
🌷🌷🌷
* * *
Angin berhembus sepoi-sepoi menggoyang lembut dedaunan yang rimbun di sekitar danau, beberapa helai dedaunan yang menguning berguguran di atas permukaan danau yang tenang, dari kejauhan beberapa pasang keluarga sedang bercengkrama dalam suasana yang akrab, sayup-sayup tawa riuh rendah dari anak-anak yang sedang bermain di pinggiran danau menambah damai suasana sore itu. Tapi suasana danau yang damai itu tak bisa mengalihkan rasa penasaran Theo atas percakapan Ana dan sahabatnya. Mereka terlihat serius dan Ana terlihat seperti sedang meyakinkan sesuatu. Apa mereka mengundangnya hanya untuk membiarkannya menunggu.
"OMG! Ana, kamu tahu siapa lelaki itu"
"Ya, dia Theo, aku ingin mengenalkan pria yang dekat denganku"
"Dan itu Theo," Chaty memotong omongan Ana
Ana mengangguk.
"Theo Natanael Maxwell, CEO Maxwell" gumam Chaty tak percaya
Ana mengangguk, "ya dia Theo, hanya Theo, dia manusia biasa sama seperti kita"
"Tapi bukankah dia Gay, dia tak pernah berkencan dengan siapapun?"
Ana mengerutkan keningnya. Gay. Dia baru mendengar ini.
"Kenapa dia melamarku kalau dia Gay." Ana menunjukkan cincin di jarinya.
"WHAT!, lamaran. Kalian sudah bertunangan?" Teriak Chaty histeris, sembari menggelengkan kepalanya tak percaya. Rambut ikalnya ikut bergoyang mengikuti irama kepalanya.
"Sudah sejak kapan kalian merahasiakan ini padaku," kata Chaty sambil bergiliran memandang Ana dan Theo yang saat itu kedapatan menoleh ke arah mereka.
"Kami baru mau memberitahumu, bukankah kamu ingin bertemu dengan Theo, aku sudah mengundangnya kesini. Kita bisa ngobrol bersama, lihatlah Theo terlihat tidak nyaman dengan kelakuan kita meninggalkannya sendirian. Sudahi ini, Aku pasti akan menceritakan detailnya nanti, aku janji."
"Hm baiklah." Kata Chaty akhirnya. Dalam hati agak ragu bagaimana menyampaikan berita ini kepada Thomas, Chaty sering melarangnya mendekati Ana dan sekarang Ana sudah bertunangan, apalagi tunangannya bukan orang yang main-main, Thomas benar-benar tidak punya peluang. Chaty agak sedih melihat kenyataan yang menimpa kakaknya.
"Jadi, sudah sejak kapan kalian saling kenal." Kata Catherine.
"Saat pesta ulangtahunmu." Jawab Theo. Chaty memutar bola matanya, Ana tidak memberitahunya tentang ini. Ana balik memandang Chaty dengan tatapan minta maaf.
"Theo tidak sengaja menumpahkan wine ke gaunku, ingat saat itu aku meminjam gaun padamu."
Cathy manggut-manggut.
"Sejak kapan kalian bertunangan."
"5 hari yang lalu." Jawab Theo tegas.
"Bukankah kamu Gay" tanya Cathy terus terang. Mata birunya melotot menghakimi.
Alih-alih menanggapi serius, Theo malah tertawa kencang. Ana sampai harus menepuk tangan Theo supaya Theo menyudahi tawanya karena pengunjung lain melihat mereka dengan tatapan terganggu. Theo balik mengenggam tangan Ana.
"Kuharap kamu tidak percaya dengan rumor itu, Ana. Gay adalah hal terabsurd yang bisa mereka tuduhkan padaku. Well, Chaty, aku bukan pria Gay, kamu bisa percaya itu."
__ADS_1
Cathy menyesap tehnya dengan gusar. Benar cowok aneh. Tampangnya boleh tampan tapi kenapa menertawakannya seperti itu.
"Well, lalu kapan kalian menikah, jangan menghamili Ana-ku sebelum kalian resmi menikah, aku tidak akan memaafkanmu nanti."
"Chaty" tegur Ana, sahabatnya sudah agak kelewatan. Theo bahkan telah menjaganya tetap perawan. Ya, bukan karena Gay, tapi karena Mama Theo orangnya sangat konservatif, ya, wanita dengan pemikiran old sama seperti Ana. Ana bakal cocok dengan mertuanya dalam hal ini.
Mimik Theo berubah serius mendengar perkataan Cathy. Theo berfikir, Cathy meragukan kesungguhannya.
