
🌻🌻🌻
Theo meminta Angel dan Paula menunggu di ruang tamu di bangunan rumah sayap kiri sementara ia memanggil Dima.
Theo sebenarnya tahu rencana yang akan dilakukan Dima kedepannya perihal kejadian kemarin, hanya saja ia merasa tidak enak jika mencampuri urusan anak-anak. Ia akan menyerahkan urusannya pada Dima.
“Nyonya di mana?” tanya Theo pada pelayan yang memberi salam padanya.
“Nyonya Wendy di kamar Tuan Muda Dima,” jawab sang pelayan.
Theo mengangguk mengerti dan meneruskan perjalanannya di bagian sayap kanan bangunan.
Rumah keluarga Maxwell yang dibangunnya terdiri dari satu bangunan utama dengan dua sayap kiri dan kanan.
Sayap kanan untuk keluarga inti dan sayap kiri untuk tamu dan pelayan. Ia ingin privasi untuk keluarganya sehingga ia memisahkan rumah inti dari orang luar. Pun hanya beberapa pelayan yang bisa mengakses sayap kanan.
Bangunan utama yang berada di tengah berisi fasilitas yang menampung banyak orang seperti aula untuk pesta, gim, bar, dan tempat meeting.
Theo bergegas ke kamar Dima sebelum ke kamarnya. Di tengah jalan ia berpapasan dengan Wendy.
“Apa kabar, Sayang?” sapa Theo sembari memeluk dan mencium kening istrinya dengan sayang.
“Baik. Bagaimana harimu?”
“Semuanya lancar ... Bagaimana dengan Dima? Bagaimana keadaannya?”
“Dia sudah lebih baik.”
“Angel datang berkunjung,” ujar Theo.
“Aku sudah memberitahunya,” ujar Wendy sambil mengajak suaminya berjalan ke kamar mereka untuk membantunya membersihkan diri dan berganti pakaian.
“Lalu apa katanya?”
“Ya, ia akan menemuinya.”
“Baguslah, kuharap ia menjadi lebih dewasa.”
“Bukan masalah dewasa, Dima sudah menderita karena perasaannya sedari kecil. Dari awal aku sudah memintamu untuk menjauhkan mereka, tapi kamu sungguh keras kepala,” ujar Wendy sembari membuka pintu kamar mereka. Meski dengan sedikit cemberut Wendy tetap membantu suaminya melepas jas dan mempersiapkan bak mandi.
Tidak seperti banyak orang kaya yang lain, Theo tidak menyukai banyak pelayan di sekitarnya. Jadi sebisa mungkin Wendy yang akan melayaninya.
“Aku tak ingin Dima menyesal seperti aku,” gumam Theo.
“Apa kamu mau mengatakan bahwa kamu menyesal bersamaku ... ” ujar Wendy sarkas.
“Tentu saja tidak!” ujar Theo cepat. Sampai saat ini istrinya masih sering merasa pertemuan mereka adalah karena pelariannya. “Aku tak mau ada rasa sesal dihati Dima. Aku ingin dia benar-benar menyerah setelah berusaha.”
“Tapi karenamu, putra kita harus menderita dengan cintanya yang bertepuk sebelah tangan!”
“Siapa bilang bertepuk sebelah tangan? Kamu akan lihat beberapa tahun lagi menantu pertamamu pastilah dokter Angelina Dunyan.”
“Itu karena kamu lebih sayang Angel daripada Dima.”
“Siapa bilang aku lebih mencintai Angel? Aku mencintai keduanya. Aku menyayangi Dima juga Angel. Apa kamu yakin kamu tidak menyukai Angel?”
Wendy mendengus. Theo benar, ia juga menyukai Angel. Ia menyayanginya seperti putrinya sendiri. Ia yang sangat ingin anak perempuan, telah menganggap Angel seperti putrinya. Bahkan terkadang ia lebih membela Angel dibanding Dima.
Wendy juga menyadari jika Anna juga sama sayangnya pada Dima seolah Dima adalah putra kandungnya sendiri. Tak hanya Dima tapi juga Daniel. Hubungan keluarganya dan keluarga Anna sudah sangat erat. Tapi, ia sebagai seorang ibu, ia tak mau putranya tersakiti lebih lama lagi.
__ADS_1
“Apa kamu yakin akan memisahkan mereka?” tanya Theo sebelum memasuki kamar mandi.
Sekilas ada keraguan terlintas di benak Wendy, tapi setelah melihat Dima kemarin, mau tak mau ia pun mengangguk.
