Anna, Hug Me

Anna, Hug Me
38


__ADS_3

🌷🌷🌷


Ana memegangi perutnya yang rata dengan mata berkaca-kaca, dipandanginya Thomas yang duduk di sampangnya, “bayiku... di mana bayiku?” tanyanya pada Thomas. Kenapa begitu tersadar perutnya telah rata. “Apakah aku telah kehilangan bayiku?” tanyanya pada Thomas.


Thomas menggenggam tangan Ana, “bayinya baik-baik saja, bayi itu harus dirawat di inkubator untuk memulihkan kondisinya,” jawab Thomas.


“Bisakah aku melihatnya?” tanya Ana tak percaya. Ia telah mengalami pendarahan yang parah, masih bisakah bayinya terselamatkan. Tentunya hanya permainan kata-kata dari Thomas agar tidak membuatnya sedih.


“Tentu saja. Tapi kamu harus lebih sehat lagi untuk melihatnya. Kamu baru saja sadar,” kata Thomas.


“Kalau begitu perlihatkan aku fotonya. Kamu jangan membohongiku!” ucap Ana sedikit emosi. Ia sudah mempersiapkan diri menerima kabar terburuk tentang kondisi bayinya. Jika pendarahan itu telah membuatnya kehilangan bayinya, ia tak apa, ia ikhlas. Asalkan jangan lagi membohonginya. Ana lantas membuang muka menghadap ke arah jendela dengan kesal. Setelah Ana siuman, Ana sudah berpindah ke rawat biasa, yang tentu saja VIP.


Thomas yang sedang tidak bercanda segera mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan bayi perempuannya.


“Ia secantik dirimu,” kata Thomas sembari menyerahkan ponselnya kepada Ana.


Ana segera menerima ponsel itu dan segera melihat foto bayi yang terpampang di sana. "Anakku cantik sekali,” respons Ana saat pertama kali melihatnya.

__ADS_1


Thomas mengangguk mengiyakan. Saat Ana merujuk pada milikku bukan milik kita, hatinya terasa sakit. Demi Tuhan, ia mencintai Ana dan Putrinya. Tapi tentu saja Thomas tidak menunjukkan kekecewaannya di hadapan Ana. Ia telah bernegosiasi pada Tuhan, jika Ana diberi kesembuhan, ia tak akan menuntut apa-apa dari Ana, tidak cintanya tidak juga buah hatinya.


“Sepertinya aku mendengar suara Kak Theo saat aku siuman. Apakah ia datang?” tanya Ana.


Thomas membeku mendengar pertanyaan Ana, ternyata Theo memanglah pria yang ditunggu Ana. “Ya, ia menjengukmu. Aku akan memberitahunya untuk berkunjung kembali. Ia mungkin sedikit sibuk,” jawab Thomas. Meski ia berusaha menahan rasa sakit dihatinya, tapi tak urung juga suaranya bergetar saat menjawab pertanyaan Ana. Saat Ana sembuh nanti, ia harus pergi sejauh mungkin dan membiarkan gadis itu bahagia dengan siapa pun pilihannya.


“Aku sudah bingung memikirkan bagaimana memberitahukan tentang kehamilanku padanya. Baguslah kalau ia sudah tahu,” jawab Ana.


“Sudah hampir jam 9,” kata Thomas mengalihkan pembicaraan. “Mari bersiap-siap cuci darah. Sekalian kita bisa menanyakannya pada dokter, bisakah kita mengunjungi si kecil. Oia, kamu akan memberi nama apa pada si kecil?” tanya Thomas sembari memindahkan Ana ke kursi roda. Ana hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan itu sampai perawat yang bertugas membantu Ana datang.


Thomas sedikit tak nyaman saat Ana tak menjawab pertanyaannya, jadi saat perawat itu mengambil alih kursi roda, ia pun membiarkannya. Ia kemudian menunggu sejenak sampai pintu tertutup sebelum membiarkan air mata menetes di pipinya. Inikah karmaku? pikirnya sedih. Thomas segera mengusap air matanya dan segera menyusul Ana.


🌷🌷🌷


Bayi Marie telah dipindahkan ke bagian biasa sehingga Ana bisa menggendongnya. Perawat mengatakan Bayi Marie harus diobservasi selama 2 hari. Jika selama observasi kondisi bayi itu stabil maka sudah boleh pulang.


“Aku tidak tahu harus memberinya nama seperti apa, jadi aku menggunakan nama belakangmu,” ujar Thomas. “Siapakah namanya?” tanya Thomas lagi pada Ana. Ia begitu ingin mengetahui siapa nama Bayinya.

__ADS_1


Ana memandang Thomas penuh arti, “tidakkah kamu ingin memberi nama Putrimu?” kata Ana balik bertanya.


Thomas langsung terduduk di lantai begitu mendengar perkataan Ana. Benarkah Ana mengatakan bayi ini Putriku? Apakah aku tidak salah dengar? batinnya. “Sungguhkah?” tanya Thomas. Matanya berkaca-kaca menunggu Ana mengatakannya lagi sehingga Thomas yakin bahwa yang didengarnya bukan hanya perasannya saja.


“Iya, anak perempuan selalu mendapatkan nama mereka dari Papanya. Jadi, siapakah nama anak perempuan ini?” tanya Ana.


Thomas memandang Ana dan Putrinya bergantian. Ia tak percaya dengan apa yang dialaminya hari ini. Mimpikah ia? Tapi saat ia melihat Ana yang menunggu keputusannya, ia sadar semua yang terjadi adalah kenyataan. Meski hanya berandai-andai, ia telah mempersiapkan nama untuk Putrinya. “Aku akan memberinya nama Angelina Dunyan. Dia adalah angel, seorang malaikat, putri Ana, dan cucu perempuan keluarga Dunyan,” ujar Thomas bangga. Ia sangat senang bisa benar-benar memberikan nama pada Putrinya.


“Baiklah, gadis cantik namamu sekarang Baby Angel,” ujar Ana sambil melihat pada Putrinya. Putrinya mengulas senyum seolah tanda persetujuan. "Kamu ingin mencoba menggendongnya?” tanya Ana.


Thomas segera mengangguk dan mengulurkan tangannya. Dibantu perawat yang bertugas, ia menggendong bayinya untuk pertama kali. Ia teramat bahagia, bayi pertama yang digendongnya adalah Bayinya sendiri. Dan untuk pertama kalinya juga, ia mempunyai foto keluarganya sendiri. Ia sangat berterima kasih pada perawat yang berbaik hati memotret keluarga kecil mereka.


“Ana, terima kasih,” ujarnya sambil mengusap pundak Ana saat mereka meninggalkan ruang bayi. Ia berhutang banyak hal pada gadis itu karena telah melimpahinya dengan kebahagiaan.


Ana hanya tersenyum, “mari berjalan-jalan sebentar. Sepertinya aku lelah di kamar. Aku ingin melihat pemandangan sebentar. Hanya di sekitar taman,” pintanya pada Thomas. Thomas menyanggupinya.


🌷🌷🌷

__ADS_1


JEMPOL


follow donk, followernya kagak nambah-nambah nich! hehe...


__ADS_2