Anna, Hug Me

Anna, Hug Me
Episode 32


__ADS_3

🌻🌻🌻


"Aku kerja dulu, Sayang," pamit Thomas sembari mencium mesra istrinya.


"Ehem ... ehem ... " Angel berdehem melihat kemesraan orang tuanya.


Thomas berbalik ke arah putrinya dan memeluknya.


"Putriku masih saja pencemburu," goda Thomas.


"Aku menurun dari siapa, coba!"


"Haha ... Kamu persis seperti papa."


"Hm, apa aku boleh minta sesuatu?" tanya Angel tiba-tiba.


"Minta apa, putri kecilku ... " goda Thomas sembari mencubit hidung putrinya.


"Aku sudah besar, Pa. Sebentar lagi aku setinggi papa."


"Baiklah-baiklah ... apa yang kau inginkan?" tanya Thomas.


Angel mengerling ke arah mamanya sebelum menjawab. Saat mamanya mengangguk, Angel dengan mantap mengutarakan keinginannya.


"Aku ingin mobil sebagai kado ulang tahunku."


"Hm, tentu saja!"


"Tapi aku ingin kadonya sekarang."


Tanpa menunggumu ulang tahun, papa bisa menghadiahimu mobil mana pun yang kamu suka. Kamu bisa memilih mobil pertamamu sekarang."


"Benarkah!"


"Semua mobil dalam garasi di samping, kau bisa memiliki semua isinya."


"Haha ... Aku tak ingin semua isinya, Pa. Aku cuma mau satu saja!"


"Baiklah, kamu bisa memilih beberapa yang kau suka. Nanti Papa yang akan membantumu memilih mobil mana yang terbaik untukmu. Maaf karena tidak bisa menemanimu sekarang. Papa sudah harus berangkat kerja."


"Aku akan melihat-lihat isinya dengan Mama nanti, Papa kerja yang rajin, ya!"


"Tentu, Sayang," balas Thomas sembari mencium pipi Angel dengan sayang.


Thomas beralih ke arah istrinya.

__ADS_1


"Baik-baik di rumah ya, Honey!" ujar Thomas seraya memberi kecupan singkat di bibir Anna.


Angel sampai mengalihkan pandangannya karena merasa malu melihat kemesraan yang ditujukan oleh orang tuanya.


Sedangkan Thomas tampak biasa saja dan segera berangkat begitu ia selesai berpamitan.


"Bagaimana bisa mama membiarkan papa mencium mama saat ada orang di sekitar kalian? Apa mama tidak malu saat melakukannya? Aku melihatnya saja geli."


"Mama tak bisa melarang papamu, Angel. karena itu memang sifatnya. Papamu adalah orang yang sangat mudah menunjukkan emosinya. Ia seperti botol kaca bening sehingga semua orang bisa melihat isinya tanpa membukanya. Dulu mama pikir ia bersikap mesra hanya saat awal-awal pernikahan kami saja. Tapi sampai kamu dan adikmu besar, sifat dan kelakuannya ternyata masih tetap sama dan belum berubah. Namun setelah dipikir-pikir mama justru merasa bersyukur jika kami bisa tetap mesra seperti ini. Mama berharap kemesraan ini bisa bertahan sampai akhir hayat kami."


"Apakah hal itu yang membuat mama berpaling dari Om Theo? Apa Om Theo orangnya terlalu kaku seperti Dima?"


"Kenapa kita jadi membahas Om Theo?"


"Ya, sekedar penasaran, sih! aku masih merasa janggal kenapa mama menikah dengan papa."


"Apa kamu berharap jadi saudaranya Dima?"


"Ya, gak juga, sih!"


"Nah makanya," pungkas Anna. "Bagaimana sekarang? Apa kita akan menghabiskan pagi ini membahas keluarga Dima atau membahas mobil."


"Mobil saja, deh! Jangan marah ya, Ma. Mama cantik, deh!"


Saat tiba di garasi mobil di samping rumah. Mobil berwarna hitam dan silver berderet menyambut mereka. Angel langsung terpesona pada mobil SUV warna orange berada di barisan bagian kanan. Mobil itu langsung membuatnya terpesona karena warna cerahnya yang cantik di antara tumpukan warna gelap di sekitarnya. Mobil bermerek porsche itu tampak ramping dan sporty. Sungguh sangat elegan.


"Kamu menyukainya?" tanya Anna.


"Iya, ini sesuai dengan seleraku. Ma, aku mau yang ini. Tolong, ya!"


