Anna, Hug Me

Anna, Hug Me
17


__ADS_3

🌷🌷🌷


"Oh, boy! Kenapa dengan wajahmu. Apa yang terjadi" Tanya Ny Bella begitu Thomas muncul di rumah sakit.


"Ikut Mama, Mama akan meminta suster mengobatinya. Kenapa tidak segera diobati, bagaimana jika bengkaknya menjadi bertambah buruk" Ujar Ny Bella sambil menarik putranya ke arah bagian keperawatan.


Thomas menurut saja, karena wajahnya mulai terasa bengkak dan menyakitkan.


"Kamu berkelahi dengan siapa?" Tanya Ny Bella.


"Masihkah aku harus mengunjungi dokter yang Mama rekomendasikan, aku merasa tidak enak badan" Ujar Thomas mengalihkan pembicaraan. Sebetulnya Thomas merasa tidak nyaman berada di rumah sakit. Tapi demi Mamanya Thomas tetap datang.


"Kenapa tidak, mumpung kita ada disini. Mama akan meminta dokter meresepkan obat penenang agar kamu bisa tidur nyenyak di malam hari. Oh. Dan jangan mengalihkan pembicaraan kamu berkelahi dengan siapa? " Tanya Ny Bella marah karena anak rupanya tidak menjawab pertanyaannya.


"Aku akan berbicara pada dokter saja" Ucap Thomas. Dokter tentunya tidak akan membocorkan rahasia pasien bukan.


"Oia, Ma. Apakah Chaty sudah pulang? " Chaterine adalah adik Thomas, setelah lulus kuliah ia juga sudah mulai terjun bekerja, bahkan ketimbang Thomas, adiknya sudah mendapatkan  banyak kemajuan.


"Rencananya besok, ada apa, apa kamu merindukan adikmu. "


"Tentu saja tidak" Kilah Thomas. Thomas hanya harus mempersiapkan dirinya sekali lagi untuk menerima amukan dari adiknya, yang untungnya Chaty tidak akan memberinya bogem mentah seperti Theo. "Aku hanya tidak ingin kalah darinya" Kilah Thomas.


"Aih... Kamu ini"


"Oia, jangan beritahu Chaty jika aku mengunjungi dokter. Ini rahasia di antara Mama dan aku. Aku harap Mama mau merahasiakannya"


"Tentu saja" Jawab Ny Bella spontan, jika Thomas mempercayainya cepat atau lambat Thomas akan memberitahunya perihal masalah yang mengganggunya itu.


🌷🌷🌷


Tok tok...


Tok tok...


Thomas memijit keningnya dengan kesal, baru saja ia bersiap tidur pintu kamarnya telah di ketuk dengan kencang dan berurutan. Siapa yang tak ingin ingin marah-marah. Tapi Thomas tak berhak marah marah, karena kali ini Thomas lah yang akan kena marah, Thomas tahu yang menunggunya di balik pintu adalah Chaterine. Seperti yang di duga chaterine berdiri di depan pintu kamarnya dengan berkacak pinggang dan mata melotot.


"Dimana Ana?" Tanya Chaty to the point dengan suara lantang.


Thomas lantas menarik adiknya masuk kamar karena Thomas tak ingin Mamanya tahu bahwa sesuatu yang terjadi dengannya ada sangkut pautnya dengan Ana.


"Kenapa dengan wajahmu? " Tanya Chaty, karena begitu ia dekat, Chaty jadi bisa melihat wajah Thomas yang babak belur.


"Hanya habis berkelahi. Sudah jangan pedulikan. "


"Oke! Kamu memang brengsek dan pantas dipukul. Pacar siapa lagi yang kamu kerjai kali ini" Teriak Chaty seakan sudah hafal kelakuan kakaknya.


