
🌷🌷🌷
Thomas keluar dari ruang rapat dengan berkeringat. Proposalnya sangat jauh dari kata sempurna, ia sedikit meringis kala harus mengingat janjinya dengan Theo. Dia sangat takut akan gagal tapi ia juga tidak bisa dengan mudah memenangkan hati para direksi.
Thomas mengacak-acak rambut pirangnya dengan kesal. Saat ini aku harus minta tolong pada siapa? Bahkan setelah berguru kepada papanya proposalnya tetap belum sempurna. Dia butuh seorang briliant untuk membantunya, ia lantas mengingat ada seorang pria briliant yang bisa membantunya membuat proposal sempurna yang tak akan ditolak, seorang pria jenius, Theo.
"Baiklah... Demi Ana. Jika harus berlutut dan memohon aku akan melakukannya," tekad Thomas.
Thomas pun dengan nekat datang menemui Theo di kantornya. Gedung perkantoran Theo adalah yang terbesar di daerah sini. Designnya modern, kokoh dan nampak mengintimidasi, seolah melarang siapapun yang tak berkepentingan untuk menjaga jarak dengannya.
Thomas bertanya pada resepsionis bisakah ia menemui Theo. Bisa ditebak jawaban yang diberikan petugas respsionis.
"Maaf, anda harus membuat perjanjian dulu untuk bisa menemuinya."
"Tolong katakan padanya Thomas Dunyan ingin menemuinya," pinta Thomas.
"Baik tuan Dunyan, saya akan mencobanya," ujar resepsionis itu.
Resepsionis itu melakukan panggilan telepon sambil mengangguk-angguk. Kumohon jangan tolak kedatangan ku, batin Thomas.
Setelah selesai menelepon, resepsionis itu lantas menyampaikan hasilnya pada Thomas.
"Tuan Theo meminta anda menemuinya nanti malam di bar biasa pada waktu yang sama."
"Oh, baiklah! terimaksih," ujar Thomas sambil kembali ke kantornya. Untunglah Theo tidak benar-benar menolak untuk bertemu.
Thomas sengaja datang di bar lebih cepat dari waktu perjanjian. Saat ini ia tengah duduk dengan cemas mengantisipasi kedatangan Theo. Akankah Theo mau menolongnya, Semoga saja.
Tak lama kemudian Theo pun datang di ikuti asistennya. Asisten kali ini berbeda dangan terakhir kali Thomas melihatnya. Sepertinya Theo punya banyak sekali asisten.
"Apa kamu sudah mendapatkan proyeknya?" tanya Theo.
Thomas menggeleng.
"Lantas untuk apa menemuiku? Aku sudah mengatakannya dengan jelas. Jangan menemuiku sampai kamu mendapatkan proyeknya," kata Theo kesal.
"Aku ingin minta tolong untuk mendapatkan proyek itu. Aku orang baru dalam bisnis ini. Aku sudah mencoba dengan sangat keras tapi proposalku masih saja tidak sempurna. Tolong bantu aku menyempurnakannya," pinta Thomas sambil meletakkan berkasnya di atas meja.
"Aku bahkan belum mengatakan untuk membantumu. Kenapa kamu membawa semua rongsokan ini?" ujar Theo kesal.
Theo menyerahkan berkasnya kepada asistennya.
__ADS_1
"Amber, pelajari ini dan ajari pria brengsek ini bagaimana membuat proposal yang baik."
"Terima kasih," ujar Thomas.
"Aku tidak melakukannya dengan gratis. Biaya lembur Amber kamu harus membayarnya dua kali lipat."
"Aku mengerti," kata Thomas sambil mengangguk.
"Temui Amber setelah jam kerja selesai. Sekarang pergilah! aku muak melihatmu," usir Theo.
Thomas lantas berterimakasih sekali lagi sambil membungkuk. Meski Theo sangat keras tapi pria itu masih membantunya, sepertinya Theo tak benar-benar membencinya.
Padahal Theo hanya ingin memberikan satu kesempatan pada Thomas untuk membuatnya benar-benar menyerah pada Ana. Ana sekarang sudah menemukan kekasihnya, ia berharap Thomas tidak hidup dalam fantasinya sendiri dan segera move on.
Sebenarnya Theo meminta Thomas memenangkan tender ini karena di pulau itulah tempat tinggal Ana. Theo ingin Ana menjadi dewasa dan tidak lari setiap kali ada masalah di depannya. Ia ingin adiknya benar-benar menolak Thomas dengan keras agar Thomas sadar dan berhenti terobsesi dengan Ana.
Ngomong-ngomong sudah lama tidak menelepon Ana.Â
"Halo... Ana, ini Kak Theo," kata Theo begitu telepon diangkat.
"Ana sedang keluar. Kamu siapa?" jawab suara di sebrang sambil balik bertanya. Theo tentu saja terkejut yang menjawab telfonnya adalah lelaki.
"Aku Theo, kakaknya. Kamu siapa? Kenapa ada di rumah Ana."
Siapa itu? terdengar suara wanita yang lain terdengar. Tapi Theo tak mengenalnya, itu bukan suara Ana.
Biar aku yang angkat teleponnya. Kata wanita itu sambil merebut teleponnya dari Edward.
"Aku Lily, sahabat Ana. Kamu siapa?"
"Aku Theo kakaknya. Salam kenal," sapa Theo dengan baik. Namun rupanya Lily membencinya, kata-kata berikutnya bernada ketus.
"Tolong ya, Theo! Ana tidak punya kakak. Dan berhenti mengganggunya lagi, Ana berhak bahagia," ucap Lily kasar sambil mematikan telepon.
Theo terhenyak dimarahi. Meski kena marah, Theo terlihat senang karena Ana punya teman-teman protektif yang menyayanginya.
🌷🌷🌷
Thomas bekerja keras selama beberapa hari terakhir bersama Amber, asisten Theo. Ia hanya sedikit beristirahat dan banyak menghabiskan waktu di kantor. Sesekali Mamaya menengoknya untuk memberi semangat dan memenuhi kebutuhan makanan dan pakaiannya. Sedangkan Chaterine tak banyak mengganggunya.
Sekarang tibalah saat ia harus mempresentasikan proposalnya. Thomas merasa sedikit gugup, ia berulangkali mengubah posisi duduknya, apalagi tidak hanya ia yang memperebutkan proyek ini, ada beberap ketua tim senior yang juga ikut andil dalam pertaruhan ini.
__ADS_1
Setelah cukup lama menunggu, giliran Thomas memasuki ruangan. Asistennya segera mengedarkan salinan proposal yang sudah dipersiapkannya. Dengan diiringi do'a dalam hati ia memulai memaparkan proposalnya.
Semua berlangsung baik dan terkendali sampai seseorang berkomentar dengan nada sedikit meragukannya.
"Proposal ini sangat sempurna untuk proyek ini, hanya saja aku belum yakin membiarkanmu mengambil proyek ini, kamu masih baru. Sekiranya kamu berhasil melakukannya tak masalah, tapi jika tidak, maka pertaruhan di sini sangat besar," ujar seorang direksi senior bernama Pak Sandi.
"Aku sangat setuju dengan Anda," komentar seorang yang lain, "aku bahkan belum pernah melihat Thomas memegang proyek apapun sebelumnya."
Apa hendak dikata, sebelum ini reputasi Thomas sangatlah buruk. Selain bermain perempuan, tak ada hal berarti yang dilakukannya. Ya, memodifikasi mobil, hanya itu kualifikasinya. Dia sudah hendak ingin putus asa, keringat sudah mulai bercucuran membasahi keningnya, ia sangat gugup.
"Kenapa kita tidak memberinya kesemptan?" kali ini Arthur, ayah Thomas membelanya, Arthur masihlah pemegang saham terbesar hotel Dunyan Night, setidaknya ucapannya pastilah memberikan sedikit perbedaan.
"Tunggu diluar, nak," perintah Pak Sandi padanya.
Thomas menurut dan segera keluar, ia berharap kali ini Papanya bisa membantunya, ia sangat ingin bertemu Ana. Diluar ruangan ia bertemu Pak Joseph. Pak Joseph adalah papa dari sahabatnya, Soni. Soni saat ini telah bekerja dibawah bimbingan Pak Joseph jauh sebelum kuliah usai malah. Soni adalah anak yang berbakti, tidak sepertinya yang tidak segera dewasa.
"Om," sapa Thomas.
"Thomas, apa kabar?" tanya Pak Joseph ramah.
"Baik," jawab Thomas pendek.
"Sudah tidak pernah mampir ke rumah Om lagi, sudah berapa lama..." kenang Pak Joseph.
"Kapan-kapan aku akan mampir," janji Thomas, "sekarang kami memang sering bertemu di luar, apalagi Soni juga sudah memilih tinggal sendiri."
"Hehehehe... kalian masih muda, sewaktu muda dulu Arthur dan aku juga jarang dirumah," kenang Pak Joseph.
Reuni mereka berhenti karena tim direksi telah memanggil mereka, Thomas, Pak Joseph dan 2 orang lagi.
Kali ini Arthur yang akan mengumumkan keputusan rapat hari ini.
"Terimakasih telah berjuang sekuat tenaga menyusun proposal proyek besar pengembangan resort kita. Karena ini proyek besar, maka kami memikirkan dengan seksama. Kami ingin memberikan kesempatan pada semua peserta, hanya saja kami harus memilih yang paling kompeten di sini , seseorang yang sekiranya mampu menghandle semuanya, Kami memilih Pak Joseph. Selamat pada Pak Joseph."
Tepuk tangan menggema menyusul dipilihnya Pak Joseph sebagai pemimpin proyek ini. Thomas sudah merosot dari kursinya, kesempatannya hilang sudah.
"Thomas, proposalmu sangat bagus, sekiranya kamu tidak keberatan bergabunglah dalam proyek ini dibawah bimbingan Pak Joseph," ujar Arthur, ia sudah berkeras mempromosikan Putranya, tapi sebenarnya ia juga sadar akan kemampuan Putranya, Putranya masih harus belajar banyak.
Thomas hanya mengangguk mengiyakan. Masih jauh perjalanannya untuk menguasai ini, ia harus banyak berusaha dan bekerja lebih giat lagi.
Ia sadar diri akan kemampuannya, semua tentang manajemen tak semudah yang tertulis di proposal, apalagi proposal ini juga bukan murni pekerjaannya, hanya saja kenyataan ini membuatnya sangat sedih, tiket untuk bersua dengan Ana hanguslah sudah.
__ADS_1
🌷🌷🌷