
🌻🌻🌻
“~Ma, bisa tanyakan pada Om Theo, tidak? Kenapa Dima masih belum masuk kuliah, ya? Apakah ia masih sakit?~”
Anna membaca pesan yang dikirim putrinya berkali-kali. Ia heran dengan pertanyaan putrinya, bukankah putrinya dengan Dima sangat dekat? Kenapa menunggu dirinya yang harus menanyakannya?
“Apa yang mengganggumu, Sayang?” tanya Thomas pada istrinya. Ia yang baru dari kamar mandi mendapati istrinya menatap layar ponselnya dengan serius.
“Aku mendapat pesan dari Angel,” jawab Anna.
“Apa dia baik-baik saja? Mungkin ia rindu padamu.”
“Bukan pesan yang seperti itu. Ini seperti sebuah pesan rahasia ... “ ujar Anna.
“Rahasia apa? Apa aku tidak boleh melihatnya?” tanya Thomas penasaran dan segera naik ke atas ranjang.
“Boleh, sih! Tapi ... “
“Tapi apa?” tanya Thomas. Ia yang sudah mengulurkan tangannya jadi berhenti di tengah jalan.
Anna menunjuk pipinya dengan jari telunjuk.
Thomas tertawa keras sembari mencium mesra istrinya, ia juga memberi bonus ciuman di bibir.
“Apa ini?” tanya Thomas tak mengerti usai membaca pesan yang dikirim Angel berulang kali. “Tak terlihat ada rahasia di sini ... “
Anna segera mengambil ponselnya dari tangan Thomas dan menerangkannya.
“Angel dengan jelas mengatakan padaku bahwa ia memintaku bertanya pada Theo, hanya pada Theo bukan pada Wendy. Berarti aku harus bertanya secara pribadi dengan Theo saat tidak bersama Wendy.”
“Kau akan bertemu Theo sendirian?” tanya Thomas. Ia mendadak merasa cemburu.
“Apa kau tak setuju? Aku akan meneleponnya saja kalau begitu alih-alih menemuinya.”
“Hm ... “ Thomas tak menjawabnya malah merebahkan diri di pangkuan Anna. “Coba lanjutkan teorinya tadi,“ pintanya.
“Baiklah ... “ ujar Anna sembari membelai rambut panjang suaminya. “Angel ingin aku menanyakan pada Theo alasan Dima tidak kuliah. Bukankah itu aneh?”
__ADS_1
“Di mana anehnya?” tanya Thomas seraya memandang wajah cantik istrinya.
“Bukankah mereka dekat? Maksudku Angel dan Dima?”
“Ya, mereka dekat. Tapi keduanya memaknai arti kedekatan yang berbeda.”
“Maksudnya? Coba jelaskan dengan jelas,” pinta Anna.
Alih-alih menjawabnya, Thomas malah menunjuk bibirnya.
Anna tertawa melihat Thomas mengikuti caranya.
“Kenapa dengan bibirnya? Mau kuoleskan salep di sana?” goda Anna.
Thomas tertawa keras menanggapinya, “Di sini,” ujarnya sembari merujuk bibirnya, “butuh pelumas agar lancar menerangkannya.”
Mau tak mau Anna menanggapi tingkah manja suaminya. Ia merunduk ke arah Thomas yang masih berada di pangkuannya dan menciumnya.
Anna hanya berniat memberikan ciuman singkat tapi Thomas menahannya untuk ciuman yang panjang dan intens.
“Sekarang coba jelaskan,” ujar Anna dengan nafas yang sedikit tersengal. Ia masih terpengaruh dengan ciuman panjang suaminya.
“Kenapa jadi aku yang berbaring?”
“Aku suka melihatmu,” jawab Thomas. “Aku tadi tak bisa melihatmu karena terhalang rambut panjangmu,” lanjutnya sembar menyibakkan rambut Anna agar ia bisa melihatnya dengan jelas.
Di balik rambut itu ada bekas luka memanjang di kening sampai pelipis. Thomas sering bertanya-tanya bagaimana Anna mendapatkan luka itu tapi Anna mengatakan bahwa ia tak mengingatnya.
“Menurut apa yang kulihat, sebagai sesama pria bukan sebagai papa Angel. Menurutku Dima suka pada Angel dalam arti suka antara seorang pria pada wanita. Sedangkan Angel menyukai Dima sebatas saudara. Mungkin Angel sudah punya pacar atau ia menolak Dima dengan keras sehingga Dima menyerah dan menjauh.”
“Masa begitu?” tanya Anna tak percaya. “Bukannya mereka memang dekat sebagai seorang teman sedari kecil. Aku juga tak menampik jika Angel sudah menganggap Dima sebagai saudara. Angel bahkan dengan lantang mengatakan bahwa ia mempunyai 3 adik. Mereka memang sangat dekat selayaknya saudara.”
“Tidak hal yang seperti itu. Bagi kami para pria, selalu ada hitam dan putih, tak ada yang suka abu-abu. Meski mereka memang selayaknya saudara tapi mereka kan bukan saudara sungguhan.”
“Apa itu berarti sejak Angel menjenguk Dima malam itu, ia tidak lagi bisa menghubungi Dima secara pribadi?”
“Kemungkinan begitu, kalau tidak, kenapa ia repot-repot memintamu menanyakannya?” ujar Thomas beretorika.
__ADS_1
“Lalu bagaimana dengan maksud pertanyaan apa Dima masih sakit?”
“Angel hanya tidak ingin terlalu kentara saja.”
“Lalu aku harus bagaimana? Haruskah aku menanyakannya?”
“Tentu saja harus.”
“Apa aku meneleponnya saja? Theo kan bukan orang dengan jadwal yang longgar sepertiku.”
“Hm, paling tidak, kamu juga harus meneleponnya terlebih dahulu untuk membuat janji. Jika memang Theo ingin membahasnya di telepon itu juga bagus. Tapi jika ia ingin bertemu saat membahasnya, ya ... dia akan meluangkan waktunya.”
“Hm, benar juga!”
“Tentu saja aku selalu benar!” seru Thomas sembari mencubit pipi istrinya.
“Ye, apa, sih!”
“Kamu gendut-an tahu!”
“Masa?”
“Iya, lihat pipi ini ... “
“Menurutku biasa saja!”
“Jangan-jangan kamu hamil!”
Anna tertawa kencang.
Thomas sedikit menyesal dengan gurauannya yang sedikit kelewatan. Ia lantas memeluk istrinya yang tertawa. Ia tahu arti tawa itu. Kendati istrinya ingin sekali punya banyak anak tapi mereka harus cukup puas dengan sepasang buah hati yang dititipkan Tuhan pada mereka.
Thomas tak ingin kehilangan Anna. Ia masih ingat dengan jelas, saat itu istrinya hampir meregang nyawa saat hamil Hans.
Dokter telah mewanti-wanti dan melarang dengan tegas Anna untuk kembali hamil. Karena Anna menolak rahimnya diangkat, mau tak mau mereka harus berhati-hati agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Karena suasananya mendadak canggung, Thomas lantas mengajak istrinya untuk tidur. “Jawab saja ‘iya’ supaya Angel tidak terlalu terbawa pikiran dan mari kita tidur,” sambungnya.
__ADS_1
🌻🌻🌻