Anna, Hug Me

Anna, Hug Me
Episode 27


__ADS_3

🌻🌻🌻


“Ini rose wine, red wine dan wishki kau bisa pilih salah satunya atau kamu mau mencoba semuanya. Aku tak tahu apa seleramu jadi aku membeli beberapa. Tak ada minuman yang pasti enak, semua tergantung selera,” ujar Tonny. Sambil merujuk pada 3 botol di depan mereka.


“Jika kau menyukai rasa manis, rose wine mungkin cocok, cobalah,” lanjut Tonny sembari menuang sedikit cairan berwarna rose ke dalam gelas. Dengan sabar Tonny mengajari cara meminum wine yang benar. “Kau harus menggoyangnya seperti ini, menghirup baunya dan merasakannya. Seperti ini,” ujar Tonny yang ditiru oleh Dima.


“Mungkin kau terbiasa meminum red wine yang asam dan sepat,” ujar Tonny saat mengomentari wajah aneh Dima saat selesai meminum gelas pertama.


“Entahlah,” jawab Dima. “Tapi aku rasa aku menyukai rasanya yang manis.”


Tonny hanya tertawa. Mereka melanjutkan meminum yang selanjutnya, “ini sedikit keras, kau mungkin akan mabuk,” ujar Tonny memperingatkan sembari menuang whiski di gelas kecil.


Dima tak peduli dan mulai menenggaknya.


“Ya, sepertinya toleransimu terhadap alkohol cukup bagus,” ujar Tonny yang masih berada di gelas pertama. Ia datang hanya untuk menemani sepupunya bukan untuk mabuk jadi ia tetap bertahan di gelas pertama.


Tapi sepertinya dugaan Tonny tak seluruhnya salah karena Dima tiba-tiba mengusap sudut matanya. Ia tengah menangis.


Tonny menghela nafas. Mungkin efek menenangkan alkohol membuat Dima bisa melepas emosinya. Untung saja ia telah memesan tempat yang cukup privat sehingga Dima bisa melepas emosinya dengan nyaman.


Tonny lantas beralih ke samping sepupunya. Ia merangkul dan menepuk punggungnya dengan tepukan menenangkan.


“Apa terjadi sesuatu?” tanya Tonny.


Alih-alih menjawabnya, Dima kembali melanjutkan minumannya. Kali ini ia kembali menuang wishki di gelasnya.


“Apa tentang Angel?” tanya Tonny.


“Ya, gadis itu sudah berpacaran sekarang,” ujar Dima. Matanya memerah. Alasannya mau pergi minum hari ini adalah ia patah hati. Benar-benar patah hati.


“Oh, Wow. Rasanya kamu baru pergi beberapa hari dan gadis itu sudah punya kekasih baru,” ujar Tonny. “Apa kabar yang kau dengar itu valid?”


“Foto mereka tersebar di forum kampus,” lanjut Dima sembari kembali mengisi penuh gelasnya.


“Ada fotonya?” tanya Tonny sedikit terkejut. Sepertinya Angel sangat populer. Kabar pacarannya saja sampai masuk forum.


Tanpa diminta, Dima mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto yang dimaksudkan kepada Tonny.


“Well, Angel sangat cantik sekarang. Dia memang cantik sedari kecil, sih,” ujar Tonny mengomentari. Ia lantas memandang pria yang berfoto bersama Angel. “Pria ini terlihat pintar, badannya juga bagus, dan lumayan tampan. Pantas saja Angel tertarik padanya. Sekali lihat saja aku bisa mengatakan mereka pasangan yang serasi,” ujar Tonny jujur.


Dima langsung uring-uringan dan mengambil kembali ponselnya.


“Kau tahu, Dima. Wanita di mana saja sama. Mereka suka cowok yang punya badan bagus, contohnya saja seperti badanku!” ujar Tonny sembari menggerakkan otot dadanya.


Dima mengabaikan sepupunya yang narsis itu dan kembali minum.


