
🌷🌷🌷
Ana sedang membersihkan kebun saat Evan datang pagi ini. Apakah Evan datang sepagi ini sedang mencoba merayunya? Batin Ana.
Evan malu-malu mendekat ke arahnya. Ana melihatnya sekilas sambil melanjutkan pekerjaannya, lagipula Ana tinggal menyiram kebunnya saja. Ana menanam bunga-bunga didepan rumahanya untuk proses healing. Pekerjaan yang membuatnya berkeringat memudahkannya tidur di malam hari, Ana masih sesekali bermimpi kejadian malam itu. Ana harus mengisi memorinya dengan sesuatu yang indah-indah untuk mengganti memori yang menyesakkan itu.
"Ana... " Panggil Evan, kulit coklatnya nampak berkilat karena tubuhnya yang berkeringat. Ana sedikit bertanya-tanya kenapa Evan terlihat sangat basah.
"Sebentar lagi aku selesai, tinggal menyiramnya saja" Jawab Ana sembari meraih selang.
"Biar aku saja" Kata Evan sambil meraih selang dari tangan Ana.
"Oke, baiklah aku akan menyiapkan minum" Jawab Ana sambil berlalu
Evan menghela nafas, ia menyesal telah jujur pada Ana semalam. Setelah berenang di pantai sampai lelah pagi ini, Evan memutuskan akan menanyakannya terus terang pada Ana. Jika Evan membiarkan Ana menggantungnya maka persahabatan merekalah yang akan di pertaruhkan.
Ketika Evan melihat Ana sudah berada di teras membawa makanan ringan dan minuman Evan lantas menyudahi kegiatan menyiramnya.
"Ana apa aku semalam mengatakan sesuatu, aku mabuk. Aku mungkin tak mengingatnya " Kata Evan memulai percakapan.
"Semalam kita minum bir rendah alkohol. Aku tahu kamu tidak akan mabuk semudah itu, sekarang katakan terus terang" Kata Ana tegas.
Evan semakin tidak nyaman. Seharusnya perasaan cinta ini tidak perlu muncul, lihatlah mereka menjadi sangat canggung saat ini.
"Ah baiklah, sebenarnya aku... Aku menyukaimu Ana, sudah lama aku menyukaimu. Maukah kamu menerima perasaanku" Kata Evan jujur.
Ana hanya bisa menghela nafas. Jika masa lalunya tidak se kompleks itu Ana dengan senang hati akan menerimanya. Tapi, Ana saat ini Ana yang berbeda ia sudah bukan Ana yang dulu lagi. Bisakah aku menerima cinta Evan dengan keegoisan ku. Ana mungkin akan menjadikan Evan sebagai pelampiasan. Sebagai sahabatnya Ana merasa kejam jika harus menerima cinta Evan dengan alasan yang asal-asalan itu.
"Aku belum bisa melupakan masa laluku, aku minta maaf Evan, aku tidak akan menerimamu hanya untuk pelarian ku, kamu berhak mendapatkan yang lebih dari itu"
"Tak apa meski sebagai pelampiasannmu, aku akan tetap menyukaimu dan aku akan berusaha membuatmu menyukaiku"
"Jangan gila Evan, jangan pernah bermain main dengan perasaan" Jawab Ana marah.
"Biarkan aku mencobanya" Pinta Evan.
"Maksdnya? " Tanya Ana.
"Beri aku waktu satu bulan saja. Aku akan melakukan semua yang ku bisa untuk membuatmu melihatku"
"Ah tapi... " Ana merasa sedikit sedih melihat Evan memohon, sebagai temannya Ana sungguh tak tega untuk menolaknya, tapi Ana juga tak sanggup membuat Evan berharap.
