
🌺🌺🌺
Chaty berkacak pinggang di samping ranjang saat Ana dan Thomas masuk ke ruangan tempat Ana dirawat. Senyum yang terukir di bibir kedua pasangan sejoli itu mendadak lenyap. Mereka sadar bahwa mereka berhutang penjelasan pada Chaterine, sebagai saudara juga sebagai sahabat.
“Jelaskan padaku!” kata Chaty to the point begitu Ana telah berbaring di tempat tidur, ia melihat Thomas berdiri di samping Ana menggenggam tangan temannya. Ia telah menahan diri untuk tidak mengonfrontasi Ana mengingat kondisi kesehatan temannya akhir-akhir ini. Tapi kali ini ketika ia tak sengaja melihat Ana dan Kakaknya tersenyum, ia merasa bodoh karena seolah ia sendiri yang tak tahu apa-apa dan mencemaskan semuanya seorang diri.
“Kau ingin penjelasan yang seperti apa,” kata Thomas. Toh, semua kejadian ini sangat berawal dari aib yang dilakukannya, juga aib bagi Ana tentu saja. Kalau boleh memilih, ia ingin memenangkan Ana dengan jantan dan bukan dengan cara seperti ini. Tapi ia bersyukur semua berakhir baik meski ia memulainya dengan buruk. Ia hanya tak ingin pertanyaan Chaty membuka luka lama yang sudah dikuburnya.
“Sejak kapan kalian memutuskan bersama?” tanya Chaty mencoba menekan kemarahannya.
“Beberapa menit yang lalu,” jawab Thomas. Ia tak sedikit pun menyembunyikan rona bahagia di wajahnya dan itu membuat Chaty semakin ingin marah.
“Well, selamat!” ucap Chaty sarkas.
“Aku minta maaf,” kata Ana akhirnya. Ia lalu melepas tangannya dari genggaman Thomas. Rona di wajahnya berubah, dari dulu ia telah dihantui ketakutan menghadapi kenyataan ini. Chaty selalu mengulang-ulang perkataan yang sama padanya. Jika Sahabatku bersama Kakakku dan hubungan mereka tidak berjalan baik maka Sahabatku akan meninggalkanku dan aku akan bertengkar dengan Kakakku, butuh waktu bagi kami untuk berdamai dan kembali seperti awal, itulah alasannya Chaty bersikap sarkas dan Ana tahu persis itu.
“Untuk apa persisnya permintaan maaf itu?” tanya Chaty. Gadis itu menatap Ana persis dimata saat bertanya.
“Aku minta maaf karena bersama kakakmu. Aku selalu tahu bahwa kamu tidak menyukai kenyataan bahwa sahabatmu bersama Kakakmu. Tapi, aku tidak bisa mengendalikan perasaan ini. Aku minta maaf.”
Chaty mendengus tak percaya dengan perkataan Ana. Setelah semua yang terjadi ternyata hanya inilah yang dikhawatirkan Ana. Hal ini membuatnya semakin marah dan mulai berteriak. “Kamu tahu persisnya apa yang membuatku marah!”
“Chaty, jangan berteriak,” tegur Thomas.
“Kau,” kata Chaty sambil menunjuk Thomas, “diam, ini bukan urusanmu.”
“Ini urusanku jika kamu marah pada Ana. Karena semua yang terjadi pada Ana adalah salahku,” ucap Thomas.
“Baik, aku akan mengurusmu nanti. Saat ini aku butuh penjelasan Ana, jadi bisakah kamu keluar sebentar?” pinta Chaty setengah memaksa. Thomas memandang Ana sebentar, ia takut meninggalkan Ana seorang diri dengan Adiknya yang pemarah dan dalam kondisi yang sedikit labil. Ana mengangguk menenangkan dan mendorong Thomas dengan pelan, agar lelaki itu mau keluar.
“Jika terjadi sesuatu, kau harus berteriak, oke. Aku akan menunggu di depan pintu,” ujar Thomas sambil mencium kening Ana. Matanya melotot ke arah Adiknya sebelum ia keluar ruangan.
“Kau tahu persisnya apa yang membuatku marah. Dan ini bukan seperti yang kamu sebutkan,” ujar Chaty ketika Thomas sudah keluar dari ruangan.
“Apa kamu marah karena aku tidak menceritakan padamu sebelumnya?” tanya Ana hati-hati. Ingatannya beralih kembali pada kejadian malam itu. Bedanya kali ini hatinya sudah tidak sesakit dulu. Ia telah berusaha memaafkan dirinya sendiri, dan memaafkan Thomas juga Theo. Jika rasa sakitnya sudah tidak sesakit dulu, kemungkinan besar hatinya telah memaafkan.
