
🌷🌷🌷
Suasana pagi yang sejuk di sebuah taman kecil yang indah, embun yang masih belum hilang sepenuhnya dari dedaunan berkilau indah tertimpa sinar mentari pagi. Seorang wanita muda duduk di kursi taman dengan kereta dorong bayi di sampingnya. Matanya memandang beberapa kupu-kupu yang bersemangat menyambut pagi seperti dirinya.
Ana menghela nafas dalam. Ia merasa sedikit rileks ketika memandang pemandangan yang asri. Karena jujur saja, ia sedikit tertekan pindah ke rumah ini, rumah keluarga Dunyan. Ia sering ke tempat ini saat masih menjadi sahabat Chaty tapi perasaannya kali ini berbeda karena statusnya yang berbeda. ia juga tidak terbiasa dilayani jadi rasanya sedikit aneh. Ia mendengar suara langkah kaki mendekat, jadi ia menoleh ke arah datangnya sumber suara. Ia melihat Lelakinya datang membawa baki sarapan. Ia tersenyum memandangnya Thomas yang berjalan dengan riang.
“Aku membawa sarapan untukmu,” ujar Thomas sambil meletakkan roti dan susu juga irisan buah di depan Ana.
“Terima kasih, bagaimana denganmu? Apa kamu tidak sarapan sekalian?” tanya Ana.
“Aku sudah merasa kenyang hanya dengan melihatmu sarapan,” jawab Thomas sambil tersenyum manis. Ia kemudian menoleh ke arah Angel, Putrinya yang tengah tertidur pulas di dalam kereta dorong. Rambutnya yang pirang tampak lebat untuk ukuran bayi yang lahir baru lahir. Angel sangat cantik, Kakeknya bahkan tak sabar untuk membuat pesta perkenalan untuk Angel. Tapi terlebih dulu Thomas ingin mengadakan pesta pernikahan sebelum memperkenalkan Angel ke publik.
“Hem... kamu tahu, kamu harus banyak makan untukku dan Angel karena sekarang beban hidupmu sangat berat,” gurau Ana.
__ADS_1
“Aku tak keberatan jika kita menambah momongan,” jawab Thomas tak kalah menggoda. Ia begitu suka menggoda Ana, karena gadis itu akan langsung bersemu merah.
“Eh...” Ana sedikit terkejut mendengarnya dan langsung memalingkan wajahnya. Apa-apaan ini. Sejak aktivitas seksual pertamanya, Ana sedikit pun terbayang untuk melakukannya lagi. Ana segera menyuapkan sesendok besar roti untuk menutupi ekspresi canggungnya.
“Tentu saja setelah kita menikah,” sambung Thomas cepat, ia begitu gugup saat melihat tatapan terkejut Ana. “Ana, aku mencintaimu. Menikahlah denganku,” pinta Thomas yang tiba-tiba telah jongkok di samping Ana. “Sudikah kiranya kamu mendampingiku menjadi orang tua Angel dan membesarkannya bersama.”
Ana hendak menjawabnya tapi sesuap roti itu cukup besar untuknya, jadi ia segera meminum susu dengan tegukan yang besar.
Thomas dengan sabar menanti apa yang diucapkan Ana nanti. Ia menunggu jawaban Ana, apa pun itu, ia akan menerimanya dengan hati lapang.
Thomas segera memasangkan cincin lamarannya pada jari manis Ana. Cincin itu pilihannya sendiri, dengan mutiara putih di tengah dan beberapa mutiara kecil mengelilinginya. Ia telah menempatkan tulisan Angel pada gagangnya dan tulisan Thomas-Ana di bagian dalam. “Terima kasih telah bersedia menikah deganku,” ujar Thomas sambil mencium tangan Ana. Ia lalu bangkit dan mendekat ke arah Ana. Menatap calon istrinya dengan tatapan penuh cinta. Ana balik memandangnya dengan mata yang berkabut. Ana-nya yang sangat cantik dengan mata indahnya dan bibirnya yang terbuka mengundang. Ia mendekatkan kepalanya, antara ragu dan ingin mencium bibir itu. Akhirnya ia memilih mengesampingkan keraguan itu dan mendekatkan bibirnya.
Bibir yang hangat itu melumat bibir Ana dengan lembut. Matanya yang berkabut tak kuasa meneteskan air mata kebahagiaan. Ciuman itu panjang dan penuh perasaan, begitu dalam, seolah semua beban dan kesusahan yang dialami Thomas dan Ana dituang seluruhnya dalam ciuman ini. Apalagi saat Thomas mengetatkan pelukannya tanpa menghentikan ciumannya. Air mata Ana semakin deras saat ia merasakan detak jantung Thomas yang berdebar kencang dalam pelukannya. Ia merasakan cinta yang begitu besar melingkupinya dan kehangatan itu menyebar ke semua tubuhnya.
__ADS_1
Tapi, tiba-tiba ciuman itu berhenti oleh tangisan Angel. Thomas menutup ciuman itu dengan ciuman pendek yang lain sambil berucap, “Jangan menangis, Sayang.” Ia mengusap air mata yang menetes di pipi Ana.
Ana tertawa mendengarnya. Thomas seolah mengatakan jangan menangis untuknya dan untuk Angel. Karena mereka sama-sama menangis dan Thomas menenangkannya cukup dengan satu kalimat.
Thomas tersenyum manis sembari menggendong Putrinya. Ana juga tersenyum dan melanjutkan sarapannya. Jahitannya yang masih sakit tak memungkinkannya untuk menggendong Angel terlalu lama, jadi Thomas yang melakukan semua untuknya. Pria yang terlihat dingin seperti Thomas ternyata sangat cekatan dan terampil mengasuh bayi. Ana tak bisa mengatakan apa pun selain rasa syukur dan terima kasih pada Tuhan yang telah membuat ceritanya berakhir indah.
Tak jauh dari sana di lantai atas, sisa keluarga Thomas memandang mereka mulai dari proses lamaran bermula. Ia baru pertama kali melamar seseorang dan ia tak tahu respons Ana seperti apa. Jadi Thomas membutuhkan dukungan keluarganya. Mereka bersyukur semua berjalan seperti yang Thomas dan mereka harapkan.
“Sepertinya Mama harus segera menyiapkan pesta pernikahan,” ujar Nyonya Bella.
“Mama, bukannya aku yang bertunangan lebih dulu,” ujar Chaty.
“Kalian menikah saja bersama-sama,” usul Arthur.
__ADS_1
“Inginku tapi...” Chaty tak ingin meneruskan perkataannya karena hubungannya dengan tunangannya sedikit tak bagus akhir-akhir. Mungkin salahnya yang terlalu sibuk bekerja dan masalah Thomas. “Ya, sudah mereka saja dulu,” ujarnya sambil berlari turun ke lantai bawah. Ia tak sabar menggendong keponakannya yang menggemaskan.
🌷🌷🌷