Anna, Hug Me

Anna, Hug Me
Episode 5


__ADS_3

🌻🌻🌻


Keheningan tampak menyelimuti kedua insan yang saling berpelukan dalam gelapnya ruang perpustakaan. Keduanya tampak tenggelam dengan pikirannya masing-masing.


"Kenapa kamu tidak bisa menerimaku?" tanya Dima parau. Ia menahan dirinya untuk tidak menangis.


"Kamu selalu tahu jawabanku. Kamu hanya terjebak dengan peri kecilmu itu. Kamu hanya terobsesi padaku, sadarlah."


"Aku tulus mencintaimu," ujar Dima lagi. Meski Angel telah menolaknya berkali-kali, tapi ia tak ingin menyerah.


"Kita sudah seperti saudara. Kamu dan aku sangat dekat sedari kecil. Aku telah menganggap Daniel adikku seperti halnya kamu menganggap Hans adikmu, begitulah hubungan kita. Sadarlah dan berhenti berkeliaran di sekitarku. Biarkan aku menemukan cintaku sendiri."


"Apakah kamu terganggu dengan perhatianku?"


"Sejujurnya, iya. Jadi berhentilah mengejarku dan temukan cintamu sendiri."


Kali ini Dima terdiam. Air mata yang menggenang di pelupuk matanya tak kuasa menetes di pipinya. Seiring berlalunya waktu penolakan Angel padanya terlihat semakin nyata. Tidak adakah yang tersisa untuknya untuk keluar dari zona nyaman itu.


"Apakah selama ini diriku tak berarti?"

__ADS_1


"Kamu selalu berarti bagiku seperti saudaraku, tak kurang tak lebih. Kamu selalu ada di sekelilingku menjagaku dan aku sudah terbiasa dengan itu. Hanya saja hatiku tidak mencintaimu, aku bahkan tidak berdebar karenamu," ujar Angel berusaha jujur. Ia sudah berulang kali mengatakannya tapi Dima selalu saja keras kepala.


Dima melepas pelukannya. Ia menghadapkan wajahnya pada gadis di depannya. Wajah yang ia tahu sangat memesona meski dalam gelap.


"Izinkan aku menciummu untuk terakhir kali. Aku berjanji aku tidak akan berkeliaran di sekitarmu lagi," ujar Dima dengan suara yang sangat pelan.


Angel tahu Dima menangis tapi bagaimanapun juga Dima harus menghadapi kenyataan bahwa ia tidak bisa memberikan hatinya.


"Baiklah," ujar Angel akhirnya. Ia telah bersiap berciuman sambil memiringkan wajahnya. Akan tetapi Dima menghentikannya.


"Pejamkan matamu, aku ingin melihatmu terlebih dulu."


Dima ingin melihat gadis itu ari dekat. Bukan, alasan sebenarnya adalah ia telah terbiasa melihat Angel meskipun gadis itu tidak melihatnya, padahal ia berada sangat dekat dengannya. Dan sekarang Gadis yang saat ini tidak melihatnya ingin ia menjadi benar-benar menjadi tak terlihat.


Dima membelai wajah di depannya. Keningnya, hidungnya, matanya, pipinya, dagunya, terakhir ia menyentuh bibirnya. Bibir yang indah dan manis. Ia masih ingat rasa bibirnya saat mereka berciuman semalaman saat prom night. Kali ini ia harus menciumnya untuk terakhir kali. Bagaimana ia tak sakit?


Dima mengarahkan bibirnya mendekat dan mencium Angel dengan dalam. Ia menangis. Sungguh ia menangis, ia bahkan bisa merasakan rasa asin dalam ciumannya tapi ia tak peduli ini mungkin kesempatan terakhir yang dimilikinya. Ia menumpahkan semua perasaannya selama 11 tahun menjadi pemuja sang peri. Ia telah menyerah sekarang.


Dima menyudahi ciumannya saat merasakan Angel kesulitan bernafas. Ia segera tersadar lalu meminta maaf.

__ADS_1


Angel dengan canggung bangkit dari pangkuan Dima.


Dima juga bangun dari duduknya. "Kamu ingin tinggal di sini atau kembali ke asrama?" tanyanya.


"Aku harus kembali."


"Baiklah, aku akan mengantarmu."


Mereka lantas berbenah. Dima melipat selimut dan jaketnya lalu memasukkannya dalam ransel. Sedangkan Angel mengumpulkan semua buku-buku yang berserakan dan memasukkan laptop miliknya ke dalam tas.


Mereka berdua berjalan dalam diam. Hari masih dini, cuaca sangat dingin dan kondisi di luar masih sangat gelap.


Dima mengambil sepedanya dan membonceng Angel. Perjalanan mereka sangat lancar tanpa gangguan. Tak terasa mereka telah sampai di depan asrama.


"Lain kali pasang alarm jangan biarkan kamu tidur di sembarang tempat," ujar Dima sambil mengendarai sepedanya dan berlalu pergi.


Secepat itu pergi? batin Angel. Ia merasa aneh karena Dima tak biasanya meninggalkannya begitu saja.


"Terima kasih," teriak Angel saat Dima semakin menjauh. Dima hanya melambaikan satu tangannya tanpa menoleh.

__ADS_1


Angel mungkin belum bisa menyadarinya, tapi malam ini adalah malam terakhir ia melihat Dima sebagai orang yang dikenalnya. Karena saat ia bertemu dengan Dima esok hari, pria itu telah menjadi seseorang yang berbeda dari Dima yang pernah dikenalnya.


🌻🌻🌻


__ADS_2