“Oh, Ana... kenapa kamu tidak menceritakannya padaku? Aku sahabatmu?”
“Dan Thomas adalah Saudaramu... aku tak sampai hati menyakiti hatimu dengan menceritakannya padamu.” Air mata menetes di pipi Ana, ia begitu sedih telah menjauhi Chaty, padahal dulunya mereka sangat dekat tak terpisahkan.
__ADS_1
“Meski kamu tidak bisa menceritakannya karena Thomas adalah Saudaraku seharusnya kamu bisa mencariku...” sesal Chaty, “Aku mencarimu ke mana-mana. Kamu tahu betapa takutnya aku saat kamu menghilang.”
“Aku takut Thomas akan menemukanku jika aku menghubungimu. Aku minta maaf,” yang bisa dilakukan oleh Ana hanya mengulang-ulang kata maaf.
“Kamu tahu dengan jelas bahwa aku akan memihakmu bukan Thomas.”
“Aku tahu. Aku hanya tak ingin hubungan persaudaraan kalian rusak karena aku,” jawab Ana pelan. Hubungan saudara pasti dekat, apa yang terjadi pada Ana bisa membuat perpecahan antara mereka. Ia menyayangi sahabatnya dan keluarga Sahabatnya, ia tak ingin menjadi duri dalam keharmonisan keluarga mereka, terlebih lagi ia bukan siapa-siapa.
Chaty tak kuasa menjawab perkataan sahabatnya dan balik memeluk Ana. Orang sebaik Ana bagaimana bisa hidup di dunia sekeras ini. Ketika kebahagiaan Sahabatnya itu sudah hancur lebur bagaimana bisa Ana masih bisa memikirkan kebahagiaannya.
“Kakakku yang menyebabkan gagalnya pertunanganmu...” ucap Chaty masih dalam pelukan Ana. Ia tak berani menatap mata Ana. Ia merasa malu dengan cinta Thomas yang membabi buta.
“Saat Theo menolak mempercayaiku dan lebih memilih apa yang dipercayainya sendiri, detik itu pula aku menyerah akan cintanya,” jawab Ana. Suaranya mendadak parau, kalau boleh jujur sampai saat ini ia masih belum bisa memaafkan Theo atas ke tidak percayaannya itu. Theo pernah menjadi segalanya untuknya tapi juga membuangnya seolah tak pernah ada sesuatu. Rasa sakitnya bahkan lebih sakit dari perbuatan Thomas malam itu.
“Dan itu karena Kakakku,” potong Chaty. Ia lantas duduk di kursi di samping ranjang. Ia memandang wajah sahabatnya.
“Hahaha... Mungkin sudah jalan ceritanya aku menjadi saudari iparmu meski ya, bisa di katakan cukup berbelit-belit, menyakitkan dan penuh air mata,” kata Ana. Jalan cerita hidupnya seperti lelucon yang dirancang Tuhan untuknya.
“Maafkan aku... jika aku tahu bahwa Kakakku sangat mencintaimu maka aku merestuinya denganmu dari awal. Tapi, ya, kamu tahu sendiri Thomas itu sangat brengsek dan aku tidak mau kamu terluka, aku tidak ingin kamu menjadi korban selanjutnya. Kamu bisa kok mundur saat ini, aku tidak mau kamu terpaksa menerima Thomas karena bayinya. Aku tidak ingin membuatmu sakit lebih dari ini. Kumohon sudahkah kamu memikirkannya matang-matang untuk hidup bersama Thomas? Sudahkah kamu mengkajinya lebih dalam dari lubuk hatimu? Sudah mantapkan hatimu untuk memutuskan mencintainya?” tanya Chaty memastikan. Meskipun ia senang Ana akan menjadi keluarganya tapi ia tahu kebahagiaan Ana adalah yang terpenting baginya.
“Ya, aku tidak bisa menemukan keluarga sebaik keluargamu. Aku tak sabar untuk menjadi bagian darinya.”
“Oh, Ana. Kamu tahu bahwa kamu selalu menjadi bagian dari keluargaku...” ucap Chaty.
“Jadi, kamu Kakak Iparku sekarang?” ulang Chaty, ucapannya sedikit hati-hati, antara ragu dan takut salah.
“Yeah, sepertinya begitu...”
