
🌻🌻🌻
Setelah sangat sibuk seharian menunggui Paula sampai siuman pasca operasi, Angel dengan senyum tulusnya berterima kasih pada Ryan.
"Terima kasih sudah menemaniku," ucap Angel di bangku taman rumah sakit. Masing-masing dari mereka menggenggam segelas kopi panas dari mesin kopi otomatis.
"Tidak perlu berterima kasih," ujar Ryan. "Kau pasti lelah, aku akan mengantarmu kembali ke asrama."
"Aku akan tidur di sini," tolak Angel.
"Sudah ada keluarga Paula yang menunggunya. Kamu harus istirahat yang cukup malam ini, esok kamu bisa kembali lagi," ujar Ryan memberi saran.
"Kamu benar, aku lelah sekali," ujar Angel sembari meregangkan badan. "Bagaimana ya rasanya jadi dokter yang harus berkecimpung dengan semua ini. Saat ada kejadian mendadak mereka harus siap sedia untuk melakukan pertolongan, kuharap para dokter bisa beristirahat."
"Dokter memang sangat keren!" puji Ryan. "Itulah kenapa aku ingin menjadi dokter, tujuan mereka menyelamatkan manusia sangatlah mulia. Coba bayangkan jika di dunia ini tak ada dokter?"
"Aku tak bisa membayangkannya. Mungkin aku tak akan bsa melihat mamaku."
"Kenapa?" tanya Ryan menanggapi cerita Angel. Gadis itu sudah mulai terbuka dan mau menceritakan keluarganya padanya. Itu sebuah langkah awal yang bagus, batin Ryan senang.
"Mamaku sempat mengalami gagal ginjal saat kehamilanku, berkat adanya teknologi transplantasi ginjal, itu memungkinkan mamaku hidup lebih lama. Aku sangat bersyukur. Tak hanya mamaku yang selamat, aku yang terlahir prematur pun masih diberi kesempatan hidup berkat dokter-dokter hebat yang menanganiku. Itulah mengapa aku ingin jadi dokter. Aku ingin menjadi dokter kandungan dan membantu banyak kehidupan baru."
"Tak kusangka ada cerita sedih dibalik kelahiranmu," ujar Ryan sambil meminum kopi di gelasnya.
"Bagaimana dengan Senior Ryan?" tanya Angel.
"Sudah kubilang untuk memanggilku Ryan saja, masih bandel pakai Senior Ryan," ujar Ryan gemas sembari menyentuh ujung hidung Angel dengan jari telunjuknya.
"Baiklah," ujar Angel akhirnya. "Ngomong-ngomong bagaimana denganmu, Ryan? apa yang membuatmu ingin menjadi dokter?"
"Semua bermula dari kekagumanku pada papaku. Ia seorang dokter yang hebat yang sangat kukagumi dan kuhormati. Dia sudah seperti role model bagiku dan aku penggemar beratnya. Dia juga satu-satunya keluarga yang kumiliki."
"Jadi papamu juga seorang dokter? wah hebatnya!" tanya Angel. "Siapa namanya? aku juga ingin berkenalan dengannya."
"Sebenarnya kamu juga mengenalnya," jawab Ryan malu-malu.
"Benarkah?"
"Ya."
"Tapi siapa?" tanya Angel lagi. "Apakah ia dosen di sekolah kita?"
"Ya."
"Siapa?" tanya Angel sambil mengingat. Tiba-tiba ia teringat satu orang dengan nama belakang yang sama, "jangan bilang papamu itu Prof. Albert!" tebak Angel.
Alih-alih menjawab, Ryan hanya memamerkan senyum lebarnya.
"Oh, wow!" ujar Angel heran sekaligus terkejut. Apa itu sungguhan? Prof Albert dan Ryan? Tapi usia mereka terpaut sangat jauh. Prof Albert terlihat seperti kakek Ryan, batinnya. "Tapi bagaimana bisa?" tanya Angel tak mengerti.
"Mungkin kamu bertanya-tanya bagaimana bisa seperti itu."
