihat Angel hanya punya seorang adik. Atau paling tidak dua orang adik jika Angel menghitung adik sepupunya.


“Hans, Richard dan Daniel.”


“Siapa Daniel?”


“Adik Dima.”


“Oh! Tapi bagaimana bisa adik Dima menjadi adikmu? Apa kalian telah berkencan?”


“Jangan sembarangan!” tegur Angel. Ia lalu menyerahkan roti isi daging kepada Paula. “Apa kau bisa menyetir sembari makan? Atau kita gantian menyetir saja.


“Aku terbiasa melakukannya. Menyetir sembari makan? Sungguh tak masalah buatku!”


“Baiklah.”


Keduanya lantas makan dengan lahap.


“Uh, aku sangat merindukan roti buatan mama,” ujar Angel. Sejak masuk asrama ia tak bisa sering-sering memakannya.


“Ini roti yang sangat enak. Jika aku adalah kamu, maka aku akan merindukannya juga. BTW, apa kita telah berada di jalan yang benar. Kenapa taman ini seolah tidak terputus?”


Angel mengedarkan pandangannya. “Ya, kita sudah berada di jalan yang benar.”


“Tapi aku tidak melihat rumah di sekitar sini. Kau yakin ini benar jalannya?”

__ADS_1


“Iya, memang seperti ini jalannya.”


Jalanan yang mulai redup karena tampak temaram dengan lampu taman sepanjang jalan. Jika orang awam melihatnya hanya akan terlihat garis taman sepanjang jalan. Hanya saja tiap belokan taman ternyata adalah jalan pribadi untuk setiap rumah yang ada di pemukiman tersebut.


Angel yang sudah hafal di luar kepala arah rumah Dima menunjukkan jalan yang harus dilalui Paula dengan sabar.


“Setelah jalan ini nanti kita akan sampai di pintu pagar rumah Dima.”


Tak seberapa sampailah mereka di pagar tertutup rumah Dima yang berwarna hitam. Pagar itu sangat besar dan lebar, juga gelap mengintimidasi.


Paula sampai berkeringat meski ia masih berada di dalam mobil yang ber-AC. Sekarang ia tahu kenapa Angel menceramahinya tentang bingkisan.


Angel menurunkan kaca jendela mobil dan melambai pada CCTV di samping pojok pagar.


“Apa mereka akan mengizinkan kita masuk?” tanya Paula khawatir.


“Tentu saja!” ucapnya yakin. Tapi, sepertinya keyakinan Angel tak bertahan lama. Karena baru kali ini ia menunggu 5 menit agar pagar itu terbuka. Dan itu juga bukan karenanya tapi itu karena mobil Om Theo tiba tak lama setelah mobilnya.


“Om Theo ... ” panggil Angel tatkala Theo melihatnya dari kaca yang diturunkan.


Theo mengangguk sembari meminta mobil mereka mengikuti mobilnya.


“Angel ... ” Sapa Theo sesaat setelah gadis itu turun dari mobil. Ia semringah melihat Angel.


Angel sudah besar, gumamnya.


Theo bersyukur bahwa Angel tidak mewarisi wajah Anna. Ia tak akan tahan melihat ada dua Anna berkeliaran di sekitarnya. Karena bagaimanapun ia menyangkalnya, Anna masihlah punya tempat di hatinya, meski saat ini kedudukannya tak sebesar punya Wendy, istrinya.


Namun, rasa bersalah yang masih bersarang di hatinya membuat ia tak bisa dengan mudah menghapus Anna dari hatinya.


Angel tersenyum lebar melihat Theo. Rambutnya yang pirang dan lebat bergerak indah mengikuti iramanya tatkala ia bersemangat mendekat ke arah Theo. Serasa masih bocah 10 tahun ia memeluk Theo dengan antusias, ia tahu Theo sangat menyayanginya.


Setelah ia melepas pelukannya, ia memperkenalkan Paula yang berada di sampingnya.


“Ini teman asramaku, namanya Paula. Kami mau mengunjungi Dima. Ia tidak masuk kuliah, kudengar ia sakit.”


Theo bersalaman dengan Paula sembari mengangguk.


“Ayo masuk! Akan kupanggilkan Dima.”

__ADS_1


🌻🌻🌻


Wendy mengetuk kamar Dima sedetik sesaat ia mendapat kabar bahwa Angel datang berkunjung. Ia telah menduga Angel akan datang jadi ia meminta penjaga memberitahunya segera setelah kedatangan Angel.


“Dima ... ” Panggil Wendy.


“Masuk ... ” sahut Dima dari dalam.


“Ada apa, Ma?” tanya Dima sesaat setelah mamanya masuk ke kamar. Ia tengah membaca buku di ranjang. Kendati tubuhnya sudah mendingan tetapi tubuhnya masih belum benar-benar fit sehingga ia memilih tetap berada di ranjang.


“Angel datang menjengukmu.”


Dima menutup buku yang dibacanya dan memandang mamanya dengan tatapan sedih. Ia merindukan Angel tapi ia tak yakin jika hatinya siap bertemu.


“Jika kamu tak mau, Mama akan memberitahunya jika kamu butuh istirahat.”


“Aku ... ” Dima tak tahu harus menjawab apa. Ia merindukan Angel, tapi jika ia menemuinya ia tak yakin ia bisa melakukan saran dari mamanya. Setiap ia melihat Angel, rasa-rasanya seolah ia terkena mantra sihir agar selalu berada di sekitarnya.


Wendy mengerti keraguan Dima, tapi ia juga tak ingin putranya menyesal, “Hanya saja jika kamu tak menemuinya kali ini, kamu mungkin tak akan melihatnya untuk waktu yang cukup lama.”


Dima hanya diam tak menyahut, ia melempar pandangannya ke arah kegelapan di luar jendela kamarnya yang belum tertutup tirai.


“Mama telah mempersiapkan keberangkatanmu. Jika kesehatanmu sudah lebih baik, kamu bisa berangkat saat itu juga, jadi kali ini mungkin saja kali terakhir kamu melihat Angel. Apa tidak ada yang ingin kamu sampaikan padanya? Apa kamu mau mama yang menyampaikannya?”


Dengan hati-hati Wendy mengutarakan pendapatnya, ia tak ingin menggurui juga tak ingin memaksakan pendapatnya. Ia hanya ingin putranya bertanggung jawab atas pilihan yang diambilnya sehingga tak ada penyesalan yang mungkin akan disesalinya di kemudian hari.


Dima mendongak tak percaya. Baru tadi pagi ia menyetujui usul mamanya untuk memberi ruang dan saling berjauhan agar masing-masing dari mereka menyadari perasaannya. Tapi kenyataan bahwa ia benar-benar tak bisa bertemu Angel kedepannya sungguh menyakitinya.


“Aku akan menemuinya,” ujar Dima akhirnya. “Maukah mama menemaninya terlebih dahulu sementara aku membersihkan diri.”


“Tentu saja! Dan Angel datang dengan seorang teman.”


“Teman?”


Teman siapa? Pikir Dima. Setahunya Angel tak punya banyak teman. Karena satu-satunya teman akrabnya adalah dia.


“Gadis berambut merah,” lanjut Dima.


“Oh!” Dima mengenalnya. Gadis berambut merah itu pasti teman sekamar Angel di asrama yang tempo hari menghubunginya.

__ADS_1


🌻🌻🌻


__ADS_2