Chaty langsung memeluk Ana. Ia lega sekaligus senang, sahabatnya menjadi keluarganya. “Lain kali jika terjadi sesuatu, meskipun itu menyangkut Kakakku atau siapa pun itu jangan segan mengatakannya,” kata Chaty dalam pelukannya.
“Aku akan mengingatnya.”
🌺🌺🌺
Setelah pembicaraan dengan Ana. ia memilih menunggui Ana sampai tertidur baru mengajak Thomas keluar dan menanyainya, ya kalau tidak bisa dibilang memarahinya.
“Mengapa kamu setega itu pada Ana,” ujar Chaty pada Kakaknya.
“Aku mencintainya,” jawab Thomas. Saat ini mereka duduk di kursi di luar ruang inap Ana.
__ADS_1
Chaty melirik Kakaknya, ada tatapan cinta dan senyum tersungging di bibirnya kala berucap kata cinta.
Chaty mendengus. “Cinta bukan berarti kamu bisa seenaknya melakukan apa yang kamu suka tanpa mempertimbangkan konsekuensi dari perbuatanmu,” ucap Chaty. Ia tak pernah mengerti jalan pikiran Thomas.
“Aku mencintainya dari pertama aku melihatnya, kukira ini hanya emosi sesaat tapi aku mendapati diriku semakin jatuh cinta pada gadis itu. Aku mencoba bersama gadis-gadis lain tapi perasaanku padanya tetap sama, aku mencintainya, aku berhasrat padanya. Saat aku mendengarnya bertunangan hatiku sangat sakit dan aku tidak bisa memikirkan yang lain selain cara mendapatkannya,” ujar Thomas mencoba jujur pada Adiknya.
“Dan kamu merusak pertunangan orang yang kamu cintai,” ujar Chaty sambil mendengus.
“Semua halal dalam cinta dan perang,” jawab Thomas berfilosofis. Adiknya mencebik melihat Thomas yang berlagak.
“Bagaimana caramu membujuknya agar mau bersamamu? Kamu kan sama sekali tidak berkualitas,” tanya Chaty meremehkan.
“Mungkin pada akhirnya Ana melihat ketulusanku saat Theo lebih memilih mementingkan dirinya dan apa kata Mamanya.”
“Tapi kenapa kamu bisa sejahat itu. Aku mendengar dari sahabatnya yang ada di pulau bahwa Ana selalu menangis dan bersedih karena perbuatanmu itu.”
“Aku tidak bisa mengatakan perbuatanku baik. Tapi setelah Angel lahir, aku tidak menyesalinya.”
“Angel?” tanya Chaty menegaskan pendengarannya.
“Ya, namanya Angelina. Ana membolehkanku memberinya nama,” ujar Thomas bangga.
Chaty merasa percuma berbicara dengan Kakaknya. Karena mata Kakaknya berbinar bahagia penuh cinta, ia tak pernah mendapati itu sebelumnya. Jadi ia memutuskan mendukung keduanya, Sahabatnya dan Saudaranya. Jalan cinta yang disiapkan Tuhan untuk mereka mungkin di luar nalarnya. Di luar sesuatu yang bisa dipertanyakannya.
“Aku akan pergi dulu, besok aku akan kembali lagi. Angel sudah bisa keluar dari ruang inkubator bukan? Aku tak sabar ingin menggendongnya,” ujar Chaty pamit.
“Chaty,” panggil Thomas saat Adiknya sudah beranjak dari kursi.
Adiknya menoleh menunggu apa yang diucapkan Kakaknya.
“Terima kasih.”
Chaty tersenyum, “Kamu tak perlu mengucapkan terima kasih, aku ikut senang dengan kebahagiaanmu juga kebahagiaan Ana,” jawab Chaty sambil memeluk Thomas, “ingat jangan menyakitinya lagi, karena aku akan mengawasimu mulai dari sekarang.”
“Aku akan mengingatnya,” ujar Thomas.
“Kamu tidak ingin berpamitan?” tanya Thomas.
“Ana pasti tertidur karena habis minum obat, jadi sampaikan salamku padanya.”
__ADS_1
Thomas mengangguk mengiyakan. Ia lalu memandang punggung Adiknya yang berjalan menjauh. Ia senang bisa kembali akur dengan Adiknya. Baginya, dukungan Chaty adalah segalanya. Masalah yang tersisa adalah donor untuk Ana. Ia berharap ginjal Theo cocok untuk Ana, semoga saja.
🌺🌺🌺