Thomas memandang adiknya penuh arti. Sangat to the point dan tepat sasaran. Memang Chaty juga sering mendapat imbas jika Thomas sedang membuat masalah. Dan kali ini juga. Hanya Thomas tidak akan jujur pada adiknya kali ini bahwa ini menyangkut Ana.


"Bukan apa-apa, btw bagaimana perjalanan bisnismu apa semua lancar. Kali ini aku juga akan bekerja jadi mohon kerjasamanya ya adik cantik." Kata Thomas sambil menuang air minum di atas nakas, Thomas butuh air untuk menenangkan hatinya sekaligus mengalihkan topik yang membuatnya tak nyaman.


"Kamu tahu tujuanku datang kesini kan! Dimana Ana!"


"Ana pulang ke kampung halamannya, ia mencarimu tapi kamu tak ada. Ia hanya titip salam"


"Kenapa ia tak menelfon ku dan telfonnya juga tak bisa di hubungi."


"Aku juga tak bisa menghubunginya, telfonnya mungkin rusak atau semacamnya"


"Kenapa Theo akan menikah dengan putri keluarga Sea bukan dengan Ana."


"Aku... Tak tahu... " Ujar Thomas tergagap. "Mungkin hubungan mereka tidak berakhir baik"


"Aku bertanya pada Theo dan dia memintaku bertanya padamu brengsek, apa yang kau lakukan pada Ana ku... " Jerit Chaty sambil memukuli Thomas dengan tasnya.


"Aku.... " Thomas tidak bisa menjawabnya. Ah... Masalah yang ditimbulkan karena perbuatannya menjadi semakin rumit.


"Pergi cari Ana sekarang. Aku tak akan memaafkanmu jika kamu tak bisa menemukannya! "


"Ana memintaku untuk tidak menemuinya lagi, apa yang harus ku lakukan!"


"Kamu BODOH... Aku gak mau tahu kamu harus mencarinya dan membawaku padanya. Jika kamu tidak bisa menemukannya, jangan pernah menganggapku sebagai saudaramu lagi, camkan itu, brengsek! " Ujar Chaty sambil memukul Thomas lagi. Chaty sangat marah. Ia sudah memperingatkan Thomas untuk menjauhi Ana. Thomas bahkan membuat Theo membatalkan pertunangannya dan menikah dengan orang lain. Theo juga brengsek, bagaimana ia bisa membuang Ana semudah itu. Apa semua pria se berengsek itu!.


"Tolong jangan katakan apapun pada Mama" Pinta Thomas.


"Kamu mencemaskan Mama. Tidakkah seharusnya kamu mencemaskan Ana. Aku ingin sekali membunuhmu Thomas. Kamu sungguh gila dan sakit! " Ujar Chaty sambil berlalu dan membanting pintu kamar Thomas dengan kesal.

__ADS_1


Bagaimana ini bisa terjadi. Apa yang telah dilakukan Thomas pada Ana. Chaty mengusap air mata yang menetes di pipinya. Ah, Thomas memang brengsek! Aku sudah mengatakan jangan dekati Ana. oh Tuhan, dimana aku bisa menemukan Ana. Ana tak pernah membahas kampung halamannya.


"Aish.... Kalau kamu bukan kakakku akan membunuhmu dengan segera" Umpat Chaty kesal.


Sepeninggal Chaty, Thomas hanya duduk termenung di kamarnya. Ia sedang memikirkan ucapan Chaty.


Hah...


Apa aku sebaiknya mengabaikan ucapan Ana dan pergi mencarinya. Ah tidak. Aku harus mencari uang agar bisa mandiri baru bisa mencarinya.


Bagaimana jika aku terlambat dan Ana sudah bersama orang lain. Apa yang harus ku lakukan. Aku sangat merindukan Ana.


Thomas ingin sekali menghabiskan malamnya dengan minum di bar, tapi ia tengah mendapat jam malam dari Mamanya. Jadi malam ini Thomas harus ada di rumah kalau tidak Mamanya akan memberinya hukuman yang lebih aneh lagi.


