Anna, Hug Me

Anna, Hug Me
12


__ADS_3

🌷🌷🌷


"Anna bertunangan! Dengan siapa?" Tanya Thomas setengah berteriak. Ia tak bisa mempercayai perkataan adiknya.


"Tidak mungkin!" kata Thomas sembari memandang adiknya.


"Tunggu sampai Anna mengatakannya sendiri, ia akan kesini dengan tunangannya," jawab Cathy sambil lalu. Cathy sedang terburu-buru untuk kencan dengan David, kekasihnya.


"Kau sedang membohongiku kan! aku tidak pernah melihat Anna dengan lelaki lain. Tidak mungkin ia tiba-tiba bertunangan," Thomas masih berusaha meyakinkan dirinya.


"Please, Thom!" ujar Cathy bersungut-sungut. Ia sedikit heran dengan reaksi kakaknya. Hanya saja Cathy langsung naik ke lantai jadi ia melewatkan respons yang lebih ekstrem dari kakaknya.


Thomas mengepalkan tinjunya dengan erat, wajahnya langsung terlihat serius dan sorot matanya berkilat marah.


"Semua ini tidak akan terjadi jika aku tidak perlu mematuhi perintah Cathy untuk menjauhi Anna. Tapi ini belum terlambat," gumam Thomas yang langsung keluar dari rumah.


🌷🌷🌷


Anna melingkarkan syal di lehernya sebelum keluar dari kamar kosannya. Cuaca pagi ini cukup dingin dan Anna tidak mau jatuh sakit. Apalagi nanti malam ia sudah ada janji temu dengan Theo dan keluarganya.


Hari ini Anna akan berpamitan ke Panti untuk berhenti bekerja atas permintaan Theo. Sebulan sebelum pernikahan ia akan jarang masuk kerja karena harus mempersiapkan pernikahannya dengan, jadi ia tak ingin mengganggu jadwal pekerja yang lain karena seringnya absen.


Mama Theo cukup detail untuk masalah ini. Jadi mau tidak mau Anna harus meluangkan seluruh waktunya untuk fokus pada segala hal *****-bengek ini.


Tepat setelah mengunci pintu dan berbalik Anna di buat terkejut dengan sosok yang menunggunya di halaman.


Thomas berdiri bersandar di samping mobilnya dengan wajah tampan seperti biasa, ia memandang Ana dengan senyumannya yang memikat.


Anna mengindahkan rasa terkejutnya sambil balas tersenyum. Ada sedikit heran dihatinya tatkala melihat Thomas, bagaimana Thomas bisa mengetahui tempat ini? Anna bahkan tak pernah memberitahukannya pada Cathy.


"Well, apa kabar Thom," sapa Anna saat ia sudah dekat dengan Thomas.


"Well, cukup baik," kata Thomas. Dan tanpa aba-aba ia mendaratkan ciuman di pipi Anna.


Anna bergidik tak nyaman. Ia tak pernah suka sapaan Thomas yang langsung mencium pipinya.


"Ada apa?" tanya Ana to the point.


"Cathy memintaku menjemputmu."


"Oia, bukankah Cathy sedang liburan"


"Ya, dan ia ingin kamu menyusulnya."


"Benarkah, tapi Cathy tak pernah membicarakannya."


"Well, ini kejutan. Semacam pesta lajang sebelum kamu menikah."


"Oh wow. Kamu sudah tahu tentunya. Apa aku harus berkemas sekarang?"


"Tak perlu, Cathy sudah mempersiapkan semuanya seperti biasanya."


"Selalu anak itu ... " gumam Anna sambil tersenyum, "tapi saat ini aku harus berpamitan pada tempatku bekerja," kata Ana begitu ingat niatnya saat keluar rumah.


"Cukup berpamitan telefon saja. Kita sedang dikejar jadwal penerbangan" sahut Thomas sambil membukakan pintu mobil.


"Oh baiklah," kata Anna akhirnya sambil masuk ke mobil.


“Apa kau tak keberatan jika aku menghabiskan rokokku?”


“Uh, baiklah!” ujar Anna. Meski ia juga merasa aneh karena Thomas sedang tidak memegang rokok.


Begitu berada di mobil, ia segera melakukan panggilan pada tempatnya bekerja. Tapi mendadak ia merasa mengantuk, tak tahu kenapa tiba-tiba saja Anna telah jatuh terlelap.

__ADS_1


Thomas menunggu di samping mobil sambil menyalakan sebatang rokok.


Setelah rokoknya habis Thomas membuang puntung rokok sekenanya, menginjaknya dengan kaki kirinya sembari memasang masker yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Thomas lalu membuka mobilnya dan berlalu membawa Anna yang terlelap di sampingnya.