"Katakanlah iya, meski pada akhirnya kamu tidak memilihku, aku tetap bisa membantumu melupakan masa lalumu itu. Kumohon, hanya satu bulan saja, jika pada akhirnya hatimu tetap tidak tergerak maka aku janji aku akan menyerah"
Ana memandang Evan, mata coklatnya terlihat penuh harap dan memohon. Apakah tidak apa meminta Evan untuk menyembuhkannya. Bukankah pada akhirnya yang paling tersakiti adalah Evan. Tapi tanpa mencoba Evan pasti akan merasa kecewa. Aih, seperti makan buah simalakama.
"Menyerahlah Evan. Pada akhirnya nanti kamulah yang paling tersakiti" Saran Ana.
"Aku lebih baik sakit setelah mencobanya daripada tidak berusaha sama sekali".
Evan yang keras kepala membuat Ana akhirnya mengangguk mengiyakan. Melihat Ana menyetujui usulnya. Evan terlihat bahagia sambil memegang tangan Ana dan mengusapnya lembut.
"Terimakasih, aku akan memulainya besok. Oke besok ya, jangan lupa. Dan jangan kabur Oke!" Ujar Evan sambil bersiap pergi. Senyum tak henti menghiasi wajahnya. Bahkan matanya pun berbinar penuh senyuman.
"Kamu sudah mau pergi? " Tanya Ana spontan. Ana juga sedikit terkejut telah menanyakannya.
"Kamu mau aku tetap tinggal? " Sahut Evan sambil memamerkan senyumnya yang menawan.
Ana hanya menggeleng sambil tertawa menyadari betapa tak sabarnya dirinya.
"Aku harus menyelesaikan proyek pabrik pengolahan ikan ku, karena dalam minggu-minggu ini pabrik sudah memulai produksi. Namun jangan khawatir meski aku sibuk, tetap saja kamu adalah prioritas utamaku. Oia, Jangan segan menghubungiku jika terjadi sesuatu. " Jawab Evan panjang lebar.
__ADS_1
Ana manggut-manggut sambil memandang Evan yang bersemangat.
"Ya sudah pergilah, aku mendoakanmu" Kata Ana.
"Terimakasih, Ana. Kali ini aku kesini sebagai sahabatmu. Esok aku kan datang sebagai gebetanmu. Hahahah... " Kata Evan sambil berjalan ke mobilnya.
Ana memandangnya sampi benar-benar pergi barulah merenungi diri sendiri.
"Apakah keputusan yang ku ambil benar?Entahlah mungkin aku yang egois. Tapi Tuhanku, aku benar-benar ingin bahagia" Gumam Ana.
"Sangat gerah. Aku harus mandi dulu" Ujar Ana sambil merapikan gelas dan piring di meja dan menutup pintu, Ana tak ingin menerima tamu saat ia sedang mandi.
Ana memandang pantulan badannya di cermin dan melihat tubuhnya dengan teliti. Apakah ada perubahan yang menonjol di tubuhnya. Saat ini ada satu kekhawatiran yang masih menggelayuti benaknya. Tentu saja tentang kemungkinan kehamilan yang tak di inginkan akibat perbuatan Thomas malam itu. Ana sudah lama berusaha tak memikirkannya, tapi setelah menstruasinya telat, hal itu memaksa Ana sedikit risau tentang ini.
Ana terbiasa mencatat siklus menstruasi nya. Saat ini Ana sudah telat seminggu lebih . Belum ada tanda aneh di tubuhnya, Ana juga belum merasakan tanda tanda spesifik yang mengarah kesitu namun kenapa menstruasinya belum datang. Apakah aku se stress itu sampai hormon ku terganggu. Ya mungkin saja. Batin Ana sambil meneruskan mandinya.
Ana belum sempat berganti bakaian saat pintu rumahnya di ketuk beberapa kali. Ana menghela nafas. Dengan ter buru-buru Ana memakai pakaian rumahan dan bergegas membuka pintu.