Anna nyengir melihat putrinya seperti anak kecil yang tiba-tiba gandrung akan sebuah barang.


"Sebenarnya papamu membeli mobil ini untukmu, aku senang karena kamu menyukainya."


"Sungguh!"


"Ya, rencananya ini adalah hadiah untukmu saat masuk kuliah."


"Oh, yang waktu itu, ya!"


"Ya, tapi kamu mengatakan bahwa kamu tidak membutuhkan mobil. Kamu tak tahu betapa kecewanya papamu saat itu. Jika ia melihatmu sekarang yang begitu antusias, ia pasti akan sangat senang."


"Ya, mau bagaimana lagi, dulu aku memang tidak membutuhkan mobil karena ada Dima yang selalu siap mengantarku. Sekarang aku membutuhkan mobil karena aku harus membantu Paula. Dengan kondisi tangan Paula yang seperti itu untuk sementara aku yang harus jadi sopir untuknya."


"Memang kamu bisa menyetir?" tanya Anna dengan nada sedikit meledek. Ia tahu putrinya tidak bisa menyetir.

__ADS_1


"Tentu saja aku bisa!" sahut Angel.


"Benarkah? bukannya papa belum pernah mengajarimu?"


"Bukan papa yang mengajariku melainkan Dima."


"Dima?" tanya Angel tak percaya.


"Yap, aku merusak mobilnya juga saat pertama kali mencobanya ... "


"Kamu?" Anna dibuat tak percaya ulah putrinya. "Kenapa kamu tak bilang pada mama. Paling tidak kita harus mengganti kerusakannya."


“Dima bilang tidak perlu karena ia bilang ia akan ganti mobil baru."


"Tapi tetap saja ... " Anna hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia tahu keluarga Dima sangat kaya. Tetapi tetap saja. Rasanya tidak masuk akal. Bahkan mobil bekas keluarga Dima seharga mobil baru.


"Hm, sebenarnya kalau boleh jujur, dari kecil sampai sekarang aku selalu dibantu Dima," ujar Angel.


"Lantas?"


Angel menatap mamanya dengan wajah sedih. "Mungkin itu yang membuatku merasa tidak cocok bersamanya."


"Sebenarnya apa yang kurang dari Dima?" tanya Anna tak mengerti jalan pikiran putrinya.


Angel menghela nafas. Sejujurnya penjelasan mamanya semalam juga peringatan bahwa ia tak boleh menyakiti Dima membuatnya mulai meragukan perasaannya. Dan hal itu ikut mengubah keputusannya mengenai arah hubungannya dengan Dima. Jadi ia memutuskan untuk tidak maju. Lebih baik mereka tetap seperti ini. Toh Dima juga sudah menjauh darinya.


"Itu karena Dima terlalu sempurna tanpa cela. Aku tidak akan bisa berkembang jika bersamanya. Jika kami bersama, itu tidak akan membuatku menjadi lebih baik karena ia selalu menutupi kekuranganku. Ia selalu memberi dan aku tak bisa membalasnya karena ia tak membutuhkan apa pun dariku."


"Bagaimana kamu bisa tahu? Itu hanya asumsimu saja. Kamu belum pernah mencoba untuk benar-benar bersamanya, kan?"


Angel tak tahu. Ia ingin bertemu Dima untuk mengklarifikasi kesalahpahaman semalam tapi ia bahkan tak bisa menghubungi nomor itu kembali. Ia menyerah.


"Aku sudah menyerah."


"Apa?" tanya Anna sekali lagi. Ia kurang paham apa maksudnya.


"Ma, bisakah aku mencoba mobilnya?" tanya Angel. Ia berupaya merubah topik. "Apa mama tahu di mana kontaknya?"


"Ya, mama tahu di mana kontaknya tapi sepertinya kita harus menunggu papamu untuk itu. Aku tak yakin jika kamu bisa menyetir. Apa kamu punya sim?"


"Tentu saja aku punya. Dan aku bisa menyetir dengan sangat baik. Ayolah, Ma," ujar Angel merajuk. Meski hari ini ia bolos kuliah tapi ia harus mengunjungi Paula di rumah sakit.


Anna menghela nafas. Ia sedikit terpengaruh karena sudah lama tidak melihat putrinya merajuk. "Baiklah tunggu di sini. Mama akan menghubungi papamu untuk meminta izin."


"Asyik, mobil baru!"

__ADS_1


🌻🌻🌻


__ADS_2