“Kau sudah berguru pada orang yang tepat. Aku akan membuat Angel menyesal telah melepaskanmu “


“Ya ya ... ” jawab Dima sekenanya. Sepertinya ia sudah mulai mabuk.


“Aku heran, dulu Om Theo tergila-gila pada Tante Anna. Sekarang kamu yang putranya Om Theo tergila-gila pada Angel, putrinya Tante Anna. Aku tak mengerti, mungkin kalian mendapatkan kutukan atau semacamnya.”

__ADS_1


“Maksudnya?”


“Om Theo dulunya tunangan Tante Anna.”


“APA!” Dima menggelengkan kepalanya untuk menjernihkan isi kepalanya. Sudah sekian lama keluarganya dan keluarga Angel dekat, tapi ia tak pernah mendengar sesuatu tentang ini. Sepertinya orang tuanya sengaja menyembunyikan fakta ini darinya.


“Melihat reaksimu sepertinya kamu tak tahu, ya?”


“Lalu kenapa mereka berpisah? Maksudku kenapa papa dan Tante Anna tidak jadi menikah?” tanya Dima.


“Aku tak tahu persis ceritanya. Papamu dan Tante Anna pasti tahu ceritanya, tapi aku yakin mereka tak akan memberitahumu. Yang bisa memberitahumu secara lengkap mungkin hanya Oma.”


“Begitu ya ... ” ujar Dima sembari menuang kembali minumannya.


“Stop, Dim. Jangan diteruskan nanti kamu mabuk.”


Saat Tonny sibuk menghentikan Dia minum, seseorang mengetuk kaca ruangan mereka. Tanpa dipersilakan orang yang mengetuk itu lantas membuka pintu ruangan mereka.


“Aku berpikir itu kamu, Ton. Dan ternyata memang kamu,” ujar pria yang membuka pintu itu. Pria berpostur tinggi itu tidak datang sendirian. Ia ditemani seorang pria lain yang ikut bergabung dengan Tonny dan Dima.


“Kukira siapa, ternyata kau William dan hei Samuel, apa kabar?” sapa Tonny pada orang yang bergabung dengan mereka yang ternyata adalah temannya.


“Aku baik. Sudah lama tak bertemu apa preferensimu telah berubah?” tanya Samuel saat melihat Tonny merangkul Dima.


Tonny menaikkan satu alisnya dengan ekspresi menggoda dan mendekatkan kepalanya ke arah Dima. Dengan gaya tak kalah seksi ia mengendus leher Dima seperti seorang perayu.


Dima mendengus kesal pada tingkah aneh sepupunya dan dengan gerakan mematikan, ia menyentil kening Tonny yang bersandar di lehernya.


“Ehm, kalian so sweet!” ujar Samuel yang mulai bergabung di meja mereka diikuti William.


Tonny tertawa terbahak-bahak sampai matanya berair saat mendengar komentar Samuel yang sepertinya percaya bahwa ia tertarik pada pria. Sedangkan Dima tampak tak peduli pada keadaan sekitar dan tetap melanjutkan gelasnya.


“Um, perkenalkan ini Dima, sepupuku,” ujar Tonny usai berhenti dari tawanya.


“Sepupu?” tanya William tertarik. Ia belum pernah bertemu keluarga Tonny kecuali nenek dan pamannya.


Pembicaraan Tonny dan kedua temannya berlanjut tanpa sedikit pun digubris Dima. Matanya memerah karena amarah dan kesedihan. Apakah papanya mendorongnya bersama Angel karena papanya belum bisa melupakan Tante Anna? Ia merasa cinta dan ketulusannya selama ini telah dikhianati. Dikhianati oleh papanya juga Angel dan keluarganya. Sial! Aku ingin memukul seseorang, batinnya tak terima.


Dima kembali menuang minumannya ke dalam gelas, akan tetapi saat ia menyadari botol itu telah habis ia menghempaskan botol tersebut ke atas meja dengan cukup keras sampai Tonny dan teman-temannya menghentikan obrolan mereka.