Ana sedikit menyesal saat membuka pintu namun apa hendak dikata waktu seolah berhenti sejenak hanya demi moment ini. Ana ternganga tak percaya melihat Theo Natanael Maxwell sedang berdiri di depan rumahnya.
🌷🌷🌷
Jika Theo boleh memutar waktu kembali, ia ingin kembali ke malam itu, malam dimana Theo menolak penjelasan Ana dan membiarkan gadis itu menanggungnya seorang diri.
Kali ini bukti lain telah di dapati Theo, setelah semua kemarahannya reda dan rasa kekecewaannya pada Ana berkurang Theo meminta tim detektif nya untuk mencari tahu kejadian malam itu secara netral. Theo percaya Mamanya tak akan membohonginya, tapi Theo masih menolak percaya bahwa Ana mengkhianatinya.
Theo mendapati rekaman saat Thomas menjemput Ana, gestur Ana telah menjelaskan semuanya. Saat Thomas memakai masker sebelum masuk mobilnya juga Ana yang tak sadarkan diri saat tiba di hotel. Semua terlihat jelas.
Reputasi Thomas yang playboy serta sikap posesif Thomas pada Ana. Ekspresi Chaterine saat menanyakan tentang Ana dan kemarahan Chaty saat mempertanyakan keputusan Theo bertunangan dengan orang lain. Semua baru jelas di mata Thomas. Sayangnya semua itu telah terlambat.
Theo baru menyadarinya saat ia baru saja mengumumkan pertunangannya dengan Wendy secara umum. Nasi telah menjadi bubur. Ada dua perusahaan yang di pertaruhkan, ada nasib ribuan karyawan yang ikut di pertaruhkan . Theo tak kuasa merubah keputusannya, bahkan tak adil juga bagi Wendy saat Theo sendirilah yang telah menyetujuinya meski dengan kemarahan dalam keputusannya saat itu. Theo merasa semua hal yang terjadi karena kebodohannya sendiri. Theo sadar bahwa ia tak bisa mengulang kembali kisahnya dengan Ana tapi Theo berutang maaf pada gadis itu.
Apakah hatinya akan sanggup melihat Ana yang pernah di cintainya. Ana masihlah menjadi pemilik ruang di hati Theo. Melihat Ana pasti akan menyakiti perasaan Theo secara psikis. Tapi Theo ingin melihat keadaan Ana. Apakah gadis itu baik-baik saja.
Theo mengetuk pintu berulang kali. Namun suasana sangat sepi. Theo mencoba lagi mengetuk pintu. Kali ini ada sahutan dari dalam rumah.
"Ya... "
Theo mengenali suara Ana. Detak jantungnya makin kencang saat suara langkah kaki mendekati pintu. Theo mundur sejenak. Hatinya sedikit takut tak bisa mengantisipasinya.
Klik
Suara kunci di putar.
Theo memegang tangannya yang gemetaran sambil mengambil nafas sesuai hitungan untuk menenangkan diri.
Begitu pintu di buka Theo lantas membeku di tempat. Theo seolah tak percaya saat melihat Ana berdiri di depannya dengan rambut basahnya. Ana memakai kaos pendek warna coklat dan rok canda motif floral yang cantik. Wajahnya terlihat segar karena habis mandi. Bau semerbak shampo yang di gunakan Ana menyeruak mengganggu konsentrasi Theo. Theo menelan ludah, ternyata keberadaan Ana masih begitu mempengaruhinya. Apalagi Theo melihat rambut Ana sudah memanjang. Theo terpaku melihat betapa cantiknya Ana.
Theo melihat bahwa Ana pun terkejut dengan kedatangannya. Tangan Ana *** daun pintu dengan erat. Wajah Ana langsung mengeras menahan emosinya. Ana pun tak kuasa berkata kata. Mereka berdua seolah sejenak menghentikan waktu untuk saling berpandangan melepas emosi yang tak bisa di ungkapkan.
