
🌻🌻🌻
Angel mengetuk jari kakinya dengan tidak sabar. Ia menunggu teman-temannya keluar kelas. Ia berdoa dalam hati semoga Senior Ryan berlama-lama di kelas. Ia ingin membicarakan sesuatu tapi ia malu didengar teman-temannya.
“Anu ... Senior ... “ ucap Angel terbata-bata saat Ryan hendak keluar kelas.
“Ya, Angel. Apa ada yang kamu butuhkan?” tanya Ryan. Ia yang hendak keluar kelas berbalik mendekat ke arah Angel.
Angel menggeleng dengan gugup. Ia berdiri dengan canggung saat Ryan mendekatinya.
“Apa ini tentang buku waktu itu?” tebak Ryan.
Angel mengangguk.
“Aku sedikit sibuk sekarang. Nanti malam aku ada acara di dekat Cafe Lilac. Bagaimana jika kita membicarakannya di sana sore ini?” tawar Ryan. “Itu jika kamu tidak sibuk, tentu saja!” lanjutnya.
“Baiklah, nanti sore aku akan ke sana. Ini nomer kontakku,” ujar Angel sembari menyodorkan secarik kertas bertuliskan nomer teleponnya.
“Aku akan menghubungimu,” ujar Ryan sembari tersenyum.
Angel yang sedari tadi menahan nafas, tampak lega setelah ia selesai berbicara dengan Senior Ryan.
“Duh, aku sampai berkeringat. Senior Ryan sangat tampan hari ini,” gumamnya, tapi buru-buru Angel membuyarkan lamunannya. Bagaimana bisa ia menjadi salah fokus begini. Ia hanya butuh bantuannya bukan hendak merayu seniornya.
🌻🌻🌻
Dima melihat postingan media sosial adiknya. Foto ini sudah terpajang beberapa hari yang lalu dan ia baru sempat melihatnya.
Foto itu memperlihatkan Daniel dalam rangkulan Angel. Ada Paula juga di sana, gadis itu duduk di samping Angel dan Richard duduk di bagian paling ujung, di samping Paula. Hans yang tak kebagian tempat duduk berdiri di tengah sembari merangkul Paula dan Angel. Hans juga menyenderkan kepalanya di bahu kakaknya. Terlihat suasananya sangat menyenangkan. Senyum tak lepas dari bibir mereka.
__ADS_1
Dima memandangi foto itu dengan penuh kerinduan. Ia merindukan mereka. Ia merindukan Angel, ia juga merindukan ketiga adiknya. Dulu mereka sangat dekat selayaknya saudara. Sebelum perasaannya memorak-porandakan hatinya, juga memorak-porandakan hubungan mereka.
Dan hatinya sedih melihat foto terbaru Daniel, adiknya terlihat kurus. Apakah itu karenanya? Apakah perasaan Daniel kehilangannya seperti saat ia kehilangan Angel?
Dima sangat malu pada Daniel. Bagaimana kabar Daniel, ya? Ia sebagai kakak sangat egois. Ia mementingkan dirinya sendiri sementara adiknya dengan penuh kerinduan menuliskan kata-kata rindu padanya.
‘Kakak, cepat pulang. Aku merindukanmu ... ‘
Siapa yang akan tahan ketika membaca caption itu?
Dima tak tahan lagi. Ia harus menghubungi adiknya. Persetan dengan Angel! Seperti kata Kak Tonny, wanita bukan hanya Angel seorang. Bagaimana ia merusak hubungannya dengan Daniel hanya karena rasa pengecutnya akibat penolakan Angel. Kelakuannya sungguh tak termaafkan!
Ia akan membuktikan bahwa ia layak mendapatkan gadis yang lebih baik dari Angel.
Ia akan membalas dendam pada Angel. Ia akan membuat gadis itu menyesal telah menolaknya.
🌻🌻🌻
“Kakak? Ini sungguhan Kak DIMA!”
Daniel berteriak kencang sembari berjingkrak-jingkrak saat melihat wajah kakaknya dilayar telepon.
“Mama di rumah?” tanya Dima.
“Entahlah ... mungkin ke luar. Aku tidak tahu. Kakak ke mana saja?” rengek Daniel. Ia sudah putus asa saat tidak bisa menghubungi kakaknya.
“Maafkan aku Daniel. Kakak belum bisa memberitahumu. Tapi ngomong-ngomong bagaimana kabarmu? Kenapa kamu kurus sekali ... “
“Kakak juga kurus. Apa kakak sakit?” Daniel balik bertanya sembari memandang wajah kakaknya lekat.
__ADS_1
“Kakak sehat. Kakak baik-baik saja. Dan omong-omong bisakah sedikit menjauh? Aku sampai bisa melihat lubang hidungmu,” gurau Dima.
“Kakak kapan pulang?” tanya Daniel sedih. Ia tak sedikitpun mengindahkan gurauan kakaknya.
“Kakak belum bisa pulang. Oia jangan beritahu Kak Angel kalau aku menghubungimu, ya?”
“Apa ini karena Kak Angel? Apa Kak Angel menolak Kakak lagi?” tanya Daniel.
Dima tertawa kecut. Kedengarannya menyedihkan saat ia mendengar adiknya mengatakan itu. Apa aku memang sememalukan itu? Batin Dima miris.
“Bukan itu, kakak hanya magang di sini satu semester. Semester berikutnya kakak akan pulang. Saat ulang tahunmu nanti, kakak janji kakak pasti datang.”
“Sungguh! Jangan berbohong padaku, ya?”
“Janji ... kamu juga makan yang banyak. Akan memalukan jika kamu tak bertumbuh hanya karena malas makan.”
“Siap! Apa ini nomor baru kakak? Apa kakak akan meneleponku lagi? Apa aku boleh menghubungi Kak Dima besok?” cecar Daniel. Ia takut hanya sekali ini kakaknya menghubunginya.
“Tentu saja boleh. Asal rahasia!”
“Baiklah! Aku janji. Kak Dima juga banyakin makan, ya! Kakak cepat sembuh!”
“Dibilangin Kakak gak sedang sakit, kok!”
“Ya, pokoknya Kak Dima cepat sembuh,” pungkas Daniel.
“Baiklah adikku sayang. Tidur yang nyenyak. Doakan kakak biar magangnya lancar dan cepat selesai dan cepat pulang.”
“Good luck, Kak Dima!”
__ADS_1
“Bye, Daniel!”
🌻🌻🌻