"Sejujurnya iya. Tapi jika kamu tak berkenan menceritakannya juga tak apa."
"Tak banyak orang yang kupercayai akan ceritaku. Tapi kamu adalah bagian dari orang yang kupercayai jadi aku akan menceritakannya," ujar Ryan.
__ADS_1
Angel sedikit salah tingkah dibuatnya tapi ia hanya mengangguk karena sejujurnya ia juga penasaran.
"Dahulu papaku mencintai seorang wanita dan mereka berencana mempunyai anak," ujar Ryan mulai bercerita. "Namun nasib berkata lain karena ternyata mereka kesulitan mendapatkan anak secara normal. Jadi orang tuaku melakukan segala upaya sampai akhirnya mereka melakukan program IVF. Dulu program itu belum sesempurna sekarang jadi ada resiko dibelakangnya. Alih-alih meningkatkan kesuburan, mamaku malah menderita kanker karenanya."
"Ah," Angel seolah tahu apa ending penderita kanker tapi ia ingin mengkonfirmasinya, "Tadi kamu mengatakan bahwa Prof. Albert adalah Satu-satunya? lalu bagaimana dengan mamamu? apa beliau telah ... " Angel tak meneruskan perkataannya.
"Ya, mamaku telah meninggal dunia jauh sebelum aku dilahirkan."
Angel memandang Ryan dengan tatapan tak mengerti. Bagaimana bisa seorang anak lahir tanpa mamanya? batinnya bertanya-tanya tapi meskipun ia penasaran ia tak berani menanyakannya. Sudah cukup ia mengorek kematian mama Ryan. Tapi Ryan yang telah mempercayai Angel meneruskan kisahnya.
"Aku adalah embrio yang dibekukan milik papa dan mamaku. Karena mamaku meninggal, papa sangat menyesal jadi ia ... ya, bisa dibilang ia sedikit melupakanku, hehe ... akhirnya setelah sekian lama aku pun lahir melalui program ibu pengganti. Itulah mengapa usiaku dan usia papaku memiliki perbedaan yang cukup jauh."
Kendati Ryan menceritakannya dengan senyum yang lebar tapi Angel tak tahan untuk tidak bersimpati. Ia menggenggam tangan Ryan untuk menguatkan.
"Senior Ryan semangat!!" ujar Angel menyemangati.
Ryan tersenyum lebar. Ia senang Angel menyemangatinya. "Haha ... makasih, Angel. Aku memang tak menceritakan kisah ini pada sembarang orang. Aku tidak ingin dihormati karena gelar papaku."
"Aku tahu Senior bukan orang yang seperti itu."
"Tapi tetap saja tidak semua orang berpikir sepertimu. Apalagi jurusan kedokteran memang sangat lekat dengan koneksi. Saat wisuda nanti, aku akan memeperkenalkan papaku kepada semua orang dan aku akan membuktikan bahwa aku adalah mahasiswa terbaik tanpa perlu mendompleng nama besar papaku."
"Senior keren sekali!" puji Angel.
"Tentu saja! Jika kamu sakit, jangan lupa berobat padaku, ya," gurau Ryan.
"Dengan senang hati!" janji Angel.
"Sayangnya aku belum punya pendamping saat wisuda nanti, apa kau mau mendampingiku, Angel?" tanya Ryan. Wajah tampannya berubah serius saat mengucapkan itu. Tatapannya lekat memandangi Angel menunggu jawaban.
"Aku belum bisa memastikannya sekarang," jawab Angel serba salah. Jika ia mengiyakan ajakan Senior Ryan berarti ia membenarkan rumor yang beredar. Ia belum siap memulai hubungan baru saat ia belum bisa membereskan kesalahpahaman hubungannya dengan Dima.
Angel hanya bisa mengangguk dan berusaha tenang tapi ia tetap tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu. Ia sangat-sangat terpengaruh dengan penyataan cinta Ryan padanya.
"Hm, mungkin aku akan menjawabnya nanti. Beri aku waktu aku harus memikirkannya. Aku juga harus menyelesaikan urusanku dengan Dima."