Ana melihat Theo yang berdiri di depannya dengan mata berkaca-kaca. Emosi yang bertumpuk tumpuk membuat Ana ingin menangis saat itu juga. Kumohon jangan menangis disini. Kumohon. Batin Ana. Tapi tentu saja Ana tak bisa menahan air matanya.
Air mata Ana tak terasa telah menetes di pipinya. Theo yang melihat itu secara refleks tanpa sadar telah melangkah kedepan ingin memeluk Ana. Tapi Ana lebih cepat. Ana menutup pintunya untuk Theo.
"Pergilah" Pinta Ana sambil menangis.
🌷🌷🌷
Ana tak mempercayai apa yang dilihatnya. Baru kemarin malam Ana menangisi pria ini karena berita pertunangannya yang menghebohkan, sekarang pria ini telah berdiri di depannya.
Theo Nathanael Maxwell. Mantan tunangannya. Ana tak kuasa menahan emosinya sampai tak bisa menahan air matanya. Ana sudah berjanji untuk tak menangisi pria ini tapi sepertinya Ana harus mengingkari janjinya.
__ADS_1
Ketika air mata Ana menetes di pipinya detik itu pula Theo hendak maju ke arahnya. Ana lantas dengan cepat menutup pintu.
"Pergilah... " Pinta Ana. Untunglah meski Ana tak mengunci pintunya, Theo tidak menerobos masuk.
Ana menangis sesenggukan di balik pintu, melihat Theo cukup menyakiti hatinya. Theo yang seharusnya menjadi tempat Ana bersandar bahkan menolak mendengar penjelasannya saat itu. Jadi untuk apa Theo datang saat ini.
Setelah cukup lama menangis Ana memberanikan diri membuka pintu. Pasti Theo telah pergi. Namun ternyata dugaan Ana salah. Theo masih berada di teras rumahnya. Duduk termenung di kursi. Theo sedikit tersentak saat Ana tiba-tiba membuka pintu rumah.
Meskipun aku ingin lari tapi lebih baik bagiku untuk menghadapinya. Gumam Ana. Maka dari itu Ana lantas membuka lebar pintu rumahnya dan memberi isyarat pada Theo untuk masuk. Theo tanpa banyak bicara menurut masuk.
Ana menyuguhkan segelas air putih pada Theo, dan membuka toples berisi gorengan keripik teripang khas pesisir pantai. Meski Ana menyuguhkan makanan tapi Ana tidak mengucap sepatah katapun. Tak juga untuk mempersilakan Theo mencicipinya.
Keduanya lantas diam. Ana juga tak ingin tahu apalagi bertanya bagaimana bisa theo berada disini. Sesuatu tentang Theo telah berada di luar kapasitas Ana.
"Bagaimana kabarmu? " Tanya Theo memecah keheningan.
"Aku.... Lupakanlah basa basi, katakan untuk apa kamu kesini." Sahut Ana menolak berlama-lama berada satu ruangan bersama Theo. Jika cerita mereka tidak berakhir seperti ini, saat ini Ana akan sangat senang Theo bertamu ke rumahnya. Namun saat ini mata Ana telah terbuka lebar. Ana menyadari ketampanan Theo seolah tak layak berada di tempat kumuh ini. Dulu Ana telah di butakan cinta, Ana merasa ia sebanding dan layak untuk Theo. Baru kali ini Ana sadar bahwa level mereka ternyata sangat jauh.
"Aku minta maaf, malam itu aku tak mendengarkan penjelasanmu, dan lebih memilih kemarahan yang menguasaiku. Setelah investigasi mendalam aku baru tahu ternyata kamu adalah korban sesungguhnya dari kejadian ini. Aku minta maaf"
"Permintaan maafmu seolah tak berarti lagi saat ini. Karena aku tahu semua sudah tak bisa kembali lagi ke masa lalu. Meski begitu iya aku memaafkanmu. Sekarang pulanglah. " Kata Ana datar.