Thomas lantas mengingat bahwa ia mempunyai obat penenang yang di resep kan dokter tadi. Thomas meminumnya dan berharap ia bisa tidur dengan cepat tanpa mimpi buruk.


🌷🌷🌷


Ana mengelap peluh di wajahnya karena panasnya cuaca dan lagi Ana tengah berada di dapur mempersiapkan makanan.


Evan telah membantunya memperbaiki rumah dan membantunya membuat rumahnya menjadi layak huni. Big thanks buat temannya satu itu. Malam ini Ana akan mentraktir nya sekalian reuni berempat dengan lily dan Edward.


Setelah selesai memasak dan beberes. Ana masih punya cukup waktu untuk mandi dan bersiap-siap.


Ana memandang pantulan wajahnya di cermin kamar. Ada rasa tidak bahagia di wajahnya. Bagaimana Ana bisa bahagia berita tentang pertunangan Theo dan Wendy, putri keluarga Sea, membuat mood Ana jatuh sejatuh-jatuhnya. Kenapa secepat itu Theo menemukan penggantinya, seolah olah hubungannya selama ini tak berarti apa-apa. Apa hanya Ana yang mengganggap hubungan mereka spesial. Tapi di mata Theo, akulah yang melakukan kesalahan. Bagaiamana bisa aku mengutuk pertunangannya.


"Kenapa nasibku demikian buruknya. Bahkan kebahagian satu saja belum tercapai sudah hilang. Meskipun aku menangis dan sakit tapi toh Theo tetap akan menikahi orang lain, jadi buat apa bersedih lagi. Mungkin begini lebih baik, jika aku bersama Theo mungkin aku akan menyusahkannya, membebani kemajuan perusahaannya malah. Aku yang bukan siapa. Sadarlah Ana. Sadarlah! " Ucap Ana sambil menepuk-nepuk pipinya.


Theo sudah menolakku tanpa bertanya apa yang terjadi, bukankah sungguh egois. Jika dimasa depan aku menghabiskan sisa umurku dengan orang yang seperti itu lama kelamaan tetap saja akan berpisah. Mungkin lebih baik berpisah seperti ini. Sebelum semua orang mengenalku dan menertawai ku karena bersanding dengan Theo.


Semangat Ana! Semangat!


Selesai mandi Ana  menghadap cermin untuk menata rambutnya. Rambutnya sudah lumayan panjang jadi Ana akan mengikatnya. Sudah lama ia tak punya rambut panjang sepertinya bagus jika ia memanjangkan rambutnya.


"Ana.... " Panggil seseorang dari halaman. Sepertinya tamunya sudah datang. Ana mengenakan celana olahrga dan kaos pendek motif bunga, rambutnya di kuncir rapi dengan sedikit sapuan bedak untuk menutupi sisa bengkak di matanya akibat menangisi pertunangan Theo. Air mata terakhir karena Ana berjanji malam ini kisah Theo sudah benar-benar berakhir dalam hidupnya.


Ana bergegas keluar rumah, ternyata Evan sudah lebih dulu datang. Senyum Evan mengembang,  entah kenapa wajah tampannya terlihat semakin tampan malam ini, mungkinkah karena rambutnya, rambut hitamnya terlihat lebih pendek dari terakhir Ana ketemu, Ana tersenyum memikirkan Evan masih sempat-sempatnya potong rambut, mau menarik perhatian siapa coba! . Di tangan kanannya Evan menjinjing sekotak daging segar. Malam ini mereka akan membakar daging di luar. Cuaca sedang bagus.


Ana tersenyum senang sambil duduk di dipan yang ada di halaman. Ana sudah  menyiapkan  beberapa makanan dan minuman disana. no alcohol karena ada Lily yang tengah berbadan dua.


Evan sudah bersiap memanggang saat lily dan Edward tiba.


"Lily.... " Ana berlari menjemput lily dan merangkulnya erat.