"Aku tahu, aku akan menunggu," jawab Ryan senang. "Btw, aku harus mengantarmu kembali ke asrama kalau begitu. Hari sudah malam."
"Ya, hari sudah malam tapi karena itu pula aku tidak bisa kembali ke asrama."
"Ada Gea, aku bisa minta tolong padanya untuk memberi kelonggaran untukmu."
"Tidak perlu, antarkan aku pulang ke rumahku saja. Aku ingin tidur di rumah malam ini," ujar Angel."
"Baiklah. Tunggu aku di pintu depan aku akan mengambil mobil terlebih dahulu."
🌻🌻🌻
Gemericik air dari wastafel mengiringi isi perut Dima yang meluap tak tertahankan. Ia yang baru pertama kali minum telah menghabiskan sebotol whiski seorang diri. Sebagai akibatnya, ia telah mengeluarkan hampir seluruh isi perutnya. Matanyan memerah karena proses pengeluaran muntahan yang menyakitkan juga karena ia lelah menangisi cintanya. "Ah sial!" umpatnya.
Setelah lebih tenang, Dima mengeluarkan ponselnya. Ia akan mengonfirmasi sendiri dari mulut Angel benarkah saat ini ia telah berpacaran dengan orang lain dan mencampakkannya seperti Tante Anna mencampakkan papanya.
Alih-alih melakukan panggilan suara, Dima memilih melakukan video call untuk memastikannya. Dima harus menunggu sejenak agar teleponnya diangkat. Padahal ia tidak mengganti nomor teleponnya, kenapa Angel tidak segera mengangkatnya, batinnya. Tapi persis sebelum ia memencet tombol 'end' video call itu tersambung.
"Dima!" seru Angel begitu video call itu tersambung.
__ADS_1
Dima tak langsung menjawab. Ia sejenak memandangi Angel dengan penuh kerinduan. Angel masih secantik biasanya.
"Kau ke mana saja?" tanya Angel. "Tak tahukah kamu bahwa aku mencarimu ke mana-mana? Jangan main pergi-pergi begitu saja tanpa pamit," omelnya. Tapi Angel tak berhenti di situ, ia masih ingin meluapkan semuanya. "Kamu di mana sekarang? Kenapa dengan wajahmu? dan rambutmu? Kamu terlihat berantakan. Hei, jawablah! Jangan hanya diam. Aku sedang bertanya padamu, Dima!"
Dima hanya tersenyum kelu. Ocehan Angel terdengar nyaring seperti biasa dan ia baru sadar setelah mendengarnya bahwa ternyata ia sangat merindukannya. Tapi ia tidak ingin diam mendengarkan saat ini karena saat ini ia ingin bertanya. "Apakah benar kamu berpacaran dengan Ryan?" tanya Dima. Ia berusaha membuat suaranya terdengar datar.
"Kenapa? Kau cemburu? makanya cepat kembali. Jangan biarkan orang lain mendahuluimu," omel Angel.
"KAU BERKENCAN DENGANNYA, KAN?" teriak Dima. Ia yang masih terpengaruh alkohol menjadi sangat marah saat Angel seolah tak serius menjawab pertanyaannya. Lagipula jika ia kembali apa ada yang berubah di antara mereka?
"Apa maksudmu?" tanya Angel pura-pura tak mengerti dan mengabaikan teriakan Dima.
"Jangan membodohi ku. Kamu berkencan dengan Senior Ryan, kan? Seniormu di Fakultas Kedokteran. Aku membaca beritanya. Aku juga melihat fotonya. Jadi JANGAN MENYANGKALNYA!"
"Kenapa kau berteriak kepadaku? Jika aku berkencan dengannya, KAU MAU APA?" balas Angel tak kalah sengit.
Sepertinya suaranya dan suara Angel tadi terlalu menggema di toilet jadi Dima keluar dari sana dan memelankan suaranya. "Aku baru pergi beberapa hari dan kamu sudah berkencan dengan orang lain? Kamu sungguh tak punya perasaan!" ujar Dima sedih.
