Anna, Hug Me

Anna, Hug Me
32


__ADS_3

🌺🌺🌺


Thomas mengendarai mobinyal melewati rumah Ana. Sejak ia mengetahui keberadaan Ana, ia selalu melewati rumah Ana tiap ada kesempatan, di setiap ia keluar rumah, ia bahkan rela memutar cukup jauh hanya untuk bisa melihat rumahnya saja, jika beruntung ia akan melihat gadis itu sedang melakukan sesuatu di halaman atau di teras rumah. Meskipun begitu, ia tak selalu beruntung, contohnya saja saat ini, jangankan melihat Ana, rumah gadis itu malahan tampak tertutup rapat, persis seperti terakhir kali ia meninggalkan rumah itu tadi pagi.


Thomas sudah hendak berlalu sampai ia menyadari bahwa jemuran yang tadi pagi masih belum di angkat. Apakah Ana mengalami kesulitan? apakah Ana tak sempat melakukannya? apakah Ana butuh bantuannya? batinnya bertanya-tanya.


Saat Thomas mengingat gadis itu tampak kelelahan tadi pagi, ia sudah merasa tidak tenang seharian, ia ingin melihat kondisi Ana. Ia akan mengangkat jemuran sebagai alibi untuk berkunjung dan menanyakan kabar. Ia yang masih memakai pakaian kerja, segera melepas setelan jaket proyeknya yang tampak berdebu agar tak mengotori baju bersih yang diangkatnya. Lalu mulailah ia mengangkat jemuran satu persatu dan membawanya ke rumah.


“Ana...” panggil Thomas seraya berdiri di depan pintu dengan membawa jemuran yang penuh di tangannya.


Hening, tak ada jawaban.


“Ana...” panggilnya lagi.


Masih hening, ia lantas membuka pintunya. Untung tidak terkunci, batinnya. Thomas memandang ke dalam rumah dan mengedarkan pandangannya ke arah sekitar. Kenapa sepi sekali? lampu juga belum dinyalakan. Ia langsung menyalakan lampu dan masuk ke bagian ruang tengah. Tapi ia langsung berteriak saat mendapati seseorang tergeletak di lantai. Ia melihat Ana tergeletak tak sadarkan diri di lantai dengan bercak darah yang membekas panjang yang bersumber dari arah kamar mandi, seolah Ana berusaha menyeret tubuhnya untuk minta bantuan.


“ANA... apa yang terjadi?” ujar Thomas yang langsung mengangkat kepala Ana yang terkulai. Ia menepuk-nepuk pipi gadis itu pelan. Ia melihat dada gadis itu tampak naik turun dengan lambat, untunglah masih bernafas. Ia segera mengangkat Ana dan kemudian membawa gadis itu ke rumah sakit terdekat.


Tetangga Ana segera merubung Thomas saat ia keluar dari rumah membopong Ana, apalagi saat mereka melihat Ana tengah dalam kondisi tak sadarkan diri dengan gaun cerahnya yang berlumuran darah.


“Apa yang terjadi dengannya?” tanya seorang wanita tua yang langsung membantu Thomas membukakan pintu penumpang.


“Seseorang bisakah membantuku menjaganya sementara aku berkendara?” tanya Thomas pada orang yang berkerumun. Seorang wanita yang tampak baru saja dari laut, menilik dari peralatan yang dibawanya menawarkan diri, “biar aku saja.”


“Dan yang lain bisakah kalian memberi tahu Edward dan Lily supaya menyusul kami ke rumah sakit?” tanya Thomas lagi dan seseorang di kerumunan menyanggupi. Setelah selesai mengutarakan apa yang diperlukannya ia segera memacu kendaraannya ke arah rumah sakit.


Di tengah perjalanan telepon Thomas berbunyi. Ia melirik sekilas, kontak telepon Chaty tampak di layar ponselnya. Hm, Thomas sedang tidak ingin berurusan dengan Adiknya saat ini jadi ia segera mengabaikan panggilan teleponnya dan buru-buru melanjutkan perjalanan.


Thomas berjalan mondar-mandir di depan unit gawat darurat, ia menunggui Ana yang sedang dalam penanganan. Tak henti-hentinya ia menghapus air mata yang terus mengalir di pipinya. Ia berdoa dalam hati, semoga tak terjadi apa-apa dengan Ana.


“Oh, jam berapa sekarang?” gumamnya sambil melihat ponselnya, ia terkejut banyak panggilan di ponselnya. Ia pasti terlalu fokus sampai tak menanggapi panggilan yang ada di ponselnya.


“Chaterine, Edward, Soni.” Tiba-tiba ponselnya kembali berdering. Soni tengah meneleponnya, daripada menunggu dengan cemas, ia segera mengangkat telepon dari Soni.

__ADS_1


“Hai, ada apa?” tanya Thomas begitu ia tersambung pada saluran telepon.


“Bung, kamu di mana?” Soni bukannya menjawab malah balik bertanya.


“Aku di rumahsakit.”


“Siapa yang sakit?” tanya Soni dengan terkejut.


“Ana,” jawab Thomas pendek karena ia sudah melihat Lily datang bersama Edward dan di belakang mereka juga telah datang Evan. “Sampai nanti, nanti kuhubungi lagi,” pungkas Thomas.


“Apa yang terjadi dengan Ana? aku takut sekali saat mendengar ia harus dibawa ke rumah sakit,” ujar Lily begitu mereka dekat.