"Oh lihatlah dirimu. Aku tidak tahu kapan pernikahanmu tahu-tahu sudah sebesar ini" Kata Ana sambil mengelus perut besar Lily. Lily masih sama imutnya dengan Ana. Mereka berdua di karunia tinggi badan yang sama. Sama -sama pendek. Tapi kali ini Lily lebih pendek lagi karena badannya telah membundar akibat kehamilannya. Rambut ikalnya di ikat sekenanya, sangat bukan khas Lily, pasti kehamilannya telah mempengaruhi keseluruhan kepribadiannya.


"Kamu tidak pulang dan aku tidak bisa menghubungimu. Jadi jangan pergi lagi sampai bayiku lahir" Ujar Lily.


"Oh baiklah. Kapan bayinya lahir? " Tanya Ana sambil berjalan beriringan ke arah dipan.


"Masih 3 bulan lagi, tapi rasanya aku sudah seperti boneka teddy besar yang susah berjalan" Gerutu Lily.


"Hai Ana, melupakanku? " Sapa Edward.


Ana beralih ke arah Edward dan memeluknya singkat.


"Oh lihatlah kumis dan jambangmu itu, padahal bayimu belum lahir dan kamu sudah bersiap jadi pak tua"


"Hahahahaha.... "Edward tertawa nyaring. Edward masih sama kurusnya seperti dulu. Hanya saja sekarang Edward memelihara kumis dan jambang yang bagi Ana terlihat seperti tambalan yang palsu. Tapi tentu saja Ana tidak mengatakannya.


Mereka berempat berakhir dengan membahas banyak cerita lucu di masa lalu. Sampai lily mengganti topik mengenai kekasih.


"Oi, kalian berdua kapan mengenalkan aku dengan pacarmu"


"Mentang mentang sudah menikah. Ya kan Ana. Lily terdengar seperti ibu mertua sekarang"


Ana tertawa mendengar gurauan Evan.


"Ah sayangnya aku baru saja di campakkan tunangan ku" Ucap Ana tak sengaja keceplosan.


Ketiga temannya memandang Ana dengan serius. Ana langsung sadar apa yang telah di ucapkannya.


"Ah, tentu saja bohong. Pacar saja belum ada. Tunangan dari mana" Kata Ana mengklarifikasi.


"Makanya jadian saja dengan Evan. Ya gak!" Usul lily. Edward langsung mencubit lengan istrinya.

__ADS_1


"Sakit tauk"


"Siapa yang mau dengan Ana. Aneh begitu" Ledek Evan.


Ana langsung manyun dan memukul Evan.


"Meskipun aku aneh, aku juga tidak mau denganmu" Balas Ana tak mau kalah.


Edward hanya tertawa. Sedangkan Evan menggaruk rambutnya yang tak gatal. Ana tak pernah sadar kalau Evan pernah menyukai Ana dulu. Tentu saja yang tahu hanya Edward. Tapi itu dulu, sekarang Edward tak tahu apa perasaan Evan masih sama. Tapi sepertinya sejak keduanya berpisah dan sekolah di luar pulau perasaan Evan sepertinya telah berubah.


"Oia, apa sekarang kamu memutuskan untuk tinggal di pulau? " Tanya Lily "ya, aku menanyakan pada kalian berdua " Jelas lily saat Evan hendak menjawab tapi Ana merasa aneh karena Evan akan menjawab pertanyaan itu.


"Evan bukannya selama ini tinggal di pulau? " Tanya Ana tak mengerti.


"Kata siapa, Evan juga sekolah ke luar pulau"


"Benarkah! "


"Aku akan mengembangkan desa dan membuat pabrik pengelolaan ikan" Terang Evan.


"Oh bagus sekali Bung! " Dukung Edward.


"Sedangkan kamu" Evan langsung menanyakannya pada Ana. Jujur saja Evan penasaran pada gadis itu.