Theo mengangguk mengerti. “Apapun keputusanmu, aku akan mengikutinya. Kuharap itu yang terbaik untuk mereka.”
“Ya, aku juga berharap yang terbaik untuk mereka.”
Wendy lantas meninggalkan suaminya untuk menemui Angel dan temannya.
🌻🌻🌻
Paula mengedarkan pandangannya dengan takjub. Rumah Dima sangat mewah dan besar seperti istana. Ia tahu bahwa rumah Angel juga sangat mewah, namun tetap tak bisa disandingkan dengan kemewahan rumah Dima. Pantas saja Angel bersikeras memperingatkannya perihal bingkisan. Untung ia mendengarkan apa kata Angel dan membawa bingkisan yang dibuat Tante Anna. Ngomong-ngomong soal bingkisan, sepertinya ia lupa membawanya.
“Angel ... ” panggilnya.
“Ya.”
“Sepertinya, aku melupakannya.”
“Apa?”
“Bingkisannya tertinggal di mobil.”
“Oh! Biar aku yang mengambilnya.”
“Biar kutemani ... ”
“Tidak perlu. Aku sudah terbiasa di sini. Aku bisa menemukan mobilnya dengan cepat.”
“Maafkan aku, aku terlalu tegang sampai melupakannya.”
“Tak masalah,” jawab Angel. Ia juga tak ingin menunggu Dima dalam cemas. Lebih baik baginya mengulur waktu.
Angel menghentikan langkahnya tatkala ia melihat Dima. Dima mengenakan baju tidur warna coklat dengan sweter putih di atasnya. Rambutnya sedikit berantakan. Meski temannya itu terlihat tampan seperti biasa, namun wajahnya tampak sedikit pucat.
Dima juga menghentikan langkahnya tatkala ia melihat Angel. Gadis itu menatapnya dengan mata birunya yang indah. Dima mengetatkan genggamannya pada ujung sweternya. Baru beberapa hari tak bertemu. Ia telah merindukan gadis itu, merindukannya dengan sangat. Ia ingin berlari dan memeluknya, tapi janjinya pada Angel malam itu memaksanya untuk menahan diri.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Angel sembari mendekat.
Dima yang sibuk melamun tampak terkejut karena ia tidak menyadari bahwa Angel yang tadi menghentikan langkahnya, ternyata telah berada cukup dekat dengannya.
“Aku sudah lebih baik.”
Angel menggeleng. Ia tahu bahwa Dima sedang tidak baik. Ia memberanikan diri meletakkan tangannya di kening Dima. Tetapi respons Dima menyakitinya. Pria itu memundurkan langkahnya sehingga tangan Angel hanya mengenai udara kosong.
“Kau tahu, aku bukan anak kecil lagi. Kamu tak mungkin bisa mengecek suhuku hanya dengan telapak tangan. Lain kali kau perlu membawa stetoskop dan termometer, seperti dokter sungguhan,” balas Dima. Ia mencoba melucu tapi sama sekali tak lucu. Bagaimanapun juga Angel adalah mahasiswi kedokteran dan ia cukup berpengalaman.
“Baiklah, aku akan menyiapkannya lain kali,” ujar Angel keki. Ia merasa sedikit canggung. Rasa-rasanya percakapannya dengan Dima menjadi datar tak seperti biasanya. “Aku mengajak Paula. Ia merasa bersalah karena memintamu mencariku. Ia percaya hal itu lah yang membuatmu sakit.”
Dima mengangguk, ia sudah tahu informasi ini dari mamanya. “Lalu kau mau ke mana?” tanyanya.
“Aku mau mengambilkan buah tangan dari mamaku, tadi tertinggal di mobil.”
“Apakah puding buah seperti biasa?” tanya Dima. Ia menjadi antusias begitu mendengar Tante Anna membuatkannya sesuatu. Ia selalu menyukai masakan Tante Anna.
“Aku tidak tahu. Aku belum sempat melihatnya.”
“Biar aku menemanimu.”
__ADS_1
“Kau tak perlu melakukannya. Kau duduklah temui Paula. Aku tak akan lama,” ujar Angel. Tapi ia langsung terdiam tatkala melihat wajah kecewa Dima. Jadi mau tak mau ia membiarkan Dima mengikutinya.
Dima mengikuti Angel dalam diam, demikian juga Angel. Sebenarnya Angel merasa canggung. Tak pernah sekalipun hubungan mereka terasa seaneh ini.
Sesaat setelah mengambil bingkisannya, Angel memberanikan diri memulai pertanyaan.
“Apa kau sungguh tak apa?”
