
🌻🌻🌻
Untuk menghindari teman-teman Dima yang merecokinya, Angel lebih memilih menghabiskan waktunya di perpustakaan. Ia akan belajar lebih sering dan mengerjakan tugas lebih awal. Ia sadar, jurusannya tak mudah. Semakin tinggi semesternya nanti ia akan lebih banyak praktik daripada teori. Jadi selagi sempat, ia akan membaca buku sebanyak mungkin.
Terkadang Sissy datang menemaninya, terkadang pula Paula. Keduanya secara bergiliran membawakannya makanan.
“Kau terlalu kurus,” komentar Paula.
Angel hanya mengangguk. Sejak tak bisa mendapatkan kabar tentang Dima, Angel telah bertahan sebisa mungkin dari ketergantungannya akan Dima. Ia harap pelariannya pada buku-buku membuatnya bertahan.
“Kau harus makan dengan benar.”
“Ya,” Angel masih fokus pada bukunya.
“Angel ... kau mendengarku?”
Angel mengangguk.
“Ikut aku sebentar ... “ ajak Paula sedikit memaksa. Ia tidak sejurusan dengan Angel jadi ia tidak bisa selalu mengawasi temannya.
Dengan malas Angel mengekor di belakangnya.
“Kita akan ke mana?” tanya Angel begitu mereka berada di tempat parkir.
“Aku ingin membuatmu sedikit bersemangat.”
Angel hanya mengangguk. Ia tak ingin menerka kejutan apa yang dipersiapkan temannya karena terlalu malas.
Tapi saat mereka berhenti di depan pagar SMP Maxwell, Angel langsung tertarik. Apalagi saat ia melihat ketiga adiknya sudah menunggunya di depan pagar.
Angel langsung menghambur keluar dengan senyum merekah.
Hans, Richard dan Daniel tidak kalah antusiasnya dengan Angel. Mereka berbagi pelukan pelepas rindu.
“Padahal kita sangat dekat kenapa Kak Angel tidak pernah mengunjungi kita ... “ rengek Hans.
Angel hanya tertawa, “Kalau aku tidak melakukannya, kapan kamu dewasanya?” ujar Angel sambil memeluk Hans. Ia merindukan adik-adiknya, terlebih adik kandungnya.
“Apakah kamu masih melakukan banyak ekstrakurikuler?” kali ini giliran Angel bertanya pada Richard. Sepupunya satu ini selalu merasa bertanggungjawab menjadi bangsawan dan memaksakan diri menguasai banyak hal.
Richard hanya tersenyum kecut, sepertinya ia akan dimarahi. Tapi, pertanyaan itu hanya berhenti dari situ karena Richard segera menyadari perbedaan pada kakaknya.
“Kakak kurusan!” seru Richard. Mata hijaunya membulat.
“Kau akan tahu jika kau kuliah di kedokteran juga,” kilah Angel. Ia segera mengalihkan perhatiannya pada Daniel. Ia bisa melihat Daniel juga lebih kurus dari terakhir ia lihat.
“Kau juga kurusan ... “ gumam Angel pada Daniel.
__ADS_1
Daniel mengacak rambut hitamnya sambil tertawa canggung. Tapi belum sempat ia menjawabnya, Paula sudah mengklakson mereka dan mengajaknya pindah ke kursi taman yang banyak tersebar di kompleks sekolah mereka.
“Apa Kak Angel tak tahu kalau Daniel kurus karena ia kangen Kak Dima,” ujar Richard.
“Memang Dima ke mana?” tanya Paula cepat. Ia menggantikan Angel menanyakannya.
“Entahlah ... “ jawab Daniel sembari menghela nafas.
“Oke, kita piknik di sini sebentar, waktu kalian hanya 25 menit,” ujar Paula sambil memarkirkan mobilnya.
Mereka berada di kursi taman sembari makan ayam goreng yang dibeli Paula.
“Kenapa kamu menjawab entahlah, bukankah seharusnya kamu tahu kakakmu ke mana?” tanya Paula. Ia tak akan berhenti menanyakannya sampai ia tahu jawabannya.
“Tak ada yang memberitahunya ke mana kakaknya pergi,” lagi-lagi Richard yang membantunya menjawab.
Paula mengangguk mengerti, ia menoleh ke arah dua bersaudara yang duduk di bangku paling pinggir. Keduanya bercengkerama membahas tentang keadaan rumah.
“Apa Daniel tidak bisa menghubunginya? Maksudku, mereka kan saudara?”