Dima marah karena ia masih ingin minum tapi botol wishkinya telah kosong. Ia hendak meraih botol wine yang tak jauh darinya tapi Tonny menjauhkan botol itu darinya.


“Berikan itu padaku, Kak,” pinta Dima.


“Kita bisa minum lain kali,” jawab Tonny.


“Ya, kau tak harus minum semuanya sekaligus, masih ada hari esok,” ujar William menimpali.


“Kau sudah mabuk,” ujar Tonny.


“Aku belum mabuk,” balas Dima.

__ADS_1


“Jika kau mengatakan belum mabuk, itu tandanya kau sudah mabuk,” ucap Samuel.


“Bagaimana kalau kita pindah ke diskotek? Mungkin adik kecilmu ini harus melepaskan energinya yang berlebih,” usul William.


Tiba-tiba Dima berdiri.


“Kau mau ke mana?” tanya Tonny. Sepupunya terlihat sedikit mengkhawatirkan.


“Aku mau ke toilet,” jawab Dima pendek.


“Mau kutemani? Kau tidak tahu tempatnya, kan?”


“Tidak perlu. Cukup beritahu arahnya.”


“Berjalanlah ke arah kanan. Nanti di ujung lorong kamu akan melihat papan arah toiletnya.”


Dima mengangguk mengerti lalu melangkah pergi tanpa menoleh. Sepertinya ia punya toleransi alkohol yang baik karena ia masih sanggup berjalan tegak.


“Kenapa dengan sepupumu?” tanya William. “Sepertinya kondisinya tak terlalu baik,” lanjutnya.


“Biasa anak muda. Apalagi kalau bukan patah hati!”


William mengangguk mengerti.


“Padahal wanita tidak hanya seorang saja! Sungguh sangat disayangkan pria muda yang tampan sepertinya,” sahut Samuel sembari menyesap wine dengan nikmatnya.


“Lagakmu!” balas William. “Kau hanya belum menemukan orang yang tepat saja!”


Samuel yang paling pendiam di antara ketiganya juga punya mantan paling banyak di antara mereka, tentunya tak bisa dibandingkan dengan William yang masih bertahan dengan hubungan jangka panjangnya yang tenang, nyaman dan penuh cinta.


“Dan tak ada yang mengalahkan rekor playboy kita satu ini. Semua cewek mengantre padanya meskipun mereka tahu bahwa ia playboy yang tak bisa menjanjikan apa-apa. Super!” balas Samuel.


“Ya, aku menunggu kalian berdua mendapatkan hidayah dan menemukan orang yang tepat,” doa William.


Tonny hanya bisa tersenyum santai menanggapi ocehan temannya. Mungkin seperti kata William, ia menunggu orang yang tepat untuk benar-benar melabuhkan hatinya. Yang jelas ia tak ingin seperti papanya yang menghamili wanita yang tak bisa dipertanggungjawabkannya. Ia juga tak ingin bertemu wanita yang seperti mamanya yang hanya mau uang bahkan dengan menggadaikan kebahagiaan buah hatinya. Ia juga tak ingin seperti Om Theo yang begitu penurut dan kaku sehingga tunangannya sampai direbut orang di bawah hidungnya. Ia hanya ingin hidupnya bebas tanpa diatur orang lain, tak juga orang yang mengatas namakan kekasihnya.


“Apa terjadi sesuatu? Kenapa orang-orang berlalu-lalang” tanya William yang duduknya berada di dekat pintu.


“Entahlah. Ngomong-ngomong, rasanya adikmu suda terlalu lama di toilet. Ia tidak sedang terlibat masalah, kan?” gumam Samuel.


“Aku akan mencarinya,” ujar Tonny.


“Aku ikut denganmu, aku penasaran apa yang terjadi,” ujar William.


“Lalu bagaimana denganku?” tanya Samuel manyun.


“Tunggu di sini,” ujar William sembari mengacak rambut ikal Samuel.


“Siap!” jawab Samuel sambil kembali menuang anggur ke dalam gelas.


🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2