“Aku tak tahu, tiap aku pulang kerja selalu melewati rumahnya. Tapi hari ini aku melihat rumahnya tertutup dan jemuran masih ada di luar, aku berinisiatif mengangkat jemuran untuk membantunya, tahunya ia telah pingsan dengan darah di sekelilingnya. Tadi pagi ia sudah mengatakan sedang tak enak badan, aku seharusnya tidak bekerja dan bersamanya saja sehingga kejadian ini tidak sampai terjadi," terang thomas. Air mata tumpah ruah saat ia menceritakan penyesalannya.


Edward menepuk-nepuk punggung Thomas mencoba menenangkan bosnya yang larut dengan kesedihan. Mereka percaya bukan Thomas yang menyebabkan sesuatu terjadi pada Ana.


“Lalu bagaimana kondisi Ana sekarang?” tanya Evan yang telah mendekat ke arah mereka.


“Dokter mengatakan bahwa ia harus transfusi darah untuk mengembalikan kondisi tubuhnya,” jawab Thomas.


Thomas menggeleng.


Mereka bertiga langsung shock. Bayinya tak terselamatkan.


“Bukan, bukan seperti itu,” kata Thomas begitu ketiga teman Ana salah paham. “Aku belum tahu kabarnya, dokter belum mengataknya dengan jelas. Mereka hanya bilang untuk menunggu perkembangan Ana, apakah tubuhnya masih mampu atau tidak. Ya, yang seperti itu, aku tidak tahu detailnya dengan pasti.”


Semua yang mendengar lantas bernafas lega. Ibu yang membantu Thomas menjaga Ana saat perjalanan ke rumah sakit, pamit untuk pulang, ia bersyukur Ana telah didatangi teman\-teman gadis malang itu, yang tentunya lebih bisa membantu Ana, tenaganya sudah tidak dibutuhkan lagi lebih baik ia pulang daripada membuat kleuarganya sendiri khawatir.


“Edward, bisakah aku memintamu mengantarnya?”


“Biar aku saja,” tawar Evan.


“Oke terima kasih, Ibu juga terima kasih,” Thomas segera mengeluarkan kunci mobilnya tapi Evan menolaknya, ia akan membawa mobilnya sendiri.

__ADS_1


Evan pun berlalu bersama Ibu yang membantu Thomas. Saat di lobi ia berpapasan dengan Soni yang datang dengan seorang wanita yang luar biasa cantik, dengan postur tinggi semampai seperti model. Mungkin ia setinggi Evan, tapi dengan high heel yang menjulang, gadis itu bisa menyamai tinggi Soni. Gadis muda itu berambut pirang kecokelatan dengan aksen gelombang di bagian bawahnya. Gadis itu bercelana jins panjang dengan blus warna putih dengan renda yang juga putih, dandanannya sangat simpel tapi entah kenapa terlihat luar biasa dan sangat berkelas saat di kenakan oleh gadis itu, apalagi saat Evan melihat tas hitam yang dijinjing gadis itu, meski awam, ia bisa mengenalinya sebagai tas mewah hanya dengan melihatnya saja.


“Thomas di mana?” tanya Soni pada Evan. Wanita itu ikut memandang Evan dengan mata birunya yang tajam. Evan bisa merasakan aura membunuh dari tatapan itu, hanya tatapannya saja membuat hati Evan keder.


“Ia masih di depan unit gawat darurat bersama yang lain,” jawab Evan.


“Tunjukkan!” ujar gadis itu dengan nada memerintah.


Evan tentu saja terkejut, sungguh arogan. Tapi ia memilih tak mempermasalahkannya. Ia lantas meminta Ibu yang akan di antarnya untuk menunggu sebentar. Dan beralih mengantar Soni dan gadis cantik itu.


Saat tiba di sana, Evan bisa melihat bahwa Thomas sangat terkejut melihat siapa yang datang. Mungkinkah wanita ini pacarnya? Ah, Thomas belum menyelesaikan urusannya malah beralih ke Ana, sekarang apa yang terjadi pada Ana selanjutnya, juga bayinya, batin Evan.


Thomas berdiri menymbut mereka. Tapi alih-alih sambutan yang baik.


“Plak...!” tamparan keras dipipi THomas terdengar nyaring di seantero lorong. “Plak...!” gadis itu menampar Thomas untuk kedua kalinya, Thomas telah mendapatkan tamparan di kedua pipinya.


Evan bisa merasakan sakitnya tamparan itu hanya dari suaranya, tapi ia cukup terkejut saat melihat Thomas tak sedikit pun mengeluh meski kedua pipinya memerah.


“Apa yang kamu lakukan pada Ana ku!” seru Chaty pada Kakaknya sambil mengayunkan tas yang di pegangnya. “buagh... buagh...” Chaty memukuli Kakaknya tanpa ampun sampai perawat berhamburan ke arah mereka dan meminta bagian keamanan mengusir mereka. Alhasil, Thomas dan Chaterine harus keluar dari bangunan rumah sakit dan tidak boleh masuk kembali sampai mereka bisa menjaga emosi mereka.


“Namanya Chaterine, adik Thomas dan juga sahabat Ana,” terang Soni pada mereka yang kebingungan dengan aksi penyerangan itu. Penjelasan Soni menjelaskan semuanya, gadis itu adalah Chaty yang pernah Ana ceritakan pada mereka.


Evan hanya menggeleng tak percaya, ternyata ia telah salah kira gadis itu sebagai pacar Thomas.


🌺🌺🌺


Terima kasih bagi yang sudah menulis ucapan selamat tahun baru untuk Author. Kalian bisa melihatnya lagi saat tahun baru untuk mengambil puch dari Noveltoon.


Bagi yang belum, cukup klik tulisan di bawah deskripsi cerita Anna Hug Me.


Selamat membaca,


Selamat liburan.

__ADS_1


 


__ADS_2