Anna, Hug Me

Anna, Hug Me
33


__ADS_3

🌷🌷🌷


Thomas duduk berdampingan dengan Chaty di taman Rumahsakit. Ia berhutang banyak penjelasan pada Adiknya. Meskipun Ana ingin merahasiakan ini dari Chaty tapi jika mereka sudah tertangkap basah seperti ini, sudah kepalang tanggung jika menyembunyikannya dari Chaty.


“Katakan padaku, sebenarnya apa yang kamu lakukan pada Ana ku?” tanya Chaty pada Kakaknya. Ia telah berusaha bersikap tenang dan tidak membabi buta seperti tadi.


“Semua ini salahku. Aku termakan emosiku sendiri saat kamu mengatakan bahwa Ana bertunangan. Aku merasa marah, alih-alih merelakannya, aku malah berusaha memiliki Ana, Aku memaksanya menjadi milikku malam itu. Malam yang ternyata pertama kali baginya. Theo menolak penjelasan Ana dan menganggap gadis itu telah selingkuh denganku. Karena kamu adalah sahabatnya dan juga Adikku, ia tidak bisa menceritakan masalah ini denganmu dan memilih untuk kembali ke kampung halamannya.”


“Aku tak percaya kamu melakukannya, Thomas," ujar Chaty marah. "Aku sudah mengatakannya dengan jelas padamu jangan dekati Ana. Dia berbeda. Tapi kamu tak mau tahu. Sekarang kamu lihat sendiri akibat yang kamu timbulkan. Ia sampai masuk rumah sakit karenamu. Kumohon pergi saja dari kehidupannya. Jangan mengganggunya lagi.”


Thomas tak peduli omelan Adiknya dan terus saja meneruskan ceritanya. “Aku tak sengaja menemukan Ana lagi setelah Theo bersikeras memintaku ikut mengerjakan proyek ini. Ia pasti sudah tahu di mana Ana sebelum ini.”


“Tentu saja ia tahu, bagaimana pun juga Theo itu mantan tunangan Ana,” sergah Chaty. Ia tak suka dengan sikap Kakaknya yang terbelit-belit. Setelah semua yang terjadi, bukankah seharusnya Kakaknya membiarkan Ana menjalani hidupnya. “Sekarang, mumpung semua masih bisa di selamatkan, lebih baik kamu menjauh sejauh mungkin dari Ana dan biarkan gadis itu hidup bahagia.”


“Dulu, aku mungkin bisa melakukannya, tapi saat ini aku tidak bisa melepaskan Ana lagi," jawab Thomas.


“Kamu jangan keras kepala,” ujar Chaty marah.


“Tidak, setelah aku tahu Ana hamil Anakku.”


“Apa...! apa aku salah dengar? Coba katakan sekali lagi? Katakan!” Chaty tidak bisa tidak marah dengan apa yang barusan dikatakan Kakaknya.


“Ya, saat ini Ana sedang hamil Anakku, keponakanmu.”


“Astaga...!” Chaty terenyak di kursinya. Tubuhnya lemas. Thomas telah menghamili Ana. Kenyataan ini demikian sakit baginya. Betapa malang nasib Ana, telah mendapat perlakuan semena-mena dari Thomas, ditambah tidak bisa menceritakan kelakuan bejat Thomas hanya karena Thomas saudara dari sahabatnya. Lengkap sudah penderitaan Ana.


“Aku benar-benar mencintai Ana setulus hatiku, aku juga ingin membesarkan anakku bersamanya. Jadi tolong dukung aku sebagai saudara.”

__ADS_1


“Aku juga sahabat Ana, bagaimana bisa aku mendukungmu,” ujar Chaty kelu. “Sudahkah Mama dan Papa mengetahuinya?” tanya Chaty.


Thomas menggeleng, “Aku baru bertemu dan mengetahui kehamilan Ana belum lama ini. Aku juga belum bisa mendapatkan hati Ana. Aku tidak bisa mengatakannya pada Mama.”


“Tapi maaf," kata Chaty. "Aku harus mengatakan kejadian ini pada mereka meskipun kamu mencegahnya. Mereka sudah dewasa dan mempunyai sudut pandang yang baik untuk menyikapi ini, paling tidak mereka bisa memberi saran padamu agar tidak membuat kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Pertama kamu sudah menelantarkan ibu dari Anakmu bisa jadi kamu juga akan menelantarkan Anakmu nanti,” ujar Chaty panjang lebar.