"Beberapa hari?" tanya Angel tak habis pikir. Ini sudah lewat sebulan setelah kepergiannya. Uh, beberapa hari katanya? "Apa kau mabuk sekarang?" tanya Angel tiba-tiba.
"APA URUSANMU!" teriak Dima lagi, ia kembali emosi. Bahkan jika ia meninggal saat ini, apa itu akan membuat Angel melihatnya?
"Itu urusanku jika kamu membahayakan kesehatanmu," sergah Angel dan ia yakin saat ini Dima tengah mabuk. Jika tidak, mana mungkin Dima menghubunginya. Ia yang tak pernah bisa menghubungi Dima di nomor yang sama, tiba-tiba mendapat telepon. Kalau bukan karena mabuk, lantas karena apa coba! "Kamu di mana sekarang? aku akan ke sana menyusul mu," ujar Angel mencoba tenang.
"Kau berkencan dengannya, kan?" tanya Dima sekali lagi.
"TIDAK!" tegas Angel. "Apakah kamu meragukan penjelasanku, hah? Kamu kembalilah ke sini, aku akan menjelaskannya padamu kejadian yang sebenarnya. Semua itu bukan seperti rumor yang beredar jadi jangan mempercayainya," jawab Angel mencoba membujuk Dima.
"Sungguh?" tanya Dima.
"Ya," jawab Angel dengan wajah meyakinkan.
"Angel? Kau sedang menelepon siapa? Aku mencarimu di pintu depan tapi kamu tak ada di sana," tanya Ryan yang tahu-tahu sudah mencul di belakang Angel. Mau tak mau Angel menoleh dengan terkejut. Gawat kalau Dima melihatnya, batinnya.
Tapi Dima sudah melihatnya. Ia telah melihat Ryan dengan jelas. Ia tak perlu penjelasan Angel lagi. Ia telah melihat semuanya. Ia yang sempat ingin kembali seperti ajakan Angel tiba-tiba merasa penantiannya selama ini sia-sia. Ia marah karena Angel telah mempermainkannya.
"Apa itu Dima?" tanya Ryan pada Angel. Sekilas ia melihat wajah Dima di ponsel Angel.
Hanya saja Angel lebih fokus pada Dima dan mengabaikan pertanyaan Ryan.
"Dima ... Ini bukan seperti itu ... " ujar Angel mencoba kembali menjelaskan.
"Aku tak butuh penjelasan, aku telah melihat semuanya, BRENGSEK! Berhenti mempermainkanku!"
"Ini tidak seperti itu!" ujar Angel memelas. Ia ingin menjelaskan yang sebenarnya.
"Aku melihatnya ... Saat ini kau sedang bersama dengan senior itu! KAU BERKENCAN DENGANNYA, KAN!" raung Dima.
"Oke! jika itu maumu. Aku memang berkencan dengan Senior Ryan! APA KAU PUAS!" balas Angel tak kalah sengit. Demi apa ia telah memohon agar Dima mau mendengarkan penjelasannya malah terus-terusan dipojokkan seperti ini. Ia sangat marah.
"Brengsek!" umpat Dima.
Angel menatap wajah Dima dengan marah. Namun segera setelah Dima mengumpatnya, Angel sadar bahwa barusan ia telah melakukan kesalahan fatal. Wajahnya memucat saat melihat wajah Dima dalam ponselnya tiba-tiba beralih fokus dan sejurus kemudian ponsel itu mati.
Dima melempar ponselnya tanpa ampun. Ia sangat marah. Kemarahannya yang memuncak seolah tak akan berhenti sampai ia berhasil memukul seseorang. Ia berjanji tak akan pernah memaafkan Angel karena telah mempermainkannya. Ia akan menuntut balas atas semuanya.
__ADS_1
Di lain pihak, begitu telepon itu berakhir, Angel lantas tertunduk di kursi taman sambil terisak. Semua kesalah-pahaman ini, ia tak akan bisa memperbaikinya lagi. Kedepannya, hubungan mereka tak akan pernah sama lagi.
🌻🌻🌻