"Maafkan aku selama ini. Aku mengetahui batasan ku, hidupku bukanlah milikku sendiri, aku satu-satunya putra Mamaku, aku tak bisa mengabaikannya jadi aku percaya saja apa kata Mama. "
"Aku mengerti. Tak apa, aku baik-baik saja. Aku juga akan membuka hatiku dan mulai berkencan. " Jawab Ana sembari mengulas senyum. Meski belum bisa tersenyum tulus tapi Ana benar-benar berusaha memahami masalah ini dari perspektif Theo.
"Asal kamu tahu Ana, aku sama sekali tak menyesali pertemuan kita. Aku benar-benar menyukaimu, bahkan sampai detik ini "
"Terimakasih, aku juga bersyukur pernah mengenalmu" Ujar Ana sambil berkaca-kaca. Theo adalah pria pertama yang bisa membuatnya merasakan semua pengalaman di cintai setelah sekian lama.
"Lantas bagaiamana dengan Thomas. Kenapa kamu memaafkannya dengan mudah? " Tanya Theo heran sekaligus marah.
"Aku tak sanggup marah lagi, hidupku sudah berakhir di tangan Thomas. Ia membuatku kehilangan segalanya. Ia membuatku kehilangan malam pertamaku, kehilangan sahabatku dan kehilanganmu. Padahal Thomas sudah ku anggap sebagai kakakku. Apa yang bisa ku lakukan dengan itu. Meskipun aku menolak memaafkannya akankah ada yang berubah. Malam pertamaku telah tiada, sahabatku pun tak ada dan kamu pun menolak percaya. Sudahlah semua sudah berlalu"
"Aku mengira kamu mengkhianatimu, aku sangat marah rasanya aku sampai tak bisa berfikir lagi. Tapi ternyata aku salah. Ana kamu tetaplah yang terbaik. Ana ku mohon kembalilah padaku. Aku tetap ingin menikahimu"
"Hahahha.... Menikahiku? Maaf aku menolaknya. Malam itu aku sudah memutuskan untuk mengakhiri semua hal tentangmu" Theo terdengar sangat konyol. Bisakah otaknya berfikir jernih. Baru beberapa hari ia bertunangan dengan hebohnya, saat ini malah datang ingin kembali. Ana jadi semakin mantap mengakhiri hubungan dengan cowok plinplan ini.
"Aku tak peduli dengan malam pertama. Aku tetap bisa menjadi malam malammu yang berikutnya. "
"Sudahlah Theo tak perlu bermimpi lagi. Kamu sudah berkomitmen sekarang. Tak perlu lah membuatnya nyonya muda Sea merasakan sepertiku dan membuat semua keluargamu menjadi bahan lelucon"
"Ana... " Theo tak bisa berkata lagi. Kebaikannya malah membuat Theo merasa bersalah. Tak heran jika Thomas harus berakhir di rumah sakit karena kebaikan Ana.
"Tak apa" Ujar Ana menenangkan. Meski bukan saat ini, Ana percaya kebahagiaannya akan datang juga.
"Bagaimana dengan Chaterine? Ia menemuiku untuk mencarimu. Haruskah aku memberitahunya keberadaanmu?"
"Tak perlu"
"Baiklah kalau begitu. Sekali lagi aku minta maaf. Aku akan pamit sekarang " Kata Theo.
"Tunggu sebentar" Ana ke kamarnya mengambil sesuatu.
Sebelum Theo pergi. Ana menyerahkan cincin tunangannya dulu pada Theo.
"Bawalah pergi. Aku ingin kita berpisah dengan baik dan tidak saling membenci "
Theo menerimanya tanpa protes. Meski dalam hatinya seolah Ana telah mencampakkannya namun Ana benar akan satu hal. Dulu mereka saling menyukai maka tak betul jika mereka berakhir saling membenci. Ana sungguhlah gadis yang baik.
🌷🌷🌷
__ADS_1