“Baiklah, kuharap itu yang terbaik,” ujar Thomas pasrah dengan keputusan Adiknya. “Ayo, kembali ke dalam. Aku ingin tahu kabar terbaru tentang Ana.”


“Apa yang terjadi dengan Ana sampai ia masuk rumah sakit?” tanya Chaty sambil berjalan kembali ke tempat Ana dirawat.


“Aku menemukannya pingsan di dalam rumah dan ia mengalami pendarahan juga,” terang Thomas.


“Apa! Lalu bagaimana keadaannya saat ini?”


“Dokter memberinya transfusi darah untuk mengembalikan kondisinya.”


“Selagi Ana masih kuat, bayi itu akan dipertahankan selama mungkin di dalam rahim karena memang usia kehamilannya masih belum mencukupi.”


“Semoga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” doa Chaty.


Namun sepertinya doa Chaty belum dikabulkan oleh Tuhan. Saat mereka memasuki lobi, terlihat Soni berlari menghampiri mereka. Wajahnya terlihat panik. Thomas menduga ada sesuatu yang buruk telah terjadi pada Ana.


“Soni, ada apa?” tanya Thomas ketakutan. “Apa terjadi sesuatu pada Ana?”


“Ya, telah terjadi sesuatu padanya. Dokter mengatakan ia harus segera dioperasi untuk menyelamatkan bayinya atau tak ada yang selamat di antara keduanya," terang Soni dengan nafasnya yang tersengal-sengal.


“Bagaimana bisa kondisinya memburuk dengan cepat?” tanya Thomas. Mereka segera bergegas ke tempat Ana di operasi.

__ADS_1


“Apa yang terjadi?” tanya Chaty sembari ikut berlari mengimbangi Kakaknya yang berjalan sangat cepat, seolah tak sabar ingin segera sampai.


“Perawat salah mengganti kantong darah yang sejatinya bukan untuk Ana, Ana disinyalir bisa gagal ginjal. Kurang lebih seperti itu, kita harus memindahkan Ana ke rumah sakit yang lebih besar dan karena ini di pulau jadi...” Soni tak meneruskan ucapannya karena Thomas langsung berteriak pada Adiknya.


“Telepon Papa, perintahkan padanya untuk mengirimkan helikopter medis secepatnya ke sini. Dua! Untuk Ana dan Bayinya.”


“Baik,” jawab Chaty, ia memelankan larinya untuk melakukan panggilan telepon. Sedangkan Thomas dan Soni sudah lebih dulu berjalan dengan cepat dan menghilang dari pandangan.


“Kamu tidak menunggu koordinasi dengan pihak rumahsakit?” tanya Soni.


“Nyawa keduanya akan terancam jika aku membiarkan kelalaian pihak rumahsakit terulang lagi. Aku punya hak memindahkan keduanya tanpa izin karena kecerobohan mereka telah membuat nyawa keduanya terancam.”


Akhirnya mereka telah sampai di depan kamar operasi. “Bagaimana keadaannya?” tanya Thomas begitu mereka tiba.


Edward dan Lily menunggu dengan cemas di depan ruang operasi. “Mereka sedang melakukan operasi," jawab Edward. Dari kejauhan ia melihat Chaty telah tiba menyusul ke tempat mereka.


“Helikopter sudah dalam perjalanan,” kata Chaty begitu sampai di tempat mereka menunggu Ana.


“Kau,” kata Thomas sambil menunjuk Edward, “katakan pada pihak rumahsakit kalau helikopter medis sedang dalam perjalanan. Aku akan memindahkan keduanya ke rumahsakit yang lebih besar. Jika aku sendiri yang mengatakannya, aku tak yakin akan bisa menahan emosiku. Aku sangat marah dengan kelalaian mereka, aku ingin memukuli semua orang,” ujar Thomas. Nafasnya tersengal-sengal menahan emosi.


Chaty segera merangkul pundak Kakaknya dan meminta Kakaknya untuk duduk dan tenang. Tak ada yang bisa mereka lakukan kecuali berdoa, meski doanya sendiri baru saja tidak terkabul. Tapi bisa saja ada keajaiban jika Tuhan yang berkehendak.


Edward berjalan menjauh tanpa menjawab. Ia bisa merasakan bagaimana jika ia yang berada di posisi Thomas. Ia pasti akan memukul semua orang karena kelalaian itu bisa saja merenggut nyawa Ana dan juga bayinya. Semoga yang terbaik untuk Ana ke depannya, doanya dalam hati.


🌷🌷🌷


Novel ini akan segera tamat dan Happy Ending.

__ADS_1


selamat membaca.


__ADS_2