Ia telah memasang gas tidur di dalam mobilnya. Cukup berbahaya, tapi ia tak mau ambil risiko. Yang penting Anna bersamanya malam ini.


🌷🌷🌷


Anna merasa matanya masih sangat berat tapi ia berusaha menahannya untuk tetap terjaga. Dengan pelan ia melihat sekeliling


"Ini di mana, ya?" gumamnya pelan.


"Sudah bangun?" tanya seseorang di sampingnya.


Anna menoleh, penglihatannya yang belum pulih membuatnya tidak bisa melihat dengan jelas, tapi jelas itu suara pria.


"Siapa?" Tanya Anna lemah. Ia kembali memejamkan matanya.


"Pangeranmu tentu saja," jawab pria itu yang langsung mendaratkan ciuman di bibir Anna.


Anna langsung terkejut dengan ciuman tiba-tiba itu tapi ia tak mampu berbuat banyak. Tubuhnya terlalu lemas untuk memberontak.


Anna berusaha memfokuskan pandangannya dengan susah payah pada sosok yang sedang menciumnya. Mata yang biru, rambut pirang keemasan yang terang, rasanya sangat familier.


Anna seperti mengenalnya. Dicobanya mengingat-ingat di sela ciuman yang bertubi-tubi menghujani tak hanya bibirnya tapi juga seluruh wajahnya.


Tapi begitu pria itu berhenti menciumnya dan sedikit menjauhkan kepalanya, Anna bisa melihat keseluruhan wajahnya dan ia dibuat terperanjat.


"Thomas!" pekik Anna kaget yang langsung memundurkan tubuhnya menjauh dari Thomas.


Sayang Anna tak melihat bahwa di belakangnya ada papan ranjang. Tak ayal suara benturan terdengar keras diikuti suaranya mengaduh kesakitan.


"Anna-ku yang malang," ucap Thomas sambil berusaha menggapai kepala Anna. Tapi Anna langsung menahan tangannya di depan tubuhnya menolak Thomas mendekat lebih jauh lagi.


Anna mengedarkan pandangannya ke arah sekitar. Mereka tengah berada di sebuah kamar yang luas. Menilik dari dekorasinya ia menduga mereka tengah berada di sebuah hotel. Melihat luas kamarnya, mereka sedang berada di kamar royal suite. Cathy sering mengajaknya menginap di tempat seperti ini karena keluarga Cathy memiliki banyak hotel.


"Well, kau tahu semakin dilarang, aku jadi semakin ingin," jawab Thomas lagi sembari tersenyum.


Senyum yang tak pernah lepas tersungging di bibirnya yang entah kenapa bagi Anna senyum itu begitu menakutkan. Ia bergidik ngeri melihat senyum itu.


"JANGAN MENDEKAT!" teriak Anna begitu melihat Thomas hendak bergeser ke arahnya.


Alih-alih menjauh, Thomas malah tertawa terbahak-bahak. Six pack indahnya terpahat jelas sewaktu Thomas meregangkan tubuhnya.


Alis Anna berkerut memikirkan situasinya saat ini. Apa yang terjadi dengannya sehingga berada di sini dengan Thomas yang hanya bertelanjang dada?


Yang terpikirkan oleh Anna saat ini adalah kabur dari tempat ini. Firasatnya mengatakan akan ada hal buruk terjadi jika ia tetap berada satu ruangan dengan Thomas.


Anna langsung ancang-ancang meloncat dari atas kasur, namun sayang satu kakinya tersangkut selimut ranjang yang besar. Anna langsung tersungkur, tapi meskipun begitu ia langsung bangkit dengan segera dan berlari ke arah pintu.


Hanya saja momen tersungkur tadi membuat Thomas langsung siaga. Sebelum Anna mencapai pintu, Thomas lebih dulu mencapainya dan memeluk Anna dengan erat dari belakang.


"Lepaskan aku!" ucap Anna sembari meronta-ronta. Tapi tubuhnya yang kecil tak akan sebanding jika melawan Thomas. Usahanya sia-sia.


"Kau berniat kabur, kan!" seringai Thomas sambil mendekatkan bibirnya di telinga Anna. Anna merinding ngeri. "Well, aku jadi tidak sabar, bagaimana kalau malam ini saja?”


"Apa yang kau lakukan, LEPASKAN AKU......" teriak Anna kencang.


Jangankan menurut, Thomas malah makin menjadi.


"Argggghhhh......" teriak Anna ngeri "Apa yang kau lakukan Thom? STOP!"


"Oh, kau mau lagi ... " kata Thomas pura-pura tak dengar dan masih melanjutkan aktivitasnya.

__ADS_1


"Ini pelecehan, aku akan menuntutmu!"


"Hhhhhh coba saja," sahut Thomas sembari tertawa kencang. "Oh... Anna, aku sudah lama ingin memilikimu," lanjutnya.