“Ya,” jawab Dima singkat. Ia lebih sibuk memandang Angel daripada memulai percakapannya. Ia tahu setelah menyetujui saran mamanya, ia tak akan bertemu gadis ini lagi. Ia ingin merekamnya sebanyak mungkin.
Angel mengenakan jin hitam dan kaos berwarna kuning, warna favoritnya. Gadis itu juga mengenakan jaket marun yang mana itu adalah jaket couple yang dihadiahkan Dima saat liburannya awal tahun.
Angel dan Dima telah mengenal sedari kecil. Bahkan dulunya mereka sering mandi dan tidur bersama sebagai sesama bocah. Tapi kali ini Angel bisa merasakan bahwa hubungan mereka sudah tak sama lagi. Tak akan pernah sama. Apakah karena mereka telah dewasa? Ataukah karena penolakannya kemarin?
Demi Tuhan! Angel ingin Dima sadar akan perasaannya. Apakah benar itu perasaan yang tulus atau sekedar obsesi semata? Namun tampaknya harga yang harus dibayarnya sangat mahal.
Angel menggelengkan kepalanya, semua tampak tak benar. Dan apa-apaan perasaan canggung ini?
Angel mendengus dengan keras.
“Apa terjadi sesuatu padamu?” tanya Dima pura-pura tidak terjadi sesuatu.
“Aku tak tahu apakah ini karena kamu tengah sakit atau ada yang kamu sembunyikan, yang jelas aku merasa kamu menjadi sangat aneh. Semua terasa canggung. Semua terasa tak benar.”
Semilir angin malam membawa harum bunga mawar yang tersebar di seluruh taman, Dima menghela nafas mencoba menghirup harumnya. Ingatannya melayang saat ia merengek pada mamanya untuk mengubah isi taman rumahnya.
“Apa yang harus aku lakukan agar kamu mengerti perasaanku,” ujar Dima dengan sedih. Ia mengedarkan pandangannya pada hamparan bunga mawar kuning, bunga kesukaan Angel.
Apakah benar ia tak setulus itu? batin Dima dalam hati. Ia bahkan mengubah isi taman rumahnya agar sesuai dengan bunga kesukaan Angel. Padahal ia tahu bunga kesukaan mamanya adalah bunga tulip, pun ia tak mengubah isi tamannya menjadi seperti kesukaan mamanya. Apakah itu membuktikan bahwa ia telah terobsesi pada Angel?
“Kamu tak harus membuktikan apa-apa. Aku hanya tidak mempunyai perasaan yang sama. Aku minta maaf, aku tidak bisa membalas perasaanmu,” ujar Angel. Ia memandang lurus ke arah Dima sebagai tanda kesungguhan hatinya.
Dima mencoba peruntungannya sekali lagi, “aku tak apa jika kamu tidak bisa membalasnya, tapi jangan menyuruhku menjauh.”
“Jika kamu selalu ada di dekatku, bagaimana kamu bisa berhenti? Kumohon, Dima. Berhenti terobsesi.”
“Aku tulus mencintaimu ... ”
“Jika bukan aku yang menyelamatkanmu waktu itu, masihkah kamu menyukaiku dengan cara yang sama dan sama besarnya?”
Dima terdiam. Ia tak pernah memikirkannya dari sudut pandang ini. Tapi apa pun yang terjadi, ia yakin perasaannya tetaplah sama.
“Jadi tetapkan dulu perasaanmu, aku ingin kita tetap berteman.”
“Aku akan menjauh ... ” ujar Dima akhirnya.
“Hm,” ada rasa kecewa dihatinya mendengar jawaban Dima. Tapi ini memang keputusannya jadi mau bagaimana lagi, ia harus mulai membiasakan diri tanpa Dima di sekelilingnya.
“Terima kasih sudah bersamaku selama ini.”
“Kau mengatakannya seolah kau akan pergi jauh.”
Dima memilih mengalihkan topik untuk menghindari menjawabnya, “Kita harus kembali.”
“Apakah kau akan pergi?”
“Kau yang menyuruhku,” dengus Dima. Kepalanya mulai berputar. Ia berharap banyak ketika Angel menjenguknya. Tak pernah terpikirkan olehnya jika ia mendapat penolakan sekali lagi.
“Aku ... ” Angel tak meneruskan perkataannya. Ia memilih menyudahi percakapannya dan kembali ke dalam rumah. Begitu pula dengan Dima.
__ADS_1
Dima merasa kepalanya mulai berputar jadi ia sedikit terhuyung-huyung, namun ia tetap menguatkan dirinya untuk kembali.
🌻🌻🌻