Daniel memakan ayam gorengnya dengan sedih, “aku tidak akan sesedih ini jika aku bisa menghubungi Kak Dima.”
“Aku hanya tahu Kak Dima tiba-tiba pingsan dan keesokan harinya Kakak menghilang ... “ lanjut Daniel. Ia sudah ingin menangis lagi.
“Apa mama dan papamu tidak memberitahumu ke mana perginya Dima?”
“Jangan bersedih,” Richard merangkul temannya menguatkan.
Paula menggaruk pipinya. Ia merasa bersalah telah membangkitkan memori sedih Daniel.
“Bagaimana kalau kalian kufoto? Sebagai kenang-kenangan ... “ usul Paula.
“Boleh ... “ jawab Angel.
“Aku mau di samping Kak Angel,” sahut Daniel.
“Aku juga!“ sahut Richard.
“Lalu aku?” sepertinya Hans kalah cepat. “Kalian sadar tidak, Kak Angel itu kakakku ... “ protes Hans.
“Siapa bilang? Coba tanya Kak Angel berapa adiknya?”
“Adiknya tiga,” sahut Paula sambil tersenyum.
Hans makin gondok.
“Kamu bisa berdiri di belakang kakak,” ujar Angel pada adiknya.
__ADS_1
Hans mengangguk. Ia lantas merangkul kakaknya dari belakang. “Ayo Kak Paula, cepat foto kami. Aku akan meng-crop hasil fotonya biar terlihat hanya aku dan Kak Angel saja!”
Kedua bocah di sampingnya tak mau kalah dan ikut menempel ke arah Angel agar tetap masuk saat Hans berniat memotong foto mereka.
Paula memotret mereka sambil tertawa kencang. Ia jadi teringat adik semata wayangnya.
“Kak Paula juga mari berfoto bersama ... “ ajak Richard, ia melonggarkan duduknya agar Paula bisa duduk di samping Angel.
“Lalu siapa yang memotretnya?”
“Kita bisa selfie ... “ usul Daniel.
Tapi Richard lebih cepat. Ia melambai ke rombongan gadis SMA yang sedang berjalan.
Richard segera mendekat segera setelah rombongan tersebut menanggapi lambaiannya. Ia bergumam sesuatu sembari menyerahkan ponselnya dan tak lupa ia menyunggingkan senyumnya yang manis.
Seorang gadis di antara mereka mengangguk dan menerima ponselnya.
“Asyik, tak perlu selfie,” ujar Hans. Ia segera mengambil posisi dan menempatkan kepalanya di antara Paula dan Angel.
“Sepertinya adikmu yang satu itu sangat pintar bersosialisasi,” ujar Paula takjub. Tak banyak anak SMP yang berani minta tolong pada anak SMA.
“Tentu saja karena Richard adalah bangsawan,” sahut Daniel.
“Tak perlu iri, bagiku kau adalah pangeran ... “ ujar Angel. Ia melingkarkan lengannya pada pundak sang bocah.
“Kak Angel yang jadi princess-nya ... “ goda Daniel.
“Duh, ni anak perayu banget, sih!” ujar Angel sambil mencubit pipi Daniel.
Paula nyengir, bagaimana ya rasanya jadi Angel? Tiap hari dikelilingi bocah-bocah tampan.
“Ayo, Kak Paula ... “ ujar Richard mengingatkan Paula yang sedikit melamun.
Paula tersenyum dengan keramahan Richard. Bocah ini sungguh pintar dan sopan.
Saat melihat fotografer dadakan mereka telah siap di posisi, mereka segera memasang senyum dan berpose.
Richard yang berada di ujung kiri menampilkan senyum wibawa khas bangsawan. Sedangkan di sampingnya terdapat Paula dengan senyum canggungnya.
Paula berharap wajahnya yang biasa-biasa tidak terlihat memalukan saat berada satu frame dengan wajah rupawan keluarga Dunyan dan Maxwell.
Di samping Paula duduk Angel dengan senyumnya yang manis, ia melingkarkan satu tangannya di pundak Daniel dan satunya lagi menggenggam erat tangan Paula. Ia berterima kasih pada Paula yang memprakarsai acara dadakan hari ini.
“Yep, semua! Say Cheese...!” ucap Angel sambil nyengir lebar. Sepertinya pertemuan dengan ketiga adiknya sangat membekas hingga senyum bahagia terus tersungging hingga hari berakhir.
🌻🌻🌻
__ADS_1