"Stop! Kubilang berhenti!" jerit Anna sembari meronta-ronta.


"Oh Anna, semakin kamu memberontak semakin aku ingin.”


Anna menangis merasakan sesuatu yang keras di belakangnya. Meski ia sangat tidak berpengalaman tapi sebagai orang yang sudah dewasa Anna sudah bisa menduga semua ini akan berakhir buruk.


Thomas lalu membopong Anna dan melemparkannya ke atas ranjang. Anna terlonjak kaget di atas ranjang. Tapi sebelum ia sempat bangkit, Thomas lebih dulu melumpuhkannya.


"Plakkkk ... " Anna mendaratkan tamparan di wajah tampan Thomas. Alih-alih marah malah Thomas malah tertawa senang dan memaksa kembali menciumnya.


Anna terengah-engah di tengah hujan ciuman yang menimpanya. Air mata menetes deras di pelupuk matanya, rasa tak berdaya melingkupi dirinya.


Karena Thomas terlalu fokus menciumnya, satu tangan Anna terlepas dari genggaman Thomas. Anna lantas berusaha meraih apa pun di dekatnya sebagai senjata.


Anna lalu melihat sebuah buku dengan pulpen di atasnya. Tapi saat ia hendak meraih buku itu, pulpen itu menggelinding jatuh. Meskipun begitu Anna tetap meraih buku itu dan memukulkannya ke kepala Thomas yang tengah menunduk di depannya.


"Pergi kau, pergi kataku!" seru Anna sembari memukulkan buku itu ke kepala Thomas.


Thomas yang kaget melepas sejenak pertahanannya. Anna langsung beringsut lari ke satu-satunya pintu yang terbuka, yaitu kamar mandi. Anna sadar karena penampilannya yang berantakan dan pintu kamar cukup jauh dari jangkauannya. Hanya kamar mandi itulah peluangnya bertahan saat ini.


Anna cukup gesit untuk sampai kamar mandi tapi tak cukup cepat untuk mengunci pintu.


Thomas lantas mendorong pintu dengan keras sampai Anna terjerembap dan kepalanya membentur tembok kamar mandi. Benturannya cukup keras untuk membuat Anna berkunang-kunang.


Thomas lantas membopong Anna kembali ke ranjang. Tapi kali ini Anna tidak melawan. Badannya terasa letih dan lelah.


Begitu melihat Anna yang terkulai lemas, Thomas lantas memperlakukan gadis itu dengan lebih gentle.


Anna hanya bisa mengalihkan pandangannya dengan air mata bercucuran.


"Kamu tahu kan aku akan menikah, kenapa kamu melakukan ini Thom! Kau sudah seperti saudara lelakiku," ucap Anna terbata-bata di sela isak tangisnya.


Di benak Anna terngiang Theo yang menunggunya malam ini untuk bertemu mamanya. Apa yang akan terjadi pada hidupnya setelah ini? Sedangkan saat ini ia sudah tak punya cukup kekuatan untuk melawan.


"Aku tidak mengizinkanmu menikah dengan orang lain. Aku lebih dulu mengenalmu. Aku yang lebih dulu harus memilikimu" jawab Thomas.


"Jangan lakukan ini padaku Thomas, Please ... " Ana memohon pada Thomas. Ia masih belum menyerah dan terus berusaha memukul-mukul kepala Thomas dengan tangan mungilnya.


"I'm sorry Anna. Kamu harus jadi milikku malam ini," kata Thomas.


Thomas lalu menunduk mendekatkan mulutnya di telinga Ana dan berbisik.


"Terima aku Anna. Tunanganmu tidak akan mau menerimamu yang seperti ini. Aku akan menerimamu seutuhnya, menjagamu, memberi perlindungan, memberi kebahagiaan, memberi anak-anak lucu untukmu," bisik Thomas dengan lembut tapi hanya dijawab Anna dengan isak tangis.


"Kau tahu Anna,” ucap Thomas, "aku mencintaimu," lanjutnya.


Anna tak sanggup melukiskan kesedihan yang dialaminya malam ini. Pupus sudah cintanya untuk Theo dan hancur sudah harapannya mempersembahkan semuanya di malam pernikahannya. Apa yang dijaganya selama ini telah dirampas oleh seseorang yang sudah dianggapnya seperti saudara.


Tak ada yang tersisa darinya malam ini, hancur lebur hatinya, cintanya juga harga dirinya.


"Menikahlah denganku Anna," bisik Thomas.


Anna menggeleng kuat-kuat sambil menangis. Ia tak percaya lagi dengan apa pun yang diucapkan pria ini.


"Aku akan bertanggungjawab," janji Thomas.


Anna tak menjawabnya. Ia bahkan tidak mampu menangis lagi. Tak ada apa pun yang tersisa untuknya meski hanya air mata.


🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2