" Ya, aku akan tinggal disni untuk waktu yang sangat lama"


"Oh benarkah! " Ungkap lily antusias.


"Akhirnya kita bisa terus bersama. Ayo mari kita memajukan desa kita " Kata Evan sambil mengangkat gelas minumannya mengajak toss. Meski gelas mereka hanya berisi teh tapi mereka berempat tetap antusias.


"Demi pertemanan kita dan kemajuan desa"


Hari yang semakin malam membuat Edward buru-buru pamit agar Lily bisa segera beristirahat. Angin malam bisa membuat istrinya masuk angin.


"Kapan-kapan main ke rumah ya Ana. Kami sudah membangun rumah sendiri" Pamit Edward sambil menggandeng istrinya.


"Oke siap! Hati-hati di jalan"


Evan membantu Ana berkemas membersihkan sisa sisa sampah dan makanan yang perlu dibereskan.


"Tak perlu melakukannya, aku akan membersihkannya besok" Ujar Ana.


"Oh baiklah, bagaimana dengan ini." Evan mengeluarkan sekantung kresek berisi beberapa kaleng bir dari dalam tasnya.


"Oh wow, kamu menyembunyikannya"


"Tentu saja, bagaimana bisa reuni tanpa ini, sedangkan aku tak enak hati pada Lily jika minum ini di depannya"


"Bir rendah alkohol. Hmm kamu selalu tahu maksudku" Ujar Ana senang. Sedikit pembicaraan dengan teman lama sembari minum sungguh menyenangkan. Ana jadi teringat Chaterine, Ana mulai merindukannya. Bagaiamana kabarnya sekarang. Baiklah Ana akan kepoin instagramnya besok.


"Benarkah kamu menangis karena di campakkan tunanganmu? " Tanya Evan.


Untung saja Ana baru saja menelan minumannya, kalau tidak pasti ia sudah tersedak tadi karena terkejut dengan pertanyaan Evan.


"Aku hanya bercanda tadi, kenapa di bikin serius" Kilah Ana sembari minum lagi. Ah, Evan benar-benar memperhatikannya dengan detail. Perlukah Ana berbohong lagi. Sedangkan jujur saja Ana sangat ingin berbagi ceritanya.


"Kau tak bisa berbohong di depanku. Jujur saja" Kata Evan sembari memperhatikan ekspresi Ana.


Ana merebahkan badannya di atas dipan. Matanya nanar memandang gelapnya langit. Bintang terlihat jelas disini dari pada di kota.


"Kau benar, tunangan ku telah mencampakkanku. Aku kecewa ia menyimpulkan apa yang dilihatnya tanpa mendengarkan penjelasanku. Sedangkan orang yang ku percayai dan ku anggap penting telah menodai kepercayaanku. Sungguh menyakitkan" Ungkap Ana akhirnya. Namun meski ingatannya kembali ke masa itu, Ana sudah tak bisa menangis lagi, air matanya telah habis kemarin.


"Ana" Panggil Evan lagi. Ana melihat Evan yang menatap ke arahnya dengan wajah memerah, sedikit gugup dan nampak serius.


"Ada apa"


"Lupakanlah masa lalu itu dan biarkan aku mengisi hatimu." Ungkap Evan dengan serius


"Eee ehhh..... " Ana speechless. Apa Evan sudah gila. Apa yang barusan di katakan nya itu.


"Ya pokoknya mulai saat ini aku akan mengejarmu, dan bye... " Ujar Evan yang langsung kabur.


"Evan..... " Panggil Ana sembari berusaha duduk, tapi Evan sudah masuk ke mobilnya dan memgemudikannya tanpa mengindahkan panggilan Ana.


Ana memegang kepalanya. Apa lagi ini. Cukuplah sudah pengalaman pahitnya  kemarin dan Evan akan menambah daftar sakit kepalanya.

__ADS_1


Evan...... Awas kau ya!


🌷🌷🌷


__ADS_2