"Karena kamu orang terdekat Ana, orang terpenting dalam kehidupan calon istriku. Aku ingin kamu tahu bahwa aku tidak main-main dengan hubungan ini. Dan karena kamu telah bertanya tentang pernikahan. Rencananya kami akan menikah pada hari minggu pertama di musim panas, tepatnya tanggal 5 Agustus." Kata Theo pasti, tapi tidak hanya Cathy yang shock, Ana dibuat terheran-heran, apakah Theo sebegitunya ingin meyakinkan Cathy sampai mengarang sedemikian rupa. Meski itu mengganggunya tapi Ana memilih untuk menanyakannya nanti.
Catherine tak bisa berkata banyak, ternyata Theo lebih dari serius dalam menjalani hubungan ini.
"Well, selamat kalau begitu."
"Anak-anak akan lahir di musim semi yang indah, bukan begitu Ana." Kata Theo sembari *** tangan Ana, mendengar kata anak-anak. Ana tak kuasa menahan air matanya. Hidupnya yang seorang diri akan di isi oleh celoteh anak-anak, mungkinkah itu sebuah masa depan yang telah diatur Tuhan untuknya.
Cathy ikut menggenggam tangan Ana yang lain, menguatkannya, Cathy tahu Ana sangat sensitif tentang hidup sebatang kara, jika ini memang bisa menjadi kebahagiaannya. Cathy akan mendukungnya. Dan selain rumor gay, Theo tidak di terpa rumor lain. Informasi tentang gay-pun tak ada foto yang membuktikannya, hanya tak ada foto Theo dengan wanita sehingga berhembus rumor gay. Pasti Theo orang yang berhati-hati dengan privasinya. Catherine harus mengakui bahwa Theo terlihat dewasa dan bisa di andalkan.
"Mampirlah ke rumah Ana, Papa dan Mama pasti akan senang mendengar berita bahagia ini. Jangan sampai Mama mendengar beritanya dari infortainmen, itu akan membuatnya sedih." Kata Chaty, hendak berpamitan.
"Kami akan melakukannya" Janji Theo.
"Titip salam untuk Mereka, dan Thomas juga. Kami akan mampir secepatnya." Jawab Ana.
"Aku pergi dulu, kelas yogaku akan segera di mulai. Bye Ana." Kata Cathy sambil mencium pipi Ana.
"Akan kulakukan," Janji Theo.
* * *
"Aku tidak menyangka kamu sangat pandai membuat alasan hanya untuk membuat Cathy percaya, apa itu 5 agustus" Kata Ana sambil memandangi Theo yang sibuk menyetir. Mereka sedang menuju suatu tempat, Theo ingin Ana menemui seseorang.
"Aku sedang tidak bercanda kok" jawab Theo santai
"Eeeh" Ana ternganga tak percaya.
"Mama ingin kita menikah secepatnya. Dan tanggal pernikahan telah dibuat. Sebenarnya aku ingin memberitahumu terlebih dahulu tapi Catherine telah berhasil memprovokasiku, well, aku minta maaf soal itu" Kata Theo sembari melirik Ana yang masih terlihat tidak percaya.
"Tapi..."
"Please, jangan bilang tapi, aku sangat ingin bersamamu dan memilikimu secepatnya. Kamu tahu kan Mamaku konservatif, Temanmu juga melarangku melakukannya sebelum kita menikah. Dan aku sangat ingin melakukannya" Theo mulai terdengar sentimentil khawatir Ana tidak menyetujui pernikahan mereka yang digelar lebih cepat dari perkiraan Ana.
"Ya, tak ada alasan untuk menundanya."
"Terimakasih" jawab Theo sambil mengulas senyum.
Ana balik tersenyum
"Sehabis ini Mama ingin bertemu, kamu tahu kan semacam urusan antara perempuan, gaun pengantin, dekorasi, bingkisan, dan sejenisnya..."
__ADS_1
"Aku terserah Mamamu saja, apa pun yang beliau telah pilihkan itu pasti yang terbaik"
"Tapi tak ada salahnya jika Mama mendengar pendapatmu"
"Memang tak ada salahnya, hem kamu terdengar seperti aku enggan bertemu Mamamu deh"
"Bukan ya"
"Kuharap kami akan cocok, sudah lama aku ingin punya Mama. Pasti menyenangkan bisa ngobrol bersama. Aku selalu iri dengan Cathy dan Mamanya"
"Kau tahu, Mamaku Mamamu juga, dan Mamaku pasti tak kalah antusias denganmu karena Mama selalu ingin anak perempuan yang bisa menemaninya belanja. Nah, kita sudah sampai" kata Theo sembari memarkirkan mobilnya.
Ana memandang sekitar, mereka berada di pelataran sebuah gereja yang tidak terlalu besar dan terkesan tua, Ana tidak tahu siapa yang ingin di temui Theo. Yang jelas suasana disini terlihat lengang dan sepi.
Theo menggenggam tangan Ana dengan erat, seolah memberi dukungan dan kekuatan. Ana menoleh pada lelaki jangkung di sampingnya. Wajah Theo terlihat tegang. Ana tidak berani bertanya. Dia akan melihat sendiri siapa yang ingin dipertemukan Theo padanya.
Anehnya Theo menuntun Ana menjauhi bangunan gereja dan malah memasuki komplek pemakaman. Rasa penasaran menyeruak. Mungkinkah...
"Siapa" tanya Ana ingin memastikan.
Theo tidak menyahut, Theo hanya menggenggam erat tangan Ana sampai mereka berhenti di depan sebuah pusara.
Ana membaca nama yang tertulis di pusara itu dalam hati, Taylor H. Maxwell. Ah, wajah Ana langsung pias, rupanya Theo mempertemukannya dengan saudara Theo. Kakak yang pernah Theo ceritakan tempo hari saat mereka duduk di taman. Ana menggenggam balik Theo dan memandang mata pria itu dengan lembut, memberi dukungan. Theo balik memandang Ana, jelas rona kesedihan tercermin dalam wajah tampannya.
"Kakak, aku ingin mengenalkanmu pada calon istriku, namanya Ana, kami akan menikah beberapa minggu lagi. Berikan kami restumu kak" kata Theo sembari menyentuh pusara kakaknya dengan tangan kanannya. Theo ingin sekali menangis disini, betapa Theo sangat merindukan kakaknya ada disisinya, menemaninya, mendukungnya, mengadakan pesta lajang untuknya.
"Salam kenal kak Taylor, namaku Ana, calon adik iparmu, meskipun kita belum pernah bertemu tapi kuucapkan banyak terimakasih sudah menyayangi Theo dengan tulus dan menjaganya dengan baik sehingga Theo bisa menjadi sosok yang hebat seperti kakak," Ana memandang Theo dengan senyuman hangat. "Berikan restumu pada kami dan doakan kami dari tempat terbaikmu semoga kelak kami menjadi pasangan yang saling melengkapi dan menguatkan".
Theo memandang Ana dengan sedikit senyum di wajahnya. Setelah ini Theo ingin mempertemukan Ana dengan seseorang yang tak kalah penting bagi Ana. Theo tidak tahu respon yang akan ditunjukkan Ana nantinya. Tapi meskipun ragu Theo tetap pada niatnya. Theo menggenggam tangan Ana dan membalikkan tubuhnya pada nisan di samping Makam Taylor, yang tadi mereka punggungi.
"Siapa?" Tanya Ana tak mengerti mengapa Theo tak beranjak pergi malah membalik tubuhnya. Theo tak menjawab sembari matanya terpaku pada nisan di depannya.
Ana yang penasaran ikut melihat apa yang di pandangi Theo. Sebuah nisan dengan nama yang familiar bagi Ana.
"Maria S. Wood" Rest in peace. Detak jantung Ana berdegup kencang. Nama yang sama persis dengan nama Mama Ana. Ana lanjut membaca tulisan kecil di bawahnya.
"Untuk putri kecilku Annamarie tercinta. Mama selalu menyayangimu nak".
Air mata langsung menggenang di pelupuk mata Ana. Ana menoleh tak percaya ke arah Theo. Apakah ini bukan mimpi. Apakah seseorang yang terbaring di sini benar Mamanya.
Tak kuasa melihat wajah sedih Ana. Theo hanya bisa mengangguk untuk memastikan pada Ana bahwa disana adalah Mamanya yang selama ini di rindukannya dan ternyata telah tiada.
Ana tak kuasa menahan tangis dan kesedihan yang membuncah di dadanya. Ana yang telah menghabiskan seluruh hidupnya untuk membenci Mamanya jadi merasa kerdil. Bahkan sampai mati pun Mamanya tetap menyayanginya. Dan yang dilakukan Ana hanya membenci Mamanya karena menghilang tanpa mencaritahu penyebabnya. Ana merasa sangat berdosa.
Theo memeluk Ana erat seiring makin kencangnya tangisan Ana. Theo tahu Ana mungkin merasa bersalah telah membenci Mamanya. Tapi Theo masih menyimpan satu rahasia besar lagi tentang masa lalu Ana. Theo bisa menunggu untuk memberitahukannya. Theo tidak ingin Ana terbebani dengan semua kenyataan yang serba mendadak ini.
* * *
🌷